Problematika Keluarga Modern

Semakin modern dan canggih dunia ini, semakin banyak pula kegagalan rumah tangga. Walaupun banyak yang mengatakan pernikahan itu dilandasi saling mencintai, tetapi tetap saja perceraian semakin meningkat tajam setiap tahunnya. Berarti, cinta tidak menjamin ke-langgengan sebuah keluarga. Justru, semakin mudah mengutarakan cinta, semakin jelas bahwa cinta itu tidak berkualitas. Kualitas cinta itu tidak ditentukan oleh lamanya masa ber-pacaran (berkenalan). Akan tetapi, kualitas cinta itu ditentukan oleh azzam (kuatnya niat) di dalam membangun bahtera rumah tangga. Selanjut, ke-ikutsertaan tangan tuhan itu penting di dalam perjalan bahtera rumah tangga.

Beberapa factor yang menyebabkan runtuhnya bahtera rumahtangga sangat beragam. Mulai persoalan ekonomi, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perselingkuhan, pendidikan, poligami, politik, petengkaran, cacat biologis, menikah dibawah umur. Artinya, jumlah perceraian semakin tahun ada peningkatan signifikan, dan ini merupakan berita yang sangat memprihatinkan. Sebab, jika ini terus terjadi, akan menjadikan kesakralan nikah menjadi pudar.

Ada beberapa factor utama penyebab perceraian. Pengadilan agama sewilayah pengadilan tinggi agama jatim tahun 2007 menbeberkan data seputar gugat dan cerai yang terjadi. Hasilnya sangat mencengangkan. Dari 37 wilayah, mencapai ribuan. Di bawah ini beberapa penyebab perceraian yang terjadi, berdasarkan klasifikasinya.

Perselisihan  Suami Istri

Jumlah pierceraian yang diakibatkan karena pertikaian suami istri, seperti; tidak harmonis, dan ganguan pihak ketiga lumayan besar. Berdasarkan data, perceraian karena tidak harmonis sekitar 12320 pasangn dari sekitar 37 wilayah. Kota Malang, masuk peringkat utama, ada sekitar 1.853 pasangan yang bercerai, dengan alasan tidak harmonis lagi. Padahal, tingkat pendidikan mereka sudah sarjana. Logikanya, mereka saat menikah sudah sepakat, bahwa keduanya sudah saling mencintainya, dan mengenal satu sama lainya. Bahkan, pacaran yang menjadi tren, tidak menjamin kelanggengan bahtera rumah tangga.

Yang menarik, tingginya jumlah perceraian disebabkan karena factor tidak harmonis, padahal sebelum menikah mereka lebih dari harmonis. Dengan kata lain, harmonis belum waktunya, sehingga pasca menikah, keharmonisan itu telah sirna, karena sudah dihabiskan sebelum menikah. Sementara, perceraian yang diakibatkan masalah eknomi dan tidak tanggung jawab cukup tinggi. Untuk alasan ekonomi, ada sekitar 4862 pasangan yang bercerai. Dan, 9218 karena tidak tanggung jawab. Ada yang menarik terkait dengan perceraian, sebagian besar dari perceraian itu bersuia muda. Dan, 2452 terjadinya perceraian karena adanya pihak ke-tiga yang ikut bermain di dalamnya.

Perselisian dan pertikian itu memang tidak bisa ter-elakkan dalam sebuah pernikahan, sehingga berahir menjadi drama perpisahan. Yang membuat terperanjat, ternyata jumlah gugat cerai semakin meningkat dari pada talak. Gugat cerai, biasanya diajukan oleh pihak perempuan, karena hak-hak sebagai seorang istri tidak terpenuhi, seperti; ekonomi, batin, serta terjadi kekerasan rumah tangga. Sementara, cerai, biasanya yang mengajukan dari pihal laki-laki, dengan alasan bermacam-macam.

Terlepas dari Gugat Cerai yang diajukan oleh seorang istri terhadap suamu, atau Cerai (talak) yang dikeluarkan oleh suami. Yang paling mendasar terjadinya perpisahan itu karena kurangnya komunikasi dan keterbukaan antara dua pasangan yang memang berbeda.  Padahal, latar belakang pendidikan masing-masing sudah lumayan bagus (sarjana), namun karena kehilangan makna sebuah cinta, maka mereka lebih memilih berspisah dari pada melanjurkan pernikahan tersebut.

Adapun persoalan-persoalan, poligami, pernikahan dibawah usia, cemburu, kawin paksa, politik, pengniayaan masih kalah jauh dibandingkan dengan ketidak harmonisan dan campurtangan pihak ketiga.

 

Mengatasi Persoalan Perceraian

Pernah saya sampaikan bahwa menyelesaian segala masalah di atas sajadah lebih mudah dan ringan, dari pada harus melalui pengadilan. Hanya saja, untuk duduk lama-lama di atas sajad tidak mudah, kalau tidak biasa justru tidak betah. Bahkan, semakin merasakan sumpek. Namun, bagi sebagian orang yang ber-agama, mengatasi masalah di atas sajadah, lebih mudah dan ringan. Sebab, cara seperti ini lebih efektif dan irit biaya.

Ternyata, tuhan lebih suka jika hamba-hamba mendekati diri-Nya melalui hambaran sajadah. Semakin sering menyapa, akan semakin akrab, jika sudah akrab, maka segala persoalan akan udah diselesaikan. Tuhan akan turun tangan, dengan cara menuntun setiap langkah kaki manusia. Islam benar-benar memberikan tuntunan sangat indah terkait dengan persolan rumah tangga. Tetapi, kenapa justru sebagian besar yang ber-cerai itu justru umat islam.

Wajar sekali, sebab sebagian besar dari remaja, pemuda yang menikah, ternyata tidak tahun hakekat pernikahan sebenarnya. Mereka menikah, karena ingin memanjakan birahinya. Setelah puas memanjakan birahi, persoalan-persoalan baru justru muncul, sementara kedua pasangan itu kaget, karena yang dibayangkan keduanya adalah ke-indahan dan kebahagiaan, kemesraan. Padahal, ke-indahan dan kemesraan terbatas oleh waktu dan tempat.

One thought on “Problematika Keluarga Modern

  1. Wah banyak sekali kasusnya, memang seharusnya ada pendidikan yang khusus memberikan pengarahan tentang pernikahan. Sekarang yang justru terjadi tidak tau bagian tanggung jawab masing2 dalam keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s