Wanita Sebagai Ibu

Seorang wanita akan menjadi sempurna jika telah melahirkan anak. Wanita yang memiliki putra atau putri disebut dengan Ibu. Dalam bahasa Araba Ibu disebut dengan “Umi” artinya tertuju. Oleh karena itu anak itu pasti akan tertuju setiap saat kepada seorang ibu. Dalam litertur sejarah, kota suci Makkah disebut dengan “Umm al-Quro” artinya pusat (tujuan) setiap orang.  Didalam keterangan tafsir, para ulama sepakat bahwa surat al-Fatihah disebut juga dengan “Umm al-Kitab” artinya surat al-Fatihah adalah pusat  (kadunganya) mencakup dari al-Qur’an.

      Sebagai seorang Ibu, pastilah ia memiliki keistimewaan dan kehebatan. Al-Qur’an dan al-Sunnah banyak menjelaskan kemuyaan dan posisi seorang ibu. Allah swt menjelaskan QS. Al-ahkaf  yang artinya “ Kami perintahkan kepada manusia supaya bferbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri[1].

Sedangkan hadis Nabi sangat banyak sekali yang mencreritakan maqom seorang ibu. Nabi pernah ditanya, siapa yang paling berhak untuk dihormati, ternayata Nabi menjawabnya  seorang Ibu dengan tiga kali. Pada masa Nabi, sering terjadi peperangan melawan orang kafir serta Yahudi. Nabi juga sering didatangi oleh beberapa pemuda yang meminta izin agar diperkenankan mengikuti perang bersamanya. Mengingat pahala Jihad dijalan Allah sangat besar, dan jalan pintas menuju surga. Bahkan dalam keterangan kitan Nasoikhi al-Diniyah orang yang meninggal dunia karena berperang dijalan Allah akan mendapat Imbalan surga. Bererapa pemuda yang datang kepada Nabi agar diperkenankan ikut membela agama Allah ternyata di tolak, Nabi menyuruh pemuda itu agar kembali kerumah untul lebih terfokus pada masalah “ birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orangtua). Nabi juga mengisaratkan bahwa surga itu terdapat pada kedua telapak Ibu, artinya Ibu itu benar-benar sangat tinggi posisnya sehingga Allah merekomendasikan surga. Anak tidak akan bisa mendaptkan kesuksesahan didunia dan akhirat tanpa memperoleh riho atai ijin dari kedua orangtuanya.

Wanita Sebagai Seorang Istri

Wanita itu akan menjadi lebih terlihat kemandiriaanya, ketika telah bersuami. Sebagai seorang istri wanita memiliki hak dan kewajiban, dalam hal ini Nabi adalah teladan sejati didalam membina keluarga islami sesuai dengan tuntunan ilahi. Nabi sangat menghoramti istri-istrinya, tidak satupun dari istrinya merasa tidak diperhatikan kebutuhan materi serta fisiknya. Nabi juga tidak pernah menyakiti secara fisik, serta batin istrinya sampai-sampai Nabi menagatkan dalam sebuah hadisnya yang artinya “kesempurnaan keimanan seorang mukmin adalah tergantung pada budi pekertinya, dan sebaik-baik dari kalian adalah orang paling baik budi pekertinya terhadap istri-istrinya[2].

            Kendati demikian, bukan berarti tidak tegas terhada istri-istrinya yang terlihat tidak sesuai dengan tuntunan agama. Seringkali Nabi memberikan warning kepada istrinya agar kembali taat kepada Allah dan Rosulnya, serta tidak mengikuti hawa nafsunya. Hafsah bin Umar adalah salah satu dari istrinya yang pernah mendapat peringatakan keras, hampir-hampir Nabi menceraikan. Karena Hafsah berani, serta bersikap acuh terhadap suaminya (Nabi) bahkan meminta nafkah yang lebih. Ini dilakukan karena dipicu oleh sifatnya yang tidak baik, setelah Nabi memberikan pelajaran, akhirnya Nabi mendapat wahyu agar rujuk kembali dengan Hafsah bin Umar[3].

