MENELADANI ETIKA NABI TERHADAP AL-HARAMAIN

A.Pendahuluan

Al-Haraimain adalah sebutan istimewa Tanah Makkah dan Madinah, tidak ada tempat lebih istimewa melebihi kedua tempat suci tersebut. Kemulyaan, keagunan serta kekuatan spritualnya, juga di abadaikan didalam kitab suci dan Sunnah Nabi. Mengunjungi kedua tempat tersebut sangat dianjurkan, bahkan berpahala, bahkan mendapat jaminan surga dari Allah dan Rosul-Nya. Sedangkan membenci serta berbuat nista di tanah suci makkah dan Madinah juga termasuk dosa besar. Oleh karena itu, setiap orang mukmin sejati hendaknya memahami etika berziarah terhadap dua kota suci islam ini.

B. Etika Terhadap Kota Nabi.

Ziarah Kota suci Madinah sangat dianjurkan oleh baginda Nabi, bahkan Nabi menjanjikan kepada umatnya dengan pertolongan, sehingga voucer surga bisa didapatkan dengan berziarah kota suci Madinah. Berkunjung Kota suci Madinah setelah Nabi tiada, nilainya sama dengan beliau masih ada, hal juga di jelaskan oleh Nabi didalam hadisnya yang berbunyi” Barang siapa menziarahiku setelah aku tiada, maka ia seolah-olah menziarahi ketika aku masih hidup”. Nabi juga menjanjikan, siapa dari umatnya yang melaksankan sholat Arbain[1] maka ia terbebas dari sifat nifak dan dijanjikan dengan kebahagiaan surga.

Setiap mukmin sejati, ketika berada di kota Madinah, maka ia akan merasa tentram dan damai, apalagi bisa melaksankan sholat lima waktu ditempat mulia yang dikenal dengan “Roudhah[2]. Ketenagan serta ketentraman setiap orang yang berada diroudhah disebabkan karena adanya manusia paling mulya yang di makamkan samping Roudhah. Abu Hurairah, seorang sahabt dekat Nabi pernah mengungkapkan isi hatinya. Suatu ketika ia mengatakan” Ya Rosulullah, sesungguhnya jiwaku penuh dengan ketentraman ketika melihat raut wajahmu, sedangkan matku terasa sejuh ketika melihat engkau” .Iini pernyataan jujr dari seorang sahabat dekat, yang setiap hari bertemu muka. Bagaimana dengan orang mukmin yang dekat dengan beliau walaupun telah tiada, pasti akan merasa damai, sejuk ketika berdekatan dengan Nabi. Nabi juga pernah menjanjikan kepada pengikutnya, beliau pernah mengatakan” beruntung sekali orang yang pernah bertemu denganku, kemudian percaya kepadaku, beruntung juga bagi orang yang belum pernah bertemu denganku, tetapi ia mau percaya denganku”.

Orang yang pernah bertemu dengan beliau, tentunya para sahabat yang setia menemani, serta menjungjung nilai-nilai luhur yang di bawa oleh Rosulullah, sehingga mereka mendapat jaminan surga seperti yang di janjikan didalam Al-qur;an. Sedangkan mereka yang belum pernah bertemu dengan baginda Nabi, tentunya para pengikutnya yang hidup setelah sahabat, seperti para tabiin, Salafussolih serta mereka yang hidup di zaman edan, serta zaman tehnoloi sekarang ini. Tentunya mereka yang meneladani hidup beliau dengan sepenuh hati, serta tidak membangkan atau merusak ajaran Nabi, mereka orang-orang yang selalu mengatakan “Aku Mendengar, aku juga taat, Ya Allah aku mengharap ampunan-mu, dan kepad-mu kami kembali”. Sungguh beruntung sekali bagi setiap orang yang beriman, kemudian dikarunia rizki, bisa berziarah ktempat Nabi disemayamkan, dengan harapan bisa mendapatkan pertolongan kelak di hari pembalasan.

