Dua Fenomena Seputar Poligami Nabi

Dua Fenomena Seputar Poligami

Abdul Adzim Irsad

1. Fenomena pertama:

Sebagian kaum muslimin masih menganggab tabu terhadap poligami, padahal Nabi dan para sahabtnya memiliki istri lebih dari satu. Nabi dan sahabtanya adalah sebaik-baik teladan bagi pengikutnya. Akan tetapi praktek poligami hendaknya sesuai dengan nilai-nilai yang telah dicontohkan Nabi. Karena pada hakekatnya, tujuan poligami sangat mulia, yaitu menjaga Mabadiul Khomsah (menjaga agama, jiwa, akal, harta dan keturunan). Disisi lain, poligami bersifat Emergensy (darurat), artinya sangat dianjurkan bagi setiap orang laki-laki untuk berpoligami manakala mendapati istrinya mandul, sakit, atau tidak mampu melayani suami yang hiper. Dengan demikain poligami menjadi solusi terbaik dari problematika keluarga tanpa menceraikan istrinya.

2. Fenomena Kedua

: Sebagian lagi melakukan poligami mengatasnamakan Sunnah Nabi. Fenomena ini berkembang, khusunya didunia para kyai dan ustad-ustad, mereka mengkampanyekan bahwa poligami adalah sunnah Nabi yang mesti diikuti, bahkan mendapatkan pahala bagi kaum wanita yang rela dipoligami, berdosa hukumnya bagi yang menolaknya. Ini terkesan digebyah uyah, serta memaksakan diri, karena apa ytang dilakukan Nabi bersifat tuntunan yang dilatar belakangi oleh masalah-masalah diatas, bukan karena menuruti birahi belaka. Kadang terkesan tidak memperhatian perasaan seorang istri yang rela menemani selama ini.

Dua fenomena ini sangat bertengtangan, mengingat keduanya masih bertahan dengan opininya masing-masing. Al hasil, ini menimbulkan celah baru, sehingga semakin hari semakin gencar gerakan ”Gerakan Wanita”. Sampai–sampai mereka sudah keluar dari koridor nilai-nilai Islam. Sementara itu, kaum yang mengatas namakan Nabi, tidak hanya melontarkan pendapat akan tetapi mereka menjadi contoh bagaiman berpoligami yang aman tanpa menimbulkan kecurigaan.

Poligami The Best Solution.

Poligami adalah salah satu konsep syariat dalam memberikan solusi terhadap problematika sosial, ekonomi, populasi wanita serta pelacuran. Poligami bukan hal yang baru, India, Mesir, Cina, Babilonia, telah mempraktekan, hanya saja tidak ada ketentuan dan aturan, sehingga wanita menjadi obyek dan komoditas kaum lelaki. Cina mislanya; dulu pernah ada seorang laki-laki memiliki istri sekitar 130 wanita[1]. Bangsa Yahudi juga tidak membatasi jumlah wanita untuk dipoligami, jahiliyyah kunopun juga banyak dari laki-laki yang memiliki sepuluh atau lebih pasangan. Di jawa kita mengenal selir-selir raja, yang jumlahnya sangat banyak sekali, ini dilakuakn oleh raja dan penguasa di tanah jawa dan sekitarnya.

Islam memberikan aturan yang jelas dan aman seputar poligami, adapun tujunaya yaitu agar senantiasa kehidupan sosial dan individu terjaga dengan baik, sesuai dengan tuntunan syariat islam yaitu bersikap adil terhadap istri-istrinya seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi. Jika kita cermati dengan baik, hikmah poligami Nabi mampu menjadi solusi terbaik dalam persoalan-persoalan terkini. Syeh Al Shobuni mengatakan ” Hakekat yang perlu diketahui oleh setiap orang adalah Penjelasan poligami, merupakan kebangaab Islam, karena mampu memberikan kontribusi besar dalam menyelesaikan persoalan masyarakat dikala umat tidak mampu memberikan apapun kecuali kembali pada hukum islam (poligami)[2]. Beliau melanjutkan, lebih mulya mana, menjadi wanita dalam lindungan seorang laki-laki dengan cara yang syah, membiarkan wanita bercinta tanpa ada ikatan yang syah?

Negara jerman yang mayoritas beragama kristen, melarang poligami. Akan tetapi, Negara tidak mampu membendung keinginan warganya untuk berpoligami, tidak ada pilhan lain kecuali cara islam sebagai solusinya. Mereka memboleehkan poligami, demi menjaga martabat kaum hawa di Jerman, seorang guru besar di Jerman pernah memberikan statement” Sesungguhnya solusi terbaik bagi kaum wanita, dibolehkannya poligami, saya lebih memilih menjadi seorang istri diantara sepuluh wanita dari seorang laki-laki yang bertanggung jawab dari pada menjadi satu-satunya istri yang gagal serta tidak tanggung jawab[3], ini adalah pendapat kaum hawa di Jerman. Dr, Sayed Muhammad Alawi Al Maliki[4] juga mengamini didalam bukunya yang berjudul “ Adabu Al Islam fi Nidhomi al Usrah”, bahkan beliau juga mempraktekan dengan berpoligami




[1] .Mustafa Al Sibgahi, Dr, Al Maratu Baina Al Fiqhi wa Al Qonun. 72 –Maktaba AL Islami- Beirut 1994

[2] . Al Shobuni, Muhammad Ali, Syeh : Rowaiu Al Bayan Tafsiru ayat Al Ahkam min Al Qur’an ” 1/429 –Dar Al Iya’ Al turost Al Arabi-Beirut-Lubnan.

[3] . Ibid,

[4] . Beliau adalah seorang ulama besar Makkah, belai memimpin sebuah Ma;had yang terletak di ” Rusaifah”. Kebanyakan santrinya berasal dari Indonesia, serta wilayah Yaman serta Suria. Beliau juga pewrnah mengajar di Universitas Umm Al Qura Makkah, kemudian belaiu menfokuskan diri mengajar dima’hadnya sampai beliau wafat bulan romdhan 1995. beliau juga mempunyai banyak karya’ salah satunya yaitu ” Muhammad Al Insan Al Kamil,.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Dua Fenomena Seputar Poligami Nabi

  1. qolbi berkata:

    bagaimana pandangan sorang ulama besar seperti Buya HAMKA tentang poligami??/
    ternyata masa lalu jadi basis utk bertindak dimasa yg akan datang…

    http://qolbimuth.wordpress.com/2008/03/09/poligami/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s