Pengaruh Ibadah dalam Pedidikan Umat.

Islam yang di bangun diatas tiga dasar, ketiganya memerlukan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, baik dari segi ubudiyah ( ibadah ) maupun secara amaliyah

( perbuatan sehar-hari). Tiga dasar tersbut sangat jelas dan gamblang. Namun secara specifik umat islam mesti memahami secara universal sehingga tidak picik dalam memahami syariat secara kaffah. Dalam hadis yang di riwayatkan Umar bin Khattab dijelaskan tentang makna dasar Islam,Iman, dan Ihsan. Yang perlu kita jelaskan disini adalah makna dari pada rukun islam yang ditinjau dari aspek pendidikan umat.

Marilah kita merenungi kegiatan kita sehari-hari dalam beribadah kepada Allah SWT baik dalam bentuk sosial ( ijtimai ) maupun ( individu )fardiyah:

1.Sholat.

Sholat berarti do’a, karena sesungguhnya didalam sholat terkandung do’a, tapi menurut syri’at adalan suatu ibadah yang diawali dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam. Sholat merupakan bentuk ibadah yang paling khusus dalam islam, sebab sholat adalah interaksi antara Allah SWT dan hambnya. Dalam doa’ iftitah selalu di bacakan “Inna solati wanusuki wamahyaya wamamti lillahi Robbil alamin lasyarikalahu wabidhalika umirtu waana minal muslimin”. Doa ini merupakan bentuk kepasrahan dan ketundukan diri terhadap kholiqnya dari semua ketidak berdayaan dan kekurangan.

Marilah kita coba renungi sholat secara fardiyah dan Mujtama’ :

Fardiyah ; secara fardiyah merupakan bentuk hubungan intim antara hamba dengan Allah swt dengan ketundukan dan penyerahan diri sebagai seorang hamba. Oleh karena itu seorang harus bersih lahir dan batin dan suci dari hadas, baik hadas kecilmaupun besar. Kemudian dengan pakain yang suci dan bagus serta memakai wewangian dengan khusu’ menghadap dan mulai komunikasi dengan-Nya. Dalam sholat interaksi terjalin sehingga semua urusan dunia terlupakan, seolah-olah akan mati dan menghadap kehadirat-Nya.

Mujtma’ : sholat yang di wajibkan sehari semalam yaitu lima waktu, dalam lima waktu tersebut seorang hamba di wajibakan berjamaah semampu mungkin. Berjamaah inilah yang perlu kita jalani setiap hari sebab dengan berjamaah seseorang akan mengerti makna sholat secara hakiki. Di permulaan sholat dengan di pimpin seorang imam secara kebersamaan dan kecintaan tampa di paksa mereka bertakbir “ Allahu Akbar” sebagai pengakuan terhadap Allah SWT atas kebesaran dan ke agungan-Nya dan tidak ada yang lebih besar kecuali Allah SWT.

Dari segi Shoff dapat kita ambil pelajaran bahwa barisan di waktu berjamaah, adalah bentuk persatuan dan kebersamaan, mereka bertakbir, ruku’, bersujud sampai selesai bersamam-sama. Dari sini kita lihat betapa kuat islam, dan ini dilakukan secara rutin lima kali dalam sehari semalam sedangkan waktunya ditentukan secara teratur. Maka adakah kekuatan yang lebih besar dari kebersamaan sholat? adakah ibadah dengan kebersamaan dan kecintaan selain sholat….? Mungkin inilah yang perlu kita renugi, sebab kebersamaan itu bukan hanya waktu sholat namun di dalam semua interaksi sosial, kita perlu bangkit mengangkat senjata seperti kita mengangkat tangan di waktu takbiratul ihram kita tunjukan bahwa islam itu kuat serta penuh kebersamaan serta bersatu pada dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Marilah kita lihat bebrapa kebersamaan dalam berjamaah,

  • Dalam berjamaah seorang hamba di pimpin seorang imam di mulai takbirotul ihram sampai salam tanpa rasa ada perbedaan, semua merasa rendah di hadapan Allah swt dan mengagungkan Allah sebagai Al-kholiq.
  • Dalam berjamaah nampak kekuatan islam dalam satu barisan dan pimpinan dengan membersihakan diri dari hadas kecil dan besar, maka rasa cinta dan sayang antara sesama kaum muslimin juga mesti sama seperti sholat berjam’ah. Tidak ada perbedaan dari segi apapun kecuali kebersihan lahir dan batin.

2.Puasa.

Kalu kita lihat pada sholat terlihat kebersamaan dan tidak ada perbedaan baik kaya miskin, hitam putih, bahasa dan budaya, semua memakai bahasa yang telah di tentukan yaitu di awali takbirotul ihram dan di akhiri salam, maka bagaiman dengan puasa…? Marilah kita mencoba merenungi makna hakikat puasa. Allah subhanahu wataala mewajibkan puasa bagi setiap muslim setahun sekali pada bulan Romadhon. Kewajiban ini merupakan ibadah tahuhan yang bertujuan membersihkan manusia dari segala dosa dan noda yang di lakukan selama setahun, kemudian di sempurnakan dengan mengeluarkan zakat fitrah

Apa hakikat puasa dalam perndidikan umat?

Sesungguhnya islam adalah umat wahidah ( umat yang satu ) yang saling membutuhkan dan melengkapi, Rosulullah SAW sebgai satu satunya public figur ( kudwah hasanah ) bagi kita, apapun yang di lakukan beliau adalah wahyu dan bisa di jamin outentiknya.