 

C. Tehadap Kota Suci Makkah.

Etika Penduduk Makkah Sebelum Islam

Nabi Ibrahim AS adalah hamba Allah yang mendapatkan amanah membangun dan merawat Baitullah bersama Ismail putra beliau. Keduanya dibimbing langsung oleh malaikat Jibril AS sampai Ka’bah berdiri kokoh di atas pondasi yang telah ditentukan. Lalu Nabi Ibrahim juga mendo’akan keturunannya serta memanggil orang-orang mukmin agar senantiasa menjalankan perintah-Nya (shalat). Do’a ini diabadikan dalam Al Qur’an dan hadits-hadits shahih.

Nabi Ibrahim juga mendoakan bagi kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia untuk datang ke Makkah. Allah mengabulkan do’a Nabi Ibrahim, dimana umat Muhammad berbondong-bondong dari negeri yang sangat jauh untuk menunaikan ibadah Haji ke Baitullah. Perjuangan Ibrahim dan Ismail serta do’anya ternyata terlihat sekarang ini, semua umat Islam kembali mengulang sejarahnya serta meyaksikan kebesaran Allah SWT.

Adapun di zaman jahiliyah (sebelum Nabi dilahirkan), Baitullah juga menjadi kuil istimewa bagi orang-orang yang menyembah berhala. Masing-masing kelompok atau kabilah membuat tuhan (patung) sendiri. Ada 360 jenis berhala atau gambar-gambar atau patung-patung tuhan yang mungkin merupakan lambang  berbagai suku yang datang ketempat ini ( ka’bah) pada bulan tertentu[3].Mereka meletakan berhala di sekitar Ka’bah untuk disembah dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya. Pada Masa itu, secara resmi ka’bah didesikasikan pada tuhan hubal, tuhan yang dibahwa ke Arab dari kerajaan Nabatean yang sekarang disebut Yordania. Oranng jahiliyah kuno selalu mengelilingi baitullah setiap saat, mereka melaksankan ritual thowaf dengan (uryan) telanjang[4]. Ini, sisi negativ yang dilakukan jahilyah kuno sebelum islam menyinari.

Bani Hasyim (Abdul Muththalib bin Hasyim), yang juga kakek Nabi mendapat amanah menjadi pelayan Baitullah. Setiap musim haji tiba, mereka mempuyai tugas siqayatal hajj (mengambil air dari tempat yang jauh dan kemudian dibagikan kepada tamu-tamu Baitullah). Hal ini dilakukan karena di Makkah sangat kering kerontang dan sulit untuk mendapatkan air. Mereka juga menyediakan makanan-makanan bagi jama’ah haji, bahkan Hasyim pernah mengatakan “ Wahai kaum Quraisy! Kamu sekalian adalah tetangga tuhan, penjaga rumah-Nya dan tanah suci, mereka yang datang berziarah adalah tamu tuhan, dan pengunjung rumah-Nya,  mereka itulah tamu yang patut dihormati, pada musim haji sediakanlah makanan dan minuman sampai mereka pulang kembali. Bila harta saya sendir mencukupi, saya tidak akan membebani kalian semua[5]. Ini Kebiasaan positif orang Jahiliyah kuno, dilakukan oleh Hasyim  sebelum Islam.

Pada masa Abdul Muththalib ada istilah ar-Rifadah yang artinya memberikan makan terhadap jama’ah haji yang datang dari segenap penjuru dunia kala itu[6]. Kadangkala mereka memasak sendiri kemudian dibagikan. Hal ini juga dilakukan terhadap binatang-binatang yang berada di sekitar Baitullah.

Tidak terhitung jumlah makanan dan minuman serta harta yang mereka korbankan demi melayani jama’ah haji kala itu. Dan itu dia lakukan tanpa mengharapkan imbalan apapun dari mereka.

