Ramadhan: Mendidik Manusia Disiplin Waktu

Sebagaimana yang diketahui bersama bahwa makna puasa itu ialah menahan diri dari makan dan minum, serta menghindari melalukan hubungan suami istri, sejak fajar hingga terbenamnya matahari (magrib). Jika seorang muslim telah berniat demikian, maka puasanya sah (benar). Namun demikian, para ulama sufi itu tidak cukup degan definisi menahan diri dari makan, minum, dan jimak (bersetubuh). Lebih dari itu, yang dimaksud puasa itu menahan diri dari perbutan-perbuatan maksiat, baik maksiat mata, hidung, telingga, serta semua anggota tubuh lainnya. Sebab, hakekat puasa itu ialah sebuah usaha membersihkan batin, dengan tujuan utama agar supaya interaksi dengan sang kholik semakin intim. Wajarlah, jika kemudian melahirkan orang-orang yanga takwa. Di dalam sebuah hadis, Nabi Saw menuturkan bahwa semua amal itu intuk manusia, kecuali puasa. Allah Swt mengatakan:’’ saya sendiri yang akan membalasnya’’.

Dibalik perintah menahan diri dari makan dan minum, serta bersetubuh itu, tersirat pelajaran berharga agar manusia mau disiplin mengunakan waktu dengan benar dan prposional. Apalagi, dengan tegas, Allah Swt menjadikan puasa ini sebagai bentuk kewajiban bagi setiap mukmin. QS al-Baqarah ( 2:183) yang artinya:’’Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Allah Swt ingin, agar supaya setiap orang mukmin benar-benar jujur di dalam melaksanakan kewajiban puasa ini, sejak fajar hingga matahari terbenam. Jika seorang mukmin mampu melaksanakan puasa dengan baik, maka ini bagian dari pendidikan kedispilinan dari makna yang tersirat dalam kewajiban puasa.

Karena pentingnya puasa,  jika seorang mukmin tidak bisa menjalankan dengan alasan sakit, atau dalam perjalanan. Allah Swt memberikan kesempatan melakukan di lain waktu. Sampai kapanpun seorang mukmin harus membayarnya. Sebab, hal ini disebut dengan utang puasa. Jika tidak mampu, maka Allah Swt membolehkan dengan membayar fidyah. Ini mengisaratkan, betapa islam mendidik agar tetap disiplin, walaupun benar-benar berhalangan. QS al-Baqarah (2:184) “Maka, barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Diahir Ramadhan, kewajiban bagi setiap orang untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai bentuk menyempurnakan puasa. Kewajiban ini tidak bisa digantikan dengan yang lain, sebab perintah zakat fitrah itu bersifat pribadi (perorangan). Walaupun nilainya sangat kecil, tetapi sangat menentukan dikabulkannya ibadah puasa dan tarawihnya selam sebulan. Lewat zakat fitrah, Allah Swt ingin sekali agar supaya interaksi sosial masyarakat tetap dijaga dengan  sebaik-baiknya. Jika Allah Swt mengatakan bahwa pahala puasa itu khusus untuk-Nya. Maka Zakat itu bersifat sosial, dan melaksanakan perintah-Nya, bagian dari bentuk penghambaan diri kepada kholik-Nya secara mutlak. Inilah yang kemudian melahirkan manusia menjadi fitri (kembali suci), bagaikan bayi yang baru dilahirkan dari perut ibunya, bersih tanpa noda dan dosa.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s