Pendaftaran Haji tahun 2010 terus berjalan, semakin hari kuota yang tersedia terus berkurang. Jika ingin berangkat haji mesti daftar sekarang juga, agar tidak kehabisan kuota. Adapun pesyaratanya, SAHID TOUR telah bekerja sama dengan BSM (Bank Syariah Mandiri). Dengan membayar DP 1000 US, memperoleh kuota. Selebihnya dapat dicicil sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hubungi SAHID TOUR, 08123470831- 0341351469. Abd.Adzim
Latest Updates RSS
-
qosdie
-
qosdie
Ali ibn Abi Thalib
Menantu Nabi, sekaligus lelaki sejati keturunan bani Hasyim yang menjadi kholifah yang ke-empat ini sangat istimewa. Ali terkenal dengan’’ Kucinya ilmu’’, sedangkan Nabi s.a.w sendiri disebut dengan ‘’Gudangnya Ilmu’’. Sang menantu Nabi s.a.w sangat mencintainya istrinya. Ia juga tidak pernah berpoligami selama membina keluarga dengan ‘’Fatimah al-Zahra’’. Karena Ali memeluk islam sejak usia belia, maka ia-pun dikenal dengan ‘’Karromahu Wajhahu’’.
Segudang cerita, dan kisah menarik yang telah dialami oleh Ali ibn Abi Tholib. Di bawah ini beberapa cerita menarik yang terkait dengan kehidupan Begawan dari Makkah.
Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyabut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.
Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun.”Fatimah menyahut sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala.”
“Terima kasih,” jawab Ali.
Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat berjama’ah.
Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. “Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?”
Áli menjawab heran. “Ya betul. Ada apa, Tuan?’
Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, “Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.”Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.Ali pun bergegas berangkat ke pasar.
Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.”
Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu. Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya.Fatimah, masih dalam senyum, berkata, “Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita.”
-
qosdie
Nabi Muhammad sebagai teladan, telah memberikan contoh kepada pengikutnya bahwa setiap apa yang dilakukan mempunyai tujuan mulia. Poligami selalu menjadi polemik, padahal poligami sudah ada sejak sebelum islam, seperti; Arab, China, India, Babilonia, Yahudi, serta oang-orang masehi (nasrani). Bahkan, dalam sebuah ajaran “likhe”, membolehkan seorang laki-laki berpoligami sampai 130 wanita (al-Mar’ah baina al-Fiqhi wa al-Qonun, 48-Dr.Mustafa al-Sibhagi). Diera modern, masih banyak kalum lelaki menikahi wanita dengan jumlah besar, sekitar 94 (Surya, Jum’at;20 Desember, 2008), hanya saja tujuanya berbeda dengan Nabi. Kyai Mashurat juga berpoligami dengan 10 wanita, bahkan sebagian dari istrinya di bawah umur. Jika ditelusuri, jumlah orang yang melakukan poligami masih sangat signifikan, akan tetapi jarang terekspos oleh media.seorang ulama’ besar Sayyid Muhammad Alawi, penulis kita “Muhammad al-Kami” , kemuddian A’a Gym (MQ), Puspo Wardoyo seorang pengusaha (Resto Ayam Bakar Wong Solo), Bapak Syukur (tukang Becak) di Jalan KH. A.Dahlan II-Malang. Istri-istri mereka merasa bahagia, dan bangga dengan sang suami, karena merasa telah tercukupi kebutuhan lahir dan batin.berpoligami dengan empat istri. Walaupun ada sebagian orang yang berpoligami berahir dalam duka, tetapi yang jelas poligami tidak akan pernah hilang.
Islam membolehkan poligami, dengan catatan bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya(al-Nisa’ 3), dalam ayat lain diterangkan bahwa, adil sangat sulit dilakukan oleh seorang suami terhadap istri-istrinya. Dr. Mustafa al-Sibgagi menyampaikan” sesungguhnya poligami itu mesti adil terhadap istri-istrinya, barang siapa yang yakin bahwa dirinya tidak bisa berbuat adil, maka hendakanya cukup dengan seorang istri, namun apabila menikah dengan waita lain, maka syah hukumnya, tetapi hal itu merupakan perbuatan dosa”. Oleh karena itu, ketika Nabi isr’a mi’roj, beliau diperlihatkan seorang laki-laki yang berjalan dengan miring, setelah berdialog dengan Jibril, ternyata laki-laki itu sebuah gambaran bahwa kelak ada seorang lelaki dari umat Muhammad yang berpoligami, tetapi tidak bisa berbuat adil.
Islam tidak pernah melarang poligami, bukan berarti apa yang dilakukan Nabi sebuah perintah atau sunnah yang jika dilakukan dapat pahala. Padahal, poligami itu menyengsarakan kaum wanita. Oleh karena itu, nabi memberikan Rambo-rmabo, agar para pelaku poligami tidak berbuat semena-mena, atau mengatasnakan sunnah Nabi. Poligami yang sunnah ialah, dengan tujuan menolong wanita, sebagaimana Nabi menikahi Saudah binti Zam’ah.
Jjangan sampai terjebak sunnah, yang akhirnya mengoleksi wanita cantik yang usianya masih muda. Kalau itu, pasti setiap laki-laki banyak yang mau, apalagi ada pendaftaran? Cuma, apakah wanita itu mau dipoligami?
Jika orang islam melakukan poligami karena birahi, memang itu sangat wajar, apalgi laki-laki itu sehat jasmaninya dan sehat kantongnya. Tetapi, sangat tidak etis, jika mengatakan bahwa ini adalah ibadah sunnah, meneladani kanjeng Nabi Muhammad S.a.w. Justru, kalimat itu terjebak pada’’ Kolektor wanita cantik’. Jika orang islam memiliki banyak istri, apa bedanya dengan seorang Yahudi yang bernama “Goel Ratzon’’ yang memiliki wanita simpanan sekitar 32 istri, dengan 89 anak (Surya; 17 Januari, 2010.