Orang Quraisy Makkah juga mengenal istilah Hilfu al-Fudhul. Orang yang pertama kali berbicara tengtang Hilfu Fudul adalah Al Zubair Ibnu Abdul Muttolib[7], ini juga salah satu kebaikan ahli Makkah yang dipuji Rasulullah sampai sekarang ini. ‘Asbabul wurud’ dari Hilfu al-Fudhul ini berasal dari seorang laki-laki dari Zabidi Yaman yang membawa barang-barang dagang, ternyata al-‘Ash bin Wail As-Suhami mengikutinya dan membeli dagangan tersebut namun tidak mau membayarnya.

Kejadian ini membuat Zabidi ketakukan dan akhirnya melaporkan kepada kaum Ahlaf (mereka adalah Bani Abdu Dar dan Makhzum). Maka, Zubair bin Abdul Muththalib (paman Nabi) turun tangan dan bertindak tegas. Beliau mengumpulkan Bani Hasyim, Zuhrah, Asad dan Tamim di rumah Abdullah bin Jud’an untuk saling bersumpah dan memengang janji untuk tidak  saling berbuat dzolim terhadap penduduk Makkah atau lainya serta semua semua manusia[8]. Lalu mereka memasak makanan untuk Zabidi dan menolongnya dari al-‘Ash. Mereka menjadi kafil (pelindung bagi al-mazhlum, atau orang yang terzhalimi) dan mengambil paksa haknya.

Kisah ahli Ahlafu al-Fudhul beraneka ragam. Yang dipuji Nabi ini adalah sikap gentle dalam membatu orang-oarng dizhalimi. Adat Ahlafu al-Fudhul ini berlangsung sampai zaman al-Husain bin Ali beserta al-Walid bin ‘Utbah.

Kebiasaan ahli Makkah lainnya adalah al-wafa’ dan al-amanah, yaitu menjaga rahasia orang dan tidak berkhinat. Sifat ini adalah kebiasaan ahli Makkah yang sampai saat ini masih eksis, walaupun umat Islam modern saat ini jarang sekali yang menjalankannya. Sifat-sifat diatas juga menjadi pondasi kuat dalam memperjuangkan agama Allah oleh para sahabat Nabi SAW di atas keimanan dan ketaqwaan. Selain dua sifat ini masih banyak lagi sifat-sifat luhur yang dimiliki kaum Quraisy Makkah sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW.

Setelah hadirnya Rasullah SAW, sifat-sifat diatas sudah tertanam kuat di dasar hati, sehingga risalah Islamiyah yang dibawa Muhammad menjadikan kaum Quraisy yang memeluk Islam menjadi militan dan ditakuti oleh musuh-musuhnya. Mereka betul-betul loyal terhadap Nabi sehingga semua perintah Allah dan Nabi betul-betul ditaati.

Mereka menjalankan shalat berjama’ah di Baitullah di tengah ancaman dan berhala-berhala yang mengitari Ka’bah. Sedikit demi sedikit mereka berani menampakan da’wahnya. Berhala-berhala sesembahan orang Quraisy pun mulai terkikis habis.

Etika dan tanggung jawab umat Islam terhadap Ka’bah

Rasulullah adalah satu-satunya panutan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia dalam beretika dengan Baitullah. Risalah yang dibawanya telah gamblang dalam menjelaskan serta mencontohkan secara haaliyah bagaimana bersopan-santun dengan Baitullah. Menurut Syekh Dr.Khalil bin Ibrahim, tangung jawab itu bermacam-macam, antara lain tanggung jawab secara syariat.

Adapun amanah (tanggung jawab) yang berhubungan dengan sesama manusia umumnya terkait dengan masalah mu’amalah. Rasulullah bersabda,

وقال النبي صلى الله عليه وسلم ( كلكم راع ومسؤول عن رعيته ( رواه البخاري رقم الحديث 853 )

 Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya tentang apa yang dipimpinnya.

Umat Islam yang tinggal dikota suci Makkah harus menjaga tanah haram dengan sebaik-baiknya, sebagai bentuk amanah, mereka diibaratkan seorang seorang pemimpin dan ia akan diminta pertanggung jawab, serta menjaga kesucian tanah Haram.

 Imam Bukhori mengatkan;” Orang laki-laki adalah pemimpin di lingkungan keluarganya, dan dia akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Orang wanita (Ibu) juga pemimpin, (dalam mengendalikan rumah tangga suaminya), dan ia juga akan ditanya tentang bagaimana ia memimpin. Pembantu rumah tangga juga pemimpin dalam mengawasi harta benda majikannya, dan dia juga akan ditanya tentang apa yang diamanahkan. Jika kita analogikan, pemukim atau penduduk serta pemerintah yang Arab Saudi mesti bertangung jawab terhadap baitullah Al Haram.

Dari hadis ini jelas bahwa setiap orang memikul amanah, sekecil apapun bentuk amanah itu harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat.

Pertanggungjawaban di dunia adalah dengan memenuhi amanah tadi kepada yang berhak, sementara di akhirat akan menghadapi hisab di hadapan Rabbil Izzati, yang manusia tidak bisa menipu-Nya.

Amanah meliputi segala hal: harta, anak, ilmu, jabatan dalam semua jenis tingkatannya, titipan barang atau pesan, kepercayaan, menjaga privasi dan aib teman maupun keluarga, dan lain sebagainya. Sedangkan tidak menunaikan amanah berarti berkhianat.

 Memahami akan pertanggungjawaban amanah yang begitu besar, khususnya masalah amanah menjaga Baitullah, sungguh aneh jika ada orang mukmin yang senang menjadikan Baitullah sebagai sarana untuk mencari uang, bahkan banyak dari kaum muslimin menadikan haji sebagai sarana mendongkrak popularitasnya dengan gelar “Haji” atau “Hajah”,. Tidak sedikit orang yang datang umrah ke Baitullah demi mengelabuhi umat dan rakyat, padahal tidak konsisten dengan agama dan tidak mampu dan mau mengemban amanah.

Semua umat Islam secara kaffah (universal) berkewajiban menjaga Baitullah dari orang-orang yang berusaha mengganggunya, lebih spesifik lagi umat Islam yang tinggal di sekitar Baitullah juga lebih besar tanggung jawabnya dalam menjaga dan memuliakan Baitullah, sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi dan para sahabatnya. Semoga Allah SWT memberikan kemampuan kepada kita semua untuk menunaikan segala amanah-Nya.

Khusus bagi tamu-tamu Allah dan penduduk Makkah mempunyai kewajiban yang sangat besar yaitu menjaga Tanah Haram sebaik-baiknya dari ancaman luar atau dalam. Kaum Yahudi dan Nasrani dan Orientalis tidak akan rela terhadap keberadaan Baitullah sampai kapan pun. Contohnya; ketika kelahiran Nabi, Abrahah dengan pasukan gajahnya datng ke Makkah dengan maksud menghancurkan Baitullah. Abdu azh-Zhahir Al-Qarmaty berusaha mencuri Hajar Aswad. Konsul Jenderal Inggris di Jeddah, pada tahun 1304 H, mencoba menyebar fitnah kepada publik tentang bakteri dan virus dalam kandungan Zam-zam, risalah atau buletin itu berjudul “ Hujjatu Makkah wa Kolera Zam-zam”[9], serta usaha utusan Vatikan mencuri jasad Nabi.

Dalam era teknologi sekarang ini, banyak fasilitas-fasilitas yang dipergunakan Orientalis dan Zionis serta Missionaris untuk merubah pola hidup penduduk Makkah dan pemukim-pemukimnya. Mereka terus-menerus mengunakan fasilitas teknologi modern untuk merubah pola fikir dan pola hidup orang-orang muslim di muka bumi, khususnya di Makkah dengan budaya-budaya Barat yang bertentangan dengan akidah Islam. Jangan sampai muncul berhala-berhala modern yang akan mengembalikan penduduk Makkah dalam dunia jahilyyah. Merupakan kewajiban semua umat Islam, khususnya pemerintah, penduduk asli dan pemukim agar Makkah tetap dalam lindungan-Nya sampai akhir nanti.

Bagi pemukim dan jama’ah haji serta umrah, hendaknya memperhatikan sebaik-baiknya sopan-santun terhadap Baitullah agar menjadi tamu yang mendapat barakah dan ridha-Nya.

Etika Pemukim dan Tamu Allah

Baitullah dan sekitarnya memiliki nilai yang mulia disisi-Nya dan di mata Nabi dan sahabat-sahabatnya. Akhlaq Nabi terhadap Baitullah sangat mulia, baik ketika sebagai pemukim Makkah maupun ketika menjadi tamu Allah. Akhlak Nabi tersebut sangat mulia untuk menjadi qudwah kehidupan jama’ah haji dan pemukim. Ada bebarapa poin penting yang harus kita perhatikan dalam rangka menjadi tamu Allah, yaitu:

1.       Bersyukur

Tidak semua orang diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah dalam hidupnya. Oleh karena itu, merupakan nikmat yang sangat besar dan mulia bagi mereka yang diberi kesempatan untuk menunaikan haji dan umrah. Wajib bagi mereka bersyukur atas anugrah rizki serta dapat menunaikan ibadah haji dan umrah dan menyaksikan kebesaran-Nya di Makkah. Firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih[10].”

Wajib bagi tiap-tiap umat Islam menunaikan Rukun Islam yang ke-5, jika syarat-syaratnya sudah cukup. Jika tidak segera atau menunda-nunda menunaikan haji padahal syaratnya sudah mencukupi, maka dosa baginya dan tidak termasuk golongan orang-orang yang bersyukur, bahkan Nabi memperingatkan dengan tegas, barang siapa yang sudah mampu secara finansial (Istito’ah) untuk menunaikan haji, kemudian menunda atau tidak melaksankanya maka ia pantas meninggal dalam keadaan Yahudi atau Nasrani[11].

Realitas syukur dalam persiapan dan pelaksanaan haji bagi tamu-tamu Allah hendaknya memahami etika terhadap Baitullah baik berbusana, berfikir, berkata dan semua perilaku harus santun terhadap Baitullah. Tidak sedikit dari tamu-tamu Allah hanya membuang-buang harta-bendanya, mereka tidak bisa menjadi tamu yang baik serta bisa bersopan santun terhadap baitullah. Tidak sedikit dari mereka hanya mencari harta (berdagang saja) selama di Makkah,. Sering kita temukan dan kita dengarkan dari mereka yang menjadikan ritual haji seperti rekreasi, sehingga tidak membekas dan mengantarkan menjadi Haji Mabrur[12].

Banyak dari jama’ah haji kadangkala kurang memperhatikan etika terhadap Baitullah. Hal ini karena terkadang mereka tidak tahu, adakalnya yang tidak mau belajar, dan sebagian lagi meremehkan tentang pentingnya belajar pengetahuan  Manasik Haji.

Ketika musim haji tiba, jama’ah haji memadati kota Makkah, mereka senantiasa melaksankan shalat berjama’ah di Masjidil Haram. Syekh Abdul Fatah Rawaah tatkala memperhatikan jama’ah haji Indonesia disela-sela pengajian, beliau sering mengatakan bahwa banyak jama’ah haji yang belum tahu tentang ilmu haji dan hakikatnya. Beliau membaca salah satu ayat al-Qur’an yang artinya, “Maka tanyalah pada ahlu dzikir[13] sesungguhnya kalian tidak mengetahui”[14]. Khusus bagi jama’ah haji hariim (wanita), Indonesia sering menjadi obyek, ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang budaya serta adat istiadat bangsa Arab. Di sisi lain, hariim Indonesia kadang kurang beretika terhadap Baitullah, khususnya dari segi busana, berhias, banyak dari mereka ketika berangkat ke Masjidl Haram atau Masjid Nabawi memakai lipstik dan berhias, sehingga menimbulkan opini negatif bagi penduduk sekitarnya. Ada juga sebagaian dari hariim Indonesia menjadikan Makkah seperti di kampungnya.

            2. Bermuamalah Dengan Baik

Salah satu dari etika pemukim Makkah serta tamu-tamu-Nya, yaitu saling mengenal sesama jama’ah yang datang dari penjuru dunia. Sesama tamu Allah hendakanya saling memuliakan dan menghormati sehingga menjadi ikhwah wahidah seiman seagama tidak membedakan antara satu dengan lainya. Jama’ah haji atau umrah  adalah utusan Allah (wafdullah[15]), Rosulullah bersabda”

 عن أبي هريرة يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : وفد الله عز وجل ثلاثة الغازي والحاج والمعتمر( رواه النساءئى )

Dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan; Rosulullah SAW bersabda; ”Utusan Allah azza wajalla ada tiga; orang yang berperang di jalan Allah (mujahid), Orang yang menunaikan haji, menuniakan umrah.

Andaikata mereka memohon ampunan, niscaya Allah mengampuninya, andai mereka berdo’a maka Allah mengabulkanya, andai meminta, Allah memberinya[16]. Oleh karena itu, mereka mesti mendapatkan perlakuan istimewa sebagaimana Allah memulyakanya. Kendati demikian, kita tidak boleh memperlakukanya kurang pantas, apalagi menjadikan mereka kesempatan untuk memperoleh keuntungan semata. Siapa tidak menghormati dan memuliakan mereka maka seolah-olah tidak menghormati Allah. Bagi penduduk Makkah dan pemukim serta utusan Allah (wafdullah) tidak boleh berperilaku seperti perilaku orang jahiliyah dalam semua aspek kehidupan selama di Makkah, karena akan mempengaruhi kehidupan setelah menunaikan haji, bahkan bisa menjadi pemicu haji mardud (haji yang tidak diterima).

Penghormatan terhadap tamu-tamu Allah sekarang mulai berkurang seiring dengan lajunya biro bimbingan haji ( KBIH), serta Tour dan travel yang menjamur. Jama’ah haji dan umrah sering menjadi komoditas, walaupun tidak dipungkiri masih banyak bimbingan haji ( KBIH) serta Tour dan Travel yang benar-benar memberikan pelayanan maksimal, serta melayani jama’ah dengan baik layaknya tamu-tamu Allah SWT.

Opini Dunia Islam mengatakan bahwa penduduk Makkah dan pemukimnya adalah Jaarullah (tetangga Allah), mereka mempunyai akhlaq yang mulia serta sifat-sifat yang lebih mulia daripada penduduk bagian dunia lainya. Dizaman jahilyyah kuno, penduduk Makkah (orang qurais) terkenal dengan reputasi keramahanya, yang bukan saja menyediakan makan dan mimum melainkan juga karena menyambut baik setiap orang lain datang di Makkah[17]. Oleh karena itu hendakanya opini ini terjaga, jangan sampai utusan Allah kecewa dengan pelayanan penduduk Makkah dan pemukimnya.

Tamu-tamu Allah hendaknya juga memuliakan pemukim dan penduduk Makkah sehingga terlihat ukhuwah Islamiyah yang kokoh dan kekuatan umat Islam yang satu.

Kendati demikian, Wafdullah (utusan Allah) dan pemukim harus tahu tempat dan waktu  mubarakah dan mustajabah-nya do’a di Masjidil Haram. Mereka juga mesti tahu, tata cara berdo’a selama di Makkah dan Madinah. Di bawah ini tempat dan waktu mubarakah bagi yang berdo’a, dan insya-Allah mustajabah. Imam Nawawi menjelaskan secara rinci dalam kitab al-Majmu’, sedangkan Imam Jalaludin Al Suyuti mengamini, beliau mengatakan ada lima belas tempat dikabulkan do’a[18], antara lain, sbb:

1.       Waktu thawaf.

2.       Di Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah).

3.       Diantara rukun Yamani dan Hajar Aswad.

4.       Di bawah Miizab (Hijir Ismail)

5.       Di dalam Baitullah

6.       Di dekat sumur Zam-zam

7.       Di Bukit Shafa dan Marwa

8.       Di tempat Sa’i

9.       Di belakang Maqam Ibrahim

10.    Di hari Arafah

11.    Waktu mabit di Muzdalifah

12.    Di Mina (pada ayyamul tasyriq)

13.    Ketika selesai melontar Jumrah.

Namun kemustajaban do’a juga tergantung pada kebersihan lahir dan batin, niat yang lurus serta etika terhadap Baitullah. Dalam keterangan lainnya disebutkan, didalam Masjidil Haram dan sekitarnya termasuk kota suci Makkah, semua do’a insaAllah dikabulkan. Sebagian ulama’ menyarankan selama di Makkah disunnahkan mengkhatamkan al-Qur’an dan setelah itu berdoa, sebab do’a setelah menghatamkan Al Qur’an kemudian berdo’a ditempat Mustajabah insaAllah akan diterima




[1] . Artinya, selama di Madinah menjalankan sholat fardu empat puluh kali berjama’ah dengan tidak terputus

[2] . tempat yang sangat istimewa, tempat yang digambarkan taman surga, tempat ini diyakini mempuyai banyak keitimewaan, termasuk dikabulannya do’a.

[3] . Karen Armstrong Muhammad Sang Nabi Sebuah Biografi Kritis, , 65 cetakan Risalah Gusti, Maret 2001 Surabaya.

[4] . Jamiul Bayan an Ta’wili au Al Qur’an, Ibnu Jarir Al Tobari, 5/323

[5] . Martin Lings ,Rosulullah Muhammad, 19. cetakan  PT Serambi Ilmu Semesta, 2007

[6] . Ibnu Katsir, Bidayah Wa Al Nihayah, 2/298.

[7] . Ibnu Katsir, Bidayah Wa Al Nihayah 2/291– Maktabah Al Maarif- Beirut.

[8] . Ibnu Atsir, Al Kamil Fi Tarikh, 1/570 Darul Kutub Ilmiyah- Beirut.

[9] .  Fadoil Mai Zam-zam ( Keutmaan Air Zam-zam), Said Bagdas 163, Darul Basair Al Islamiyah-Beirut

[10] . QS. Ibrahim 7

[11] . Abu Abdullah, Al Qurtubi, Tafsir Al Jami al Ahkam Al Qur’an, 4/136-Darul Fikr- Beirut.

[12]. Menurut para ulama’ yang dimaksud haji Mabrur adalah haji yang diterima Allah SWT, sedangkan tanda-tandanya yaitu prilakunya semakin membaik, ibadahnya semakin meningkat, kemudian engan melakukan maksiat. Sedangkan haji mardud yaitu haji yang tidak diterima, ini terlihat dari prilakunya yang tidak berubah, baik ibadah serta ahlaqnya, kecenderungan berbuat negatife (maksiat) lebih dominan dari pada melaksanakan perintah-Nya.

[13].Yang dimaksud Ahlu Dzikir adalah para ulama yang kompeten dibidang ilmu agama, sedangkan Imam Suyuti mengatakan didalam tafsir jalalain bahwa yang dimaksud Ahlu Dzikr adalah  Ulama Taurat dan Injil.

[14] . QS. Al Nakhl 43

[15] . Imam Al Nasai, No 3121, Sunan Ibnu Majjah no, 2893.

[16] . Abu Hamid, Muhammad, Imam Al Ghozali Ihya’ Ulumuddin, , 1/240- Darul Ma’rifah-Beirut

[17] . Martin Lings, Muhammad Rosulullah, 110 Pustaka Serambi, Ilmu Semesta.

[18] . Al Suyuti, Jalalludin, Al Darul Mansur  1/29 Darul Fikr-Beirut

 

 

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s