Marilah kita renugi sejenak tentang puasa: puasa di samping kewajiban namun mempuyai makna besar dalam social, karena puasa salah satu pendidikan secara langsung dalam menanamkan rasa kebersamaan dan rasa cinta terhadap sesama. Ketika sedang berpuasa perut kosong, tenggorokan kering, seoalah-olah kita di suruh melihat kaum fakir, miskin kaum lemah yang setiap hari merasakan kekuranngan dan kelaparan setiap-hari. Dengan berpuasa kita di suruh memerasa otak untuk berfikir tengtang kaum fkoro’ dan masakin yang selalu membutuhkan uluran orang lain, pendididikan inilah yang harus drealisasikan dalam pola kehidupan kaum muslimin sehrai-hari agar pemandangan yang kurang sedap dijalan-jalan bisa diminimalisir.

3. Zakat.

Zakat juga merupakan salah satu bentuk pendidikan bagi umat islam, dengan di wajibakn zakat umat islam sebagai mahluk social dituntut untuk kerja keras untuk meniggkatkan taraf ekonomi, syukur-syukur menjadi Abdurrohman bin Auf modern. Dengan taraf ekonomi yang mapan kaum muslimin tidak mengantungakan diri pada orang-orang kafir baik sysitem ekonomi atau perbankan. secara tidak langsung syistem perekonomian kita masih terkontiminasi syistem barat, sedangkan zakat kaum muslim tidak bisa terelaisasi dengan benar bahkan terkadang harta kaum mulimin yang ditabungkan dibank-bank internasional dipergunakan oleh kaum misionoris untuk merusak islam.

Dengan zakat terlihat rasa cinta sesama muslim, lihatlah tetangga kita yang kaya itu dia megeluarkan harta yang ia cintai dan di berikan kaum fukoro’ dengan ihlas, padahal dia mengumpulakn harta itu dengan susah payah dengan keringat membasahi kening dan bahunya namun karena rasa cinta sesama muslim dan harapan ridho Allah dia ambil sebagian hartanya untuk di bagikan pada orang lain. Mungkin inilah yang membedakan antar kaum muslim dengan orang-orang kafir, mereka mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya siang dan malam sampai lupa kelurga serta sanak saudara namun mereka tidak dapat menikamati hartanya itu bahkan mereka banyak yang diperbudak hartanya, bahkan ada yang lebih ironis.

4. Haji

Haji ini merupan bentuk ibdah yang universal, karena perpaduan antara jiwa dan harta karena setaiap muslim di haruskan mengoraban hartanya untuk menunaikan kewajiban Allah SWT di temapt yang suci yaitu Makkah Al Mukarramah. Namun apakah haji itu hanya mendapat gelar Paka Haji setelah sekian hari tidak berkumpul dengan keluarga serta sekian banyak harta di habiskan…..!?

Marilah kita renugi hakikat haji terhadap pendikan umat…..!?

Makkah merupakan tjuan utama kaum muslimin, di mulai dari Makkah dan di akhri di Makkah, itulah ibadah haji, namun apa yang nampak dalam haji itu…!? Marilah sejenak kita lihat hakikat haji secara ringkas:

Sesampai di makkah mereka meletakan semuai pakain masing-masing dan berganti dengan dua helai pakai putih yang tak terjahit, di atas terik panas matahari mereka mengucapkan talbiyah secara bersautan “ Ya Allah aku datang memenuhi panggilanmu “ dengan tetesan air mata, bibir gemetar basak dengan tasbih dan tahlil, tangan terangakat tinggi menadahkan pada Allah SWT dan memohon pengampuan, kaki mengelilingi Ka’bah berharap setiap langkah kaki menghapus dosa dan kesalahan bisa di hapus, membiarkan kepala terbuka merelakan diri pansanya matahari membakarnya seolah-olah dalam padang makhsar , mereka datang dari jauh memohan ridho Allah SWT agar menjadi haji yang mabrur.

Mereka membiarkan dirinya tidak memakai wewangian, di bawah tenda yang sederhana, dan mencegah diri dengan semau apa yang di bolehakn dengan ihlas, seolah-olah Allah mengatakan “ Hai hambaku sejauh mana ketaatanmu kepada-KU “ itulah pendidikan nyata bagi seoarang hamba Allah yang menunaikan ibadah haji.

Namun apa cukup dengan begitu….!mungkin kita bisa merasakan kenikmatan serta kekuatan yang terkandung dalam kebersamaan dalam ibadah haji, semua ras ( suku ) manusia dan beraneka ragam warna kulit dan bahasa, tidak ada perbedaan pada waktu itu, antara kaya miskin, serta pejabat dan jelata, dari yang eliat sampai yang alit semua sama, makan bersama dan tidur di tempat yang sama, terlihat kecintaan diantara mereka dan kebersamaan serta haibah kekuatan umat islam yang tidak di temukan pada umat lain.

Seandainya kekuatan ini di bangun dalam satu pimpinan dalam satu komando, tak satupun umat yang mampu mengalahkan umat islam yang begitu besar dan kuat. Inilah yang menjadi persoalan bagi umat islam, banyak dari kaum muslimin menganggap ibadah itu hanya sebatas pada waktu tertentu, sebnarnya haji, sholat, puasa zakat merupakan pendiidkan bagi kita semua agar terealisai dalam kehidupan sehari-hari demi cinta kita kepada Allah dan Rosulullah serta kemulyaan islam sebagai agama yang tinggi dan tak tertandingi. Wallahu a’lam

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s