Al-Qur’an sangat Indah sekali didalam mengambarkan kehidupan suami istri yang dilandasi cinta dan kasih sayang. Pasangan yang dikita dengan Nikah, terjalin indah penuh dengan cinta dan kasih sayang merupakan bukti dari sejuta bukti kebesaran dan keagungan Allah swt. Firman Allah yang berbuyi “

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (21)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Sementara itu, istri yang paling diminati oleh setiap lelaki adalah wanita sholihah. Walaupun terkadang lelaki itu tidak sebaik wanita yang diinginkan, tetapi bagi kaum lelaki mereka tidak mau memilki pasangan yang membangkang dan bernai kepada sang suami. Tidak berlebihan kiranya,bagi lelaki yang tidak memilih pasangan yang sholihah. Tetapi, tuhan tidak akan meletakkan sesutu bukan pada tempatnya. Jadi, wanita yang baik, keturunan baik,serta berkelakuan baik, dan agamanya baik, pastilah ketemu dengan laki-laki yang baik pula. Sedangkan wanita yang rusak, budi pekerti serta agamanya tidak akan mingkin berpasangan dengan lelaki yanh baik.

Seandainya ada pasangan yang tidak sesuai, misalnya laki-lakinya orang yang sholih semesntara wanitanya tidak jelasa asal-usulnya, serta ahlq dan pekertinya, maka pasangan ini tidak akan bertahan lama. Kalaupun bertahan, maka didalam akan dipenuhui dengan beraneka ragam masalah yang kdang susah jalan keluarnya.

Hak dan Kewajiban Kaum Hawa

Kaum hawa setelah hadirnya Nabi Muhammad ahir jaman mempunyai hak dan kewajiban. Berbeda dengan masa jahilyyah kuno yang membelenggu kaum wanita sehingga wanita tidak memiliki hak apapun, baik dilingkungan kelurga, masyarakat, dan negara. Inti wanita pada masa Jahiliyyah hanyalah pemuas Nafsu birahi kaum lelaki. Di bawah ini beberapa hak kaum wanita yang mesti dipenuhi.

Belajar  (Menuntut Ilmu) :

Kewajiban menuntut ilmu bukan hanya bagi laki-laki, tetapi wanita juga wajib menuntut ilmu. Tidak ada alasan bagi kaum wainta membatasi diri dengan tidak mau belajar, menimba pengetahuan atau berkutat pada urusan dapur dan sumur, serta kasur. Nabi mengatakan bahwa menuntut ilmu itu hukumnya  firidhoh ( sangat di anjurkan bagi laki-laki dan perempuan. Bahkan mendekat wajib.

            Kewajiban menuntut ilmu tidak hanya didominasi kaum laki-laki, tetapi wanita mesti ikut bertasipasi karena Nabi tidak ingin islam sebagai agama yang sempurna memiliki generasi yang buta huruf,buta pengetahuan dan informasi. Nabi menganjurkan kaum wanita agar senantiasa belajar tidak terikat oleh usia, tempat bahkan diamana saja. Mencari ilmu itu mesti bersungguh-sungguh sejak lahir sampai usia senja, bahkan Nabi mengambarkan carilah ilmu muali sejak dilhirkan sampai keliag lahad.  Hanya saja, ilmu apa saja yang sifatnya wajib bagi kaum wanita? Tentunya ini menjadi pertanyaan yang perlu penjabaran yang sangat panjang.

            Bagai wanita, pengetahaun itu sifatnya wajib khusunya yang terakait dengan keluarga, reproduksi wanita, kesehatan wanita, anak serta yang terakit dengan haid dan nifas. Nabi menikahi Aisah binti Abi Bakar dengan tujuan agar ada seorang guru wanita yang mengurusi persoalan kewantaan. Dalam literur hadis Aisah termasuh salah satu wanita yang paling banyak meriwayatkan hadis yang terakit dengan hulum-hulum dan problematika seputar wanita. Jadi, menuntut ilmu wajib bagi wanita khususnya bidang kewanitaan.

 Adapun dibidang yang lain, seperti politik, seni, budaya, tehnologi, filsafat dan bahasa, islam tidak pernah membelengu kaum wnaita akan tetapi Nabi memprioristakan pada pengetahuan yang terkait dengan karakteristik seorang wanita. Hal ini demi kemaslahatan kaum wanita, serta tidak keluar dari koridor kodrat sebagai wanita. Islam tidak melarang wanita bekerja, atau ikut berpolitik, serta berpartisipasi didalam pengembangan ekonomi. Hanya saja, jika pekerjaan itu bisa melupakan atau menjadikan wanita itu tidak terjaga, serta keluar dari koridor kodratnya maka islam tidak menghendakinya.

Disisi lain, laki-laki tidak boleh diskriminasi terhadap wanita


[1] . QS. Al-ahkaf  15

[2] . H.R Iman Tirmidzi bab hak seorang istri atas suaminya”

[3] . Lihat “ Meneladani Poligami Nabi “ Abdul Adzim Irsad LC

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s