-
qosdie
ILMU BALAGHAH SEBAGAI CABANG
Pesona wanita sejak dulu hingga sekarang sebetulnya tidak pernah berkurang atau bertambah, hanya tentu saja pada jaman sekarang peranan wanita yang lebih bervariasi. Di dalam pola kehidupan masyarakat saat ini posisi wanita semakin menonjol untuk dibicarakan dan dibahas (terutama oleh kaum lelaki). Ini di sebabkan banyaknya media, seperti Majalah Wanita, Tabloid, TV, internet, serta alat tehnologi lainya. Media-media itu mengangkat wanita sebagai ikon, sehingga membuat wanita semakin menarik untuk diperbincangkan.
Membicarakan sosok wanita tidak bisa terlepas dari kencantikan, keindahan, kemoekan, serta cara berbusananya, bahkan akhir-akhir ini, wanita juga ikut serta dalam percaturan politik serta serta intelektualitasnya. Nampaknya akan terlihat aneh apabila menggambarkan seorang wanita tanpa tambahan komentar khusus mengenai keindahan ataupun paras wajahnya. Semua cerita sinetron, cerpen, film, lagu, syair, buku, bahkan iklan akan menjadi menarik tatkala wanita muncul sebagai ikonya.
Walaupun begitu dari abad ke abad, dari jaman kecantikan khas (Nefertiti permaisuri raja Mesir “Fir’aun“) serta simbol kecantikan Mesir’’ Kleopatra’’ tidak pernah lenyap dari bingkai sejarah seputar wanita. Di jaman kerajaan Jawa, kita mengenal wanita tercantik nan mempesona, dialah ”Kendedes yang di persunting KenArok‘‘. Yang kemudian menjadi simbol kota Malang.
Hingga jaman modern, yang sering dianggap sebagai abad molenium atau “Internetisasi” dan Globalisasi ini, wanita tetap dianggap sebagai makhluk yang menyimpan berjuta misteri, terkadang terlihat menarik untuk diraih, namun sulit untuk ditaklukkan.
Bahkan yang lebih menunjukkan kekuasaan kaum wanita saat ini adalah dunia busana, dan mode. Namun di saat wanita muncul dalam beragam budaya dan busana ternyata secara tidak di sadari apa yang mereka tampilkan sehari-hari tidak lebih baik dengan peradapan jahiliyyah atau dalam bahasa lain peradapan jahilyah modern.
Dan ini telah berkembang di tenggah-tenggah umat Islam, tetapi kita tidak terasa ternyata pemandangan serta pola fikir umat islam telah di pengaruahi dengan budaya barat, dari berbagai segi, budaya, mode, sosial politik, inteleqtualitas. Dari segi mode dan busana, seringkali sulit untuk membedakan antara laki-laki dan wanita.
- a. Wanita Sebelum Islam
Sebelum lebih jauh melanngkah, mungkin kita perlu mengetahui sedikit tentang peradapan-peradapan besar kuno, seperti, Yahudi, Yunani, Romawai, Hindu, Budha dan China, bagaimana kedudukan seorang perempuan dalam rumah tangga dan masyarakat.
Yunani salah satu peradapan yang tertua dan terkenal dengan filosofnya, mereka menganggap bahwa perempuan itu adalah sebagai pemuas nafsu biologis. Mereka menjual dan memperlakukan perempuan dengan sangat sadis dan terhina. Peradapan Romawi tidak lebih baik dengan Yunani, bahkan lebih ironis, sebab di samping sebagai pemuas nafsu, perempuan juga tidak mempuyai hak apa-apa bahkan mereka berhak melakukan apa saja seperti membunuh, menyiksa, dan menjualnya.
Begitu pula Hindu dan China, mereka memperlakukan wanita dengan sadis dan memperihatinkan. Seorang istri harus rela di bakar-hidup hidup, sebagai bukti kesetiaan terhadap sang suami. Ternyata, ini masih di praktekan oleh sebagian rakyat India sampai saat ini.
Begitu juga peradapan Arab Jahiliyyah kuno, seorang Ibu harus mengubur bayi perempuanya dalam keadaan hidup-hidup. Karena sang kepala rumah tangga (ayah) menganggap bahwa wanita itu dianggap sebagai sosok yang lemah dan tidak berdaya. Wanita tidak bisa melanjutkan melanjutkan cita-cita seorang ayah, malahan menjadi beban materi dan psiologis. Al-Qur’an memberitakan dengan jelas seputar wa’dil Banat (mengubur bayi dalam keadaan hidup-hidup[1]). Peradapan-peradapan besar yang lain tidak lebih baik dari pada yang di sebutkan di atas.
Islam Agama yang sempurna dan Syamil (Universal) memberikan konsep yang sangat jelas bagi semua umat manusia, bahkan jin. Islam datang untuk semuanya bukan untuk kelompok tertentu dan melindunggi kaum tertentu, dan tidak mengenal diskriminasi, serta tidak membedakan suku, bahasa, ras, warna kulit.
Islam juga sangat adil, tidak pernah membedakan antara laki-laki dan wanita dalam memperoleh perlindungan hukum, serta hak dan kewajiban sebagai hamba-Nya. Al-Qur’an mengenalakan sosok Siti Maryam. Ia adalah wanita terbaik, keimanan dan ketkwaanya sangat tinggi di sisi-Nya. Kadangkala, perempuan itu lebih dulu masuk surga dan kadang sebaliknya, dan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan di hadapan Allah SWT kecuali ketaqwaanya .
Islam datang, Nabi Muhammad menjadi panutan, al-Qur,an menjadi penerang. Seiring dengan cahaya islam, al-Qur’an, dan Muhammad, posisi wanita lebih tinggi dan dihormati dari pada masa sebelumnya. Dan ini adalah karakteristis Islam, yang membedakan dengan agama dan keyakinan lain.
Dari sejak dibawa oleh Nabi s.a.w ajaran islam tidak pernah berubah. Bahkan pada masa internetisasi dan globalisasi, islam tetap komit dan konsekwen dengan ajaranya dan tetap relevan sampai sekarang dan masa akan datang.
Semua peradapan akan di musnahkan secara biologis seperti kaum lut, Samud, A’ad, Firaun. Mereka semua digantikan dengan kaum yang baru, karena mendustakan Allah SWT. Kecuali Islam yang tak pernah mati selamanya” Islam never die forever ”.
Rosulullah s.w.t menjadi teladan, beliau menikahi istri-istrinya dengan tujuan mulya, yaitu mengangkat derajat seorang kaum wanita lebih tinggi, bukan sebaliknya. Tidak sedikit, orang mengatakan menikahi wanita (poligami), dengan mengatasnamakan sunnah Nabi serta mengangkat derajat wanita. Tapi, realitasnya wanita hanya menjadi pemuas nafsu, dan mereka menjadi sengsara hidupnya.
[1] . Wa’dil Banat (mengubur bayi dalam keadaan hidup), ini istilah al- Qur’an didlalam mengambarkan masyarakat Jahilyah kuno. Jika dianalogikan dengan masyarkat jahilyah modern,, sekarng sering ditemukam orang tua membunuh ankanya dengan Cara Aborsi, adalagi dengan Cara mutilasi, bahkan dijual untuk sesupa nasi -
qosdie
Susahnya Sakit Di Negeri Ini Indonesia termasuk Negara berkembang, konon cirri khas Negara yang berkembang ialah, masyarakatnya kemaruk. Jika jaman dulu orang terbiasa makan yang dibuat dari Gaplek, seperti Tiwul, Gatot, Sawut, Lemet, Jembleng, kripik, Sedangkan jenis makanan yang berasal dari Jagung, seperti Bulgur, Bledus, dan masih banyak lagi jenis makanan tradisional lainya . Sekarang, jenis makanan di atas sangat sulit itu di dapatkan, bahkan terkesan menjadi barang langka. Memasuki dunia modern, jenis-jenis makanan di atas sudah tidak ada yang berminat, bahkan jarang sekali generasi muda yang tahu namanya. (More …)
-
qosdie

Bulan Shofar adalah bulan kedua dalam penaggalan hijriyah.Orang Jahiliyah kuno sering mengatakan bahwa bulan Shofar adalah bulan sial. Bahkan, di dalam dunia modernpun, masih banyak yang meyakini bahwa bulan Muharram (al-Syura’) dan Shofar. Memang benar, pada 10 Muharram (al-Syura’) banyak insiden menimpa para Nabi, sahabat, dan para ulama’. Sehingga, banyak orang yang mengira bahwa membuat acara, seperti mantu (akad Nikah), bangun rumah, akan menimbulkan dampak yang negative.

Terlebas dari beragam pendapat yang berkembang, para ulama’ sholih pernah mengatakan:[1]’’ Sesungguhnya di dalam bulan shofar akan turun sebuah bala’ (musibah) besar pada hari Rabo.[2] Musibah itu akan diturunkan pada hari tersebut. Agar supaya terhindar dari musibah itu, para ulama’ memberikan panduan praktis do’a sebagai berikut:
Konon, ketika kaumnya Nabi Nuh a.s, dan juga A’ad dan tasmud yang ingkar dengan siksaan putting beluang yang sangat memilukan. Konon, agin yang kencang (sorsor) sangat dingin, menusuk hinga tulang sumsum. Apa yang menimpa mereka, sebuah akibat dari sifat kesombongan, dan tidak mempercayai keberadaan tuhan.
Menurut sebagian riwayat, kaum Nabi Nuh a.s memperoleh dua siksaan yang berturut-turut (mustamir):
- Pembalasan Tuhan terhadap kaum Aad yang kafir dan tetap membangkang itu diturunkan dalam dua perinkat. (1) Tahap pertama berupa kekeringan yang melanda ladang-ladang dan kebun-kebun mereka, sehingga menimbulkan kecemasan dan kegelisahan, kalau-kalau mereka tidak memperolehi hasil dari ladang-ladang dan kebun-kebunnya seperti biasanya.Dalam keadaan demikian Nabi Hud masih berusaha meyakinkan mereka bahawa kekeringan itu adalah suatu permulaan seksaan dari Allah yang dijanjikan dan bahwa Allah masih lagi memberi kesempatan kepada mereka untuk sedar akan kesesatan dan kekafiran mrk dan kembali beriman kepada Allah dengan meninggalkan persembahan mrk yang bathil kemudian bertaubat dan memohon ampun kepada Allah agar segera hujan turun kembali dengan lebatnya dan terhindar mrk dari bahaya kelaparan yang mengancam. Akan tetapi mereka tetap belum mahu percaya dan menganggap janji Nabi Hud itu adalah janji kosong belaka. Mereka bahkan pergi menghadap berhala-berhala mereka memohon perlindungan ari musibah yang mereka hadapi.
- Tentangan mereka terhadap janji Allah yang diwahyukan kepada Nabi Hud segera mendapat jawapan dengan dtgnya pembalasan tahap kedua yang dimulai dengan terlihatnya gumpalan awan dan mega hitam yang tebal di atas mereka yang disambutnya dengan sorak-sorai gembira, karena dikiranya bahwa hujan akan segera turun membasahi ladang-ladang dan menyirami kebun-kebun mereka yang sedang mengalami kekeringan.
Melihat sikap kaum Aad yang sedang bersuka ria itu berkatalah Nabi Hud dengan nada mengejek: “Mega hitam itu bukanlah mega hitam dan awam rahmat bagi kamu tetapi mega yang akan membawa kehancuran kamu sebagai pembalasan Allah yang telah ku janjikan dan kamu ternanti-nanti untuk membuktikan kebenaran kata-kataku yang selalu kamu sangkal dan kamu dusta. Sejurus kemudian menjadi kenyataanlah apa yang diramalkan oleh Nabi Hud itu bahawa bukan hujan yang turun dari awan yang tebal itu tetapi angin taufan yang dahsyat dan kencang disertai bunyi gemuruh yang mencemaskan yang telah merusakkan bangunan-bangunan rumah dari dasarnya membawa berterbangan semua perabot-perabot dan milik harta benda dan melempar jauh binatang-binatang ternak. Keadaan kaum Aad menjadi panik mereka berlari kesana sini hilir mudik mencari perlindungan .Suami tidak tahu di mana isterinya berada dan ibu juga kehilangan anaknya sedang rumah-rumah menjadi sama rata dengan tanah. Bencana angin taufan itu berlangsung selama lapan hari tujuh malam sehingga sempat menyampuh bersih kaum Aad yang congkak itu dan menamatkan riwayatnya dalam keadaan yang menyedihkan itu untuk menjadi pengajaran dan ibrah bagi umat-umat yang akan datang.
Adapun Nabi Hud dan para sahabatnya yang beriman telah mendapat perlindungan Allah dari bencana yang menimpa kaumnya yang kacau bilau dan tenang seraya melihat keadaan kaumnya yang kacau bilau mendengar gemuruhnya angin dan bunyi pohon-pohon dan bangunan-bangunan yang berjatuhan serta teriakan dan tangisan orang yang meminta tolong dan mohon perlindungan.
Setelah keadaan cuaca kembali tenang dan tanah ” Al-Ahqaf ” sudah menjadi sunyi senyap dari kaum Aad pergilah Nabi Hud meninggalkan tempatnya berhijrah ke Hadramaut, di mana ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya sampai ia wafat dan dimakamkan di sana dimana hingga sekarang makamnya yang terletak di atas sebuah bukit di suatu tempat lebih kurang 50 km dari kota Siwun dikunjungi para penziarah yang datang beramai-ramai dari sekitar daerah itu, terutamanya dan bulan Syaaban pada setiap tahun.
Allah SWT berfirman, yang artinya:’’ Kaum ‘Aad pun mendustakan(pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku, Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus. yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang. yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang” (Q.S al-Qomar (54:18-20).
Beberapa ulama’ tafsir, seperti Imam al-Bagawi menceritakan, bahwa kejadian itu tepat pada hari rabu terahir (Yaumi Nahsin Mustamir) dengan bulan Shofar.[3] Orang Jawa pada umumnya menyebut rabu itu dengan istilah Rabu Wekasan. Artiynya, pada hari itu tuhan menurunkan bergam penyakit dan musibah. Seorang Ulama’ besar yang terkenal dengan panggilan Syeh Al-Buni menyatakan, agar supaya berdo’a pada awal bulan Shofar
[1] . Ali Qudus, Muhammad. Kanju al-Najah wa al-Surur fi al-Adiyati al-Lati Tasrohu al-Sudur’’, hal 23. Seorang Imam Masjdil haram, 1280-1334 H.
[2] . Orang Jawa sering mengatakan bahwa rabu itu disebut dengan ‘’Rabu Wekasan’’ yang artinya rabu terahir pada bulan Shofar.
[3] . Al-Bagawi, Ibnu Masud. Maalimu al-Tanjiil 7/430, Dar al-Toyyibah- 1997

-
qosdie
Tidak bisa dipungkiri, bahwa haji juga bisa menjadi isu politik. Diera awal berdirinya kerajaan-kerajaan islam Jawa, kita mengenal raja-raja jawa yang bergelar dengan “ sultan”. Ternyata” sultan” ini adalah gelar hadiah dari ulama’ besar Makkah yang sekaligus menjadi Imam Masjidil Haram. Sebut saja, sultan Ageng, Sultan Agung, Sultan Hamengkubuwono, bahakn dalam sebuah literatur sejarah, raja-raja jawa mengutus sesoerang untuk menghadap sang Imam Masjidil Haram dengan meminta gelar yang pantas. Sang Imam Memeberikan gelar “ sultan” sekaligus memberikan bingkisan yang dikenal dengan istilah “kiswah Ka’bah” untuk dijadikan kenang-kenangan sekaligus jimat. Dari sini, bisa terlihat bahwa haji yang dilakukan ada nuansa politis.
Dijaman para sahabat, dalam sebuah literatur sejarah. Ternyata baitullah pernah dibongkar secara paksa oleh “ Yusuf Hajjaj at-Taskofi “, setelah ia berhasil membunuh Ibnu Jubair. Alasan yang dikemukakan, bhawa Ibnu Zubair telah merubah bentuk Baitullah yang semula berpintu satu, menjadikan dua pintu. Syeh al-Fasi menyebutkan dalam buku nya yang berjudul “ Syifaul Ghoram bi Ahbari Baitillah al-Haram’’ Ibnu Zubair membangun Baitullah karena keadaanya memang sangat memprihatinkan setelah terjadi kebakaran hebat,dinding baitullah terlihat rusak berat. Inisiatif merenovasi Baitullah Ibnu Zubair disambut oleh sebagian sahabat, dan sebagian lagi menolakanya. Setelah berdiri kokoh, Yusuf al-Tsaqofi merobohkanya dengan alasan politik. Akan tetapi, sang Kholifah “ Marwan” merasa kecewa setelah mengetahui tujuan Yusuf al-Tsaqofi, beliau berncana mengembalikan posisi Baitullah. Keiinginan Sang Kholifah tidak bisa dilaksanakan setelah mendengar Imam Malik berkata” Jangalah engkau merubah bentuk baitullah lagi, karena akan mengurangi kewibawaan baitullah”.
Nilai Politik dalam Ibadah haji sangatlah nampak, hanya saja politiknya sangat santun nan bersih, sesuai dengan nilai-nilai luhur islam. Thowaf adalah mengelilingi baitullah tujuh putaran, setiap orang yang memasuki masjidil haram maka disunnahkan melakukan “ Tahiyyatul Masjid”. Dalam keterangan hadis, setiap orang yang memasuki masjidil sangat dianjurkan melaksanakan sholat dua rakaat yang disebut dengan tahiyyatal Masjid. Sedangkan tahiyyatal Masjidil Haram adalah Thowaf tujuh putaran, Imam Nawawi mengatakan’’ Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya mengatakan” ketika memasuki masjid jangalah sibuk melakukan sholat tahiyyatul masjid atau yang lainnya, tetapi awalilah dengan melaksanakan thowaf[1]”, pendapat senada disampaikan oleh Ibnu Qudamah. Bagi jama’ah haji dan umrah, diharuskan bagi mereka untuk melakukan thowaf qudum sebagai penghoramatan terhadap Baitullah.
Jika kita renungi, thowaf dalam pelaksanaan haji atau umrah bernuansa politis. Ketika awal perjuangan islam, seringkali Nabi melaksanakan Thowaf dengan para sahabatnya. Dalam pelaksanaan thowaf, putaran tiga pertama, Nabi berlari-lari kecil, Ibnu Abbas seorang sahabat Nabi menjelaskan: Nabi berlari-lari kecil, ketika itu ada yang mengisukan bahwa Muhammad dan pengikutnya dalam keadaan payah dan lemah. Maka orang-orang musyrik Makkah mengintip untuk menyaksikan kebenaran tersebut. Kemudian Nabi beralari-lari kecil untuk menangkal isu tersebut. Kenapa hanya tiga putaran pertama, karena setelah melakukan tiga putaran pertama, ternyata para pengintip membubarkan diri[2] dalam riwayat lain, Orang kafir Qurais Makkah melihat bawa Nabi dan pengikutnya melakukan Thowaf dengan Ihram yang menutupi pundak, melihat Nabi dan pengikunya demikian, orang kafir menganggap bahwa Muhammad dan pengikitnya sangat lemah dan tidak berdaya. Untuk menangkal anggaban mereka, akhirnya Nabi memperlihatkan pundak kananya dan diiukti oleh sahabatnya. Apa yang lakukan Nabi, seprti lari-lari kecil, membuka pundaknya adalah show of force terhadap lawan-lawannya. Politik yang dilakukan Nabi bukanlah politik yang dimaksud oleh pakar-pakar politik diera sekarang ini, tetapi yang dilakukan Nabi adalah suatu aktivitas ibadah yang bertujuan memperoleh kebahagiaan duniawi dan ulkhrowi.
[1] . al-Hariri, Husain, Mahmud, Dr. ahkamu al-Masajid fi al-Isalam,330 dar-al-Rifai-Riyad,1990
[2] . Sihab, Qurais, Muhammad’ Lentera Hati206- Mizan 1997
-
qosdie
Tidak bisa dipungkiri, bahwa haji juga bisa menjadi isu politik. Diera awal berdirinya kerajaan-kerajaan islam Jawa, kita mengenal raja-raja jawa yang bergelar dengan “ sultan”. Ternyata” sultan” ini adalah gelar hadiah dari ulama’ besar Makkah yang sekaligus menjadi Imam Masjidil Haram. Sebut saja, sultan Ageng, Sultan Agung, Sultan Hamengkubuwono, bahakn dalam sebuah literatur sejarah, raja-raja jawa mengutus sesoerang untuk menghadap sang Imam Masjidil Haram dengan meminta gelar yang pantas. Sang Imam Memeberikan gelar “ sultan” sekaligus memberikan bingkisan yang dikenal dengan istilah “kiswah Ka’bah” untuk dijadikan kenang-kenangan sekaligus jimat. Dari sini, bisa terlihat bahwa haji yang dilakukan ada nuansa politis.
Dijaman para sahabat, dalam sebuah literatur sejarah. Ternyata baitullah pernah dibongkar secara paksa oleh “ Yusuf Hajjaj at-Taskofi “, setelah ia berhasil membunuh Ibnu Jubair. Alasan yang dikemukakan, bhawa Ibnu Zubair telah merubah bentuk Baitullah yang semula berpintu satu, menjadikan dua pintu. Syeh al-Fasi menyebutkan dalam buku nya yang berjudul “ Syifaul Ghoram bi Ahbari Baitillah al-Haram’’ Ibnu Zubair membangun Baitullah karena keadaanya memang sangat memprihatinkan setelah terjadi kebakaran hebat,dinding baitullah terlihat rusak berat. Inisiatif merenovasi Baitullah Ibnu Zubair disambut oleh sebagian sahabat, dan sebagian lagi menolakanya. Setelah berdiri kokoh, Yusuf al-Tsaqofi merobohkanya dengan alasan politik. Akan tetapi, sang Kholifah “ Marwan” merasa kecewa setelah mengetahui tujuan Yusuf al-Tsaqofi, beliau berncana mengembalikan posisi Baitullah. Keiinginan Sang Kholifah tidak bisa dilaksanakan setelah mendengar Imam Malik berkata” Jangalah engkau merubah bentuk baitullah lagi, karena akan mengurangi kewibawaan baitullah”.
Nilai Politik dalam Ibadah haji sangatlah nampak, hanya saja politiknya sangat santun nan bersih, sesuai dengan nilai-nilai luhur islam. Thowaf adalah mengelilingi baitullah tujuh putaran, setiap orang yang memasuki masjidil haram maka disunnahkan melakukan “ Tahiyyatul Masjid”. Dalam keterangan hadis, setiap orang yang memasuki masjidil sangat dianjurkan melaksanakan sholat dua rakaat yang disebut dengan tahiyyatal Masjid. Sedangkan tahiyyatal Masjidil Haram adalah Thowaf tujuh putaran, Imam Nawawi mengatakan’’ Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya mengatakan” ketika memasuki masjid jangalah sibuk melakukan sholat tahiyyatul masjid atau yang lainnya, tetapi awalilah dengan melaksanakan thowaf ”, pendapat senada disampaikan oleh Ibnu Qudamah. Bagi jama’ah haji dan umrah, diharuskan bagi mereka untuk melakukan thowaf qudum sebagai penghoramatan terhadap Baitullah.
Jika kita renungi, thowaf dalam pelaksanaan haji atau umrah bernuansa politis. Ketika awal perjuangan islam, seringkali Nabi melaksanakan Thowaf dengan para sahabatnya. Dalam pelaksanaan thowaf, putaran tiga pertama, Nabi berlari-lari kecil, Ibnu Abbas seorang sahabat Nabi menjelaskan: Nabi berlari-lari kecil, ketika itu ada yang mengisukan bahwa Muhammad dan pengikutnya dalam keadaan payah dan lemah. Maka orang-orang musyrik Makkah mengintip untuk menyaksikan kebenaran tersebut. Kemudian Nabi beralari-lari kecil untuk menangkal isu tersebut. Kenapa hanya tiga putaran pertama, karena setelah melakukan tiga putaran pertama, ternyata para pengintip membubarkan diri dalam riwayat lain, Orang kafir Qurais Makkah melihat bawa Nabi dan pengikutnya melakukan Thowaf dengan Ihram yang menutupi pundak, melihat Nabi dan pengikunya demikian, orang kafir menganggap bahwa Muhammad dan pengikitnya sangat lemah dan tidak berdaya. Untuk menangkal anggaban mereka, akhirnya Nabi memperlihatkan pundak kananya dan diiukti oleh sahabatnya. Apa yang lakukan Nabi, seprti lari-lari kecil, membuka pundaknya adalah show of force terhadap lawan-lawannya. Politik yang dilakukan Nabi bukanlah politik yang dimaksud oleh pakar-pakar politik diera sekarang ini, tetapi yang dilakukan Nabi adalah suatu aktivitas ibadah yang bertujuan memperoleh kebahagiaan duniawi dan ulkhrowi.Haji dan Strategi Politik?
Tidak bisa dipungkiri, bahwa haji juga bisa menjadi isu politik. Diera awal berdirinya kerajaan-kerajaan islam Jawa, kita mengenal raja-raja jawa yang bergelar dengan “ sultan”. Ternyata” sultan” ini adalah gelar hadiah dari ulama’ besar Makkah yang sekaligus menjadi Imam Masjidil Haram. Sebut saja, sultan Ageng, Sultan Agung, Sultan Hamengkubuwono, bahakn dalam sebuah literatur sejarah, raja-raja jawa mengutus sesoerang untuk menghadap sang Imam Masjidil Haram dengan meminta gelar yang pantas. Sang Imam Memeberikan gelar “ sultan” sekaligus memberikan bingkisan yang dikenal dengan istilah “kiswah Ka’bah” untuk dijadikan kenang-kenangan sekaligus jimat. Dari sini, bisa terlihat bahwa haji yang dilakukan ada nuansa politis.
Dijaman para sahabat, dalam sebuah literatur sejarah. Ternyata baitullah pernah dibongkar secara paksa oleh “ Yusuf Hajjaj at-Taskofi “, setelah ia berhasil membunuh Ibnu Jubair. Alasan yang dikemukakan, bhawa Ibnu Zubair telah merubah bentuk Baitullah yang semula berpintu satu, menjadikan dua pintu. Syeh al-Fasi menyebutkan dalam buku nya yang berjudul “ Syifaul Ghoram bi Ahbari Baitillah al-Haram’’ Ibnu Zubair membangun Baitullah karena keadaanya memang sangat memprihatinkan setelah terjadi kebakaran hebat,dinding baitullah terlihat rusak berat. Inisiatif merenovasi Baitullah Ibnu Zubair disambut oleh sebagian sahabat, dan sebagian lagi menolakanya. Setelah berdiri kokoh, Yusuf al-Tsaqofi merobohkanya dengan alasan politik. Akan tetapi, sang Kholifah “ Marwan” merasa kecewa setelah mengetahui tujuan Yusuf al-Tsaqofi, beliau berncana mengembalikan posisi Baitullah. Keiinginan Sang Kholifah tidak bisa dilaksanakan setelah mendengar Imam Malik berkata” Jangalah engkau merubah bentuk baitullah lagi, karena akan mengurangi kewibawaan baitullah”.
Nilai Politik dalam Ibadah haji sangatlah nampak, hanya saja politiknya sangat santun nan bersih, sesuai dengan nilai-nilai luhur islam. Thowaf adalah mengelilingi baitullah tujuh putaran, setiap orang yang memasuki masjidil haram maka disunnahkan melakukan “ Tahiyyatul Masjid”. Dalam keterangan hadis, setiap orang yang memasuki masjidil sangat dianjurkan melaksanakan sholat dua rakaat yang disebut dengan tahiyyatal Masjid. Sedangkan tahiyyatal Masjidil Haram adalah Thowaf tujuh putaran, Imam Nawawi mengatakan’’ Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya mengatakan” ketika memasuki masjid jangalah sibuk melakukan sholat tahiyyatul masjid atau yang lainnya, tetapi awalilah dengan melaksanakan thowaf ”, pendapat senada disampaikan oleh Ibnu Qudamah. Bagi jama’ah haji dan umrah, diharuskan bagi mereka untuk melakukan thowaf qudum sebagai penghoramatan terhadap Baitullah.
Jika kita renungi, thowaf dalam pelaksanaan haji atau umrah bernuansa politis. Ketika awal perjuangan islam, seringkali Nabi melaksanakan Thowaf dengan para sahabatnya. Dalam pelaksanaan thowaf, putaran tiga pertama, Nabi berlari-lari kecil, Ibnu Abbas seorang sahabat Nabi menjelaskan: Nabi berlari-lari kecil, ketika itu ada yang mengisukan bahwa Muhammad dan pengikutnya dalam keadaan payah dan lemah. Maka orang-orang musyrik Makkah mengintip untuk menyaksikan kebenaran tersebut. Kemudian Nabi beralari-lari kecil untuk menangkal isu tersebut. Kenapa hanya tiga putaran pertama, karena setelah melakukan tiga putaran pertama, ternyata para pengintip membubarkan diri dalam riwayat lain, Orang kafir Qurais Makkah melihat bawa Nabi dan pengikutnya melakukan Thowaf dengan Ihram yang menutupi pundak, melihat Nabi dan pengikunya demikian, orang kafir menganggap bahwa Muhammad dan pengikitnya sangat lemah dan tidak berdaya. Untuk menangkal anggaban mereka, akhirnya Nabi memperlihatkan pundak kananya dan diiukti oleh sahabatnya. Apa yang lakukan Nabi, seprti lari-lari kecil, membuka pundaknya adalah show of force terhadap lawan-lawannya. Politik yang dilakukan Nabi bukanlah politik yang dimaksud oleh pakar-pakar politik diera sekarang ini, tetapi yang dilakukan Nabi adalah suatu aktivitas ibadah yang bertujuan memperoleh kebahagiaan duniawi dan ulkhrowi. -
qosdie
Di dalam sebuah komunitas jama’ah haji Indonesia tersebar sebuah informasi bahwa haji plus itu hanyalah picnic belaka. Informasi ini sangat beralasan, karena memang realitas membuktikan bahwa kebanyakan para jama’ah haji plus itu menghuni tempat bagus (hotel mewah), baik ketika di Makkah, Madinah, serta di Jedah. Bahkan, selama di Arafah juga ditempatkan sangat istimewa, layaknya hotel mewah. Muzdalifah juga hanya sekedar lewat, dengan alasan bahwa mabit itu bukan wajib dan juga bukan rukun, serta untuk menghemat tenaga. Walupun masih banyak yang ikut (mabit) di Muzdalifah, karena alasan sunnah Nabi. Selama di Mina, kebanyakan dari jama’ah haji Plus itu menempati Apartemen yang terletak di Aziziyah (Sissa). Jadi, tidak salah jika opini yang berekembang di masyarakat (jama’ah haji) Indonesia, bahwa ONH Plus itu lebih banyak picnic, dari pada Ibadahnya.
Memang, ONH plus itu berbeda dengan ONH biasa (regular). ONH plus itu lebih mengedepankan pelayanan haji, mulai ibadah, pemukiman (hotel) akomodasi (transportasi), bimbingan haji, serta kesehatan (medis). Jadi, para penyelenggara haji itu berlomba-lomba memberikan pelayanan yang terbaik, sesuai dengan biaya yang dikeluarkanya. Semua pelayanan yang dijanjikan haruslah diberikan, bukan hanya sekedar janji. Wajar kiranya jika para jama’ah haji ngedumel, jika pelayanan sebuah biro jasa itu tidak profesinal, bahkan terkesan profit oriented belaka. Biro itu menganggab jama’ah haji itu bagaikan komoditas. Seringkali alasan yang dibuat oleh para penyelengara yaitu “Sabar, dan jangan macam-macam, karena ini adalah tanah haram’’. Jam’ah haji itu juga takut kualat, karena Makkah dan Madinah adalah tanah suci dan sacral. Sementara itu, para penyelengara seenaknya saja membuat jama’ah kleleran dan tidak memperoleh pelayanan maksimal, sesuai dengan janji-janjinya yang tertulis dalam brosur, atau yang diucapkan secara langsung. Padahal, mereka tahu bahwa jama’ah haji itu adalah duta Allah (wafdu Allah), jika berdo’a pasti dikabulkan.
Terlebapas dari itu semua, yang perlu digaris bawahi ialah opini yang berkembang bahwa jama’ah haji plus itu lebih banyak picnic dari pada ibadahnya. Menurut hebat saya, memang ada benarnya, tetapi tidak semuanya benar. Karena ternyata, tidak sedikit dari jama’ah haji regululer itu waktunya habis dijalan, dan belanja di pasar-pasar sekitar masjidil haram dan nabawi. Ini realitas tak terbantahkan, apalagi pemerintah Arab Saudi sangar gemar membangun tempat-tempat belanja disekitar masjidil haram.
Apalagi, sejak tahun 2008, Arab Saudi membangun dan memperluas masjidil haram. Dampak pembangunan dan perluasan masjidil haram itu menjadikan jama’ah haji regular Indonesia itu harus rela berjalan kaki 8-10 km. Apalagi kendaraan antar jembut menjadi masalah, nyaris jama’ah haji asal Indoneisa asal jarang berangkat ke masjidil haram. Bahkan ada seorang jama’ah mengatakan;’’ nanti, jangan sampai anak dan sanak family saya ikut jama’ah haji regular, saya selama di Makkah, hanya dua kali ke masjdil haram, ketika datang dan thowaf wada (pulang)’. Karena orang ini lansia, sementara tempat maktabnya di Awali (sekitar 8 km) dari masjidil haram.
Jika kita cermati, antara ONH plus dan Jama’ah haji reguler, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Pernah saya sampaikan kepada calon jama’ah haji reguler yang beranggapan bahwa OHN plus itu hanya sekedar pikinic. Bahwa ONH plus akan lebih baik jika bisa dan mampu mempergunakan waktu selama di Makkah dengan sebaik-baiknya.
Bagi ONH plus, Hotel dekat, segala kebutuhan dicukupi, kesehatan juga menunjang, pembimbing ibadah juga siap 24 jam. Kondisi ini sangat memungkinkan untuk memperbanyak ibadah. Hanya dengan 10 menit sudah bisa ke Masjidil haram, jika jama’ah haji mau dan mampu, pasti waktu itu akan dipergunakan untuk memperbanyak thowaf, membaca al-Qur’an hingga hatam berkali-kali, berdzikir, serta sholat sunnah tanpa harus berfikir mencari makanan, dan miunum, serta berjalan menuju maktab yang jauh hingga 4-8 km. Jadi, ibadah mereka lebih maksimal dari pada ibadahnya jama’ah reguler. Akan tetapi sebaliknya, jika jama’ah haji itu bekal ilmu dan pengetahuan seputar keutamaan al-Haramaina (Makkah dan Madinah), sangat minim, atau niatnya kurang, maka sang jama’ah akan malas, dan betah menghabiskan waktu-nya di hotel dan keliling mall yang tersedia di masjidil haram. Jangan salah jika ada sebutan haji kamabli’’ karena seringnya membeli kambal / karpet’’.
Bagi jama’ah reguler juga demikian, maktab yang sangat jauh menjadikan orang malas berangkat ke masjidil haram. Tidak sedikit yang enggan, bahkan jarang sekali berangkat ke masjidil haram. Kaluapun mereka berangkat, mereka mesti menghabiskan waktu setenggah jam atau bahkan 1 jam untuk sampai ke masjid. Seandainya waktu setenggah jam itu dipergunakan untuk membaca al-Qur’an, tentunya sudah dapat 1 juzz. Atau waktu itu dibuat untuk thowaf sunnah, atau sholat sunnah, tentunya pahalanya juga lebih banyak.
Memang, baik haji reguler atau plus, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tetapi, bagi yang niatnya karena Allah SWT, baik plus atau reguler, mereka tidak akan mengeluh, karena sejatinya yang dikejar bukalah pelayanan manusia, tetapi bagaimana mengapai ridho-Nya selama di Makkah dan Mandinah. Bukanyan membiarkan para penyelengara melayanai jama’ah haji dengan semena-mena, akan tetapi niatnya hati tidak akan pernah berubah dan goyah dengan megahnya makkah serta ganguan-ganguan yang ada di sekitarnya.
Jika kita cermati lebih seksasama, khususnya pada saat Makkah menjadi kota modern nan megah dengan segala kecanggihan tehnologinya. Ternyata, dari sekian besar jama’ah haji, baik plus atau reguler ke-mabrunan-nya, sering terhalang dengan beragam pernak-pernik, aksesioris, souvenir-sovenir haji. Seperti, membeli gelang, cincin, arloji, karpet, sajadah, parfum, handphone, handycame, serta barang-barang mewah lainya. Ini sudah menjadi sebuah tradisi bagi jama’ah haji Indonesia. Jangan heran, jika sebagian besar jama’ah haji rajn membeli oleh-oleh, padahal ritual haji belum dimulai.
Memang, tidak ada yang melarang, bahkan tidak pernah ditemukan literature yang melarang orang berbelanja selama di Makkah. Yang ada ialah, mensia-saikan waktunya untuk berbelanja, padahal rumah Allah menantinya, dan juga Nabi menunggunya bertahun-tahun untuk dikujungi setiap saat. Seandainya Nabi s.a.w bisa bangkit kembali pasti beliau s.a.w akan memberikan nasehat dan mengatakan “ Wahai umatku, khususnya warga Negara Indonesia, janganlah kalian sibuk sibuk berbelanja, atau betah di hotel, tetapi kunjugilah aku walaupun hanya dengan untaikan kata-kata mutirat dan sholawat Nabi. Semoga, modernya kota Makkah dan Madinah tidak menjadikan umat islam lenggah, dan lupa akan tujuan atau niatnya. Wallahu a’lam.
-
qosdie
Bulan suci Ramadhan yang mulia erat sekali dengan pendidikan. Jika dikaji lebih lanjut tentang nafsu, ternyata ia diciptakan dengan karakteristik yang unik yaitu sombong. Kesombongan ini akan terus berkembang dengan subur, jika dipupuk dengan beraneka ragam makanan-makanan yang bergizi tinggi dan minuman yang mineralnya tinggi serta lingkungan yang mendukung. Oleh karena itu, perlu diadakan kontrol baik yang bersifat sosial atau dari diri sendiri.
Masyarakat merupakan kontrol sosiety yang dominan dalam sebuah komunitas masyarakat. Begitu pula dengan berpuasa. Seseorang yang sedang berpuasa, ia cenderung mampu mengkontrol dirinya sendiri dengan baik, sehingga dia akan banyak bertafakkur akan dirinya sendiri dan kembali kepada Allah SWT.
Di dalamuah kisah, ternyata sejak awal penciptaan nafsu. Allah SWT bertanya pada nafsu tentang siapa penciptanya, namun nafsu tetap angkuh dan tidak mengakui siapa penciptanya, walaupun ia tahu, siapa penciptanya. Hal ini sampai berkali-kali, sampai akhirnya Allah SWT menguji dengan tidak memberikan makan nafsu (berpuasa), sampai pada akhirnya nafsu kelaparan. Ketika sedang lapar, lemah dan tidak berdaya, pada waktu itulah nafsu mengakui Allah SWT sebagai pencitanya.
Oleh karena itu, kesombongan nafsu perlu mendapat pelajaran dan pendidikan dengan berpuasa sehingga akal bisa berfikir dengan baik dan seimbang, serta jernih tidak sombong dan egois.

