Trik Islami Memperoleh Generasi Unggulan

    Trik Islami Memperoleh Generasi Unggulan

Dibidang Inteletual, Emosional dan Spritual

Abdul Adzim LC

 

Trik Islami Memperoleh Generasi Unggulan  Dibidang Inteletual, Emosional dan Spritual  Abdul Adzim LC

Setiap orang tua mendambakan memiliki keturunan yang lebih baik dari dirinya, baik fisik, intelektual, emosional dan spritualnya. Tidak sedikit orang tua yang rela bersusah payah, prihatin, ada pula yang melakukan ritual tertentu, misalnya dengan berpuasa mutih, rajin puasa sunnah, