Mesir: Benarkan Husni Mubarak Firaun Modern?

Dunia Arab sedang geger, rakyat sudah tidak percaya lagi dengan para pimpinan mereka. Tunisia, Yaman, Palestina, Mesir mulai angkat suara memprotes pimpinan mereka yang dictator dan membawa kesialan bagi rakyatnya. Di awali dari keberhasilan Negara Tunisia di dalam mengulingkan presidenya. Para tetangga juga latah dan ikut-ikutan untuk mengulingkan presidennya masing-masing dengan alasan: dictator, korupsi, meningkanya angka pengangguran, serta hukum yang tidak berfihak pada rakyat kecil.

Jika Indonesia diterpa gempa bumi, banjir, tsunami, putting beliung, longsor, gungng meletus. Jauh di jazirah Arab, terjadi  gempa tehtonik politik. Suhu politik rakyat Arab mulai panas. Ini juga menambah panjang jadwal penderitaan rakyat timur tenggah. Afganistan, Irak, Pakistan, jauh lebih dulu porak poranda oleh ulah Amerka dan sekutunya. Irak dituduh menyembuyikan senjata Nuklir, sementara Afganistan dituduh menjadi sarang teroris. Dan, Pakistan menjadi sarangnya kelompok ‘’Taliban’’ yang juga termasuk teroris.

Sekarang, giliran Tunisia dan Mesir menjadi Negara berikutnya yang akan porak poranda. Kekacauan politik, ekonomi, sosial yang sedang menipa di Timur Tenggah (Jazirah Arab), bukan serta merta karena tuntutan rakyat semata. Di dalam filsafat bahasa Arab, jika terjadi perubahan suatu  ahir kalimat, pasti ada amil (pelaku) yang menyebabkan perubahan itu. Jadi, tidak menutup kemungkinan ada sebuah kekuatan besar yang mencoba merusak kondisi Timur Tenggah. Kediktatoran, dan kemiskinan rakyat Arab saat ini menjadi moment paling tepat untuk merubah wajah Arab.

Indonesia dikenal dengan Negara seribu satu budaya, karena memiliki ribuan budaya yang beragam. Sedangkan India disebut dengan Negara seribu satu tuhan, karena beraneka ragam jenis tuhan bisa ditemukan di India. Irak negeri seribu satu malam, karena adanya sebuah novel yang terindah sepanjang peradapan sejarah sastar bahasa Arab. Dan Mesir Negeri seribu satu sejarah dan Ulama’. Universitas Al-Azhar yang terletak di Mesir lebih populer dari pada Presiden Mesir. Sebab, kampus tertua itu telah melahirkan ratusan, bahkan ribuah ulama’ dan ilmuan yang menyebar seluruh pelosok dunia.

Mesir menjadi kota tertua, di situlah Fir’aun dilahirkan serta menjadi penguasa jagad raya. Biasanya, setiap orang Indonesia, Malaysia, Brunai, setiap pulang umrah dari Makkah, mereka tidak lupa mengunjungi kota Cairo yang menyimpan rahasia peradapan tertua di dunia. Piramida menjadi daya tarik, tidak hanya masyarakat Asia, tetapi  masyarakat dunia. Piramida menjadi ikon kota mesir, sebagai kota terteua dunia. Di balik itu semua, Firaun adalah tokoh utama dibalik Piramida yang menarik wisatawan tersebut.

Mesir sekarang telah berubah menjadi mencekam, bukan hanya para pengunjung yang ketakutan, warga Mesir sendiri juga banyak yang lari terbirit-birit meninggalkan Negeri Firaun itu. Lima ribu-an mahasiswa asal Indonesia sedang berduka, sebab mereka tidak bisa berkomunikasi dengan orangtuanya, karena Mubarak sedang murka, sehingga saluran internet, telpon, di putus. Maka putuslan hubungan mahasiswa dengan orang-orang yang dicintainya. Kondisi mahasiswa menjadi delematis, mau pulang ke-Indonesia, tetapi kuliah belum rampung, mau tinggal di Mesir, kondisi tak menentu dan mencekam..? Ada yang nyletuk:’’ Saya belum nikah lgai, gimana  nih….?

Kondisi negeri Piramida itu benar-benar mencekam, persis seperti Firaun murka pada masa pemerintahanya dulu. Fira’un membasmi setiap orang yang membangkag atas perintahnya. Semua wanita yang melahirkan anak laki-laki harus rela di kubur hidup-hidup. Sebab, sang raja ketakutan dengan ramalan anak buahnya, bahwa akan datang seorang laki-laki yang akan mengulingkan kekuasaanya. Atas dasar ramalan itulah, Firaun ahirnya berbuat semena-mena, al-Qur’an mengabarkan bahwa Firaun itu mengaku tuhan yang mulia. Kesombongan Firaun itu juga yang ahirnya menjadi ahir dari sebuah perjalanannya sebagai seorang raja adikuasa kala itu.

Husni Mubarok bukanlah raja Firaun, beliau hanyalah seorang Presiden biasa. Selama menjadi Presiden Mesir, Mubarak tidak banyak memberikan perubahan signifikan, justru kemiskinan dan kemlaratan terjadi dimana-mana. Kondisi seperti ini tentunya membuat lawan-lawan politiknya juga tidak akan tinggal diam. Ihwanul muslimin, salah satu kekuatan yang membahayakan. Jika di analogikan, Ihawanul Muslimin ibarat Nabi Musa, yang menjadikan kekuasaan berhahir secara tragis. Tidak menutup kemungkinan, tetangganya ‘’ Israil’’ juga ikut-ikutan meramaikan susasan panas politik yang sedang terjadi. Dan, yang paling mendasar ialah persoalan politik dan kekuasaan. Wallau a’lam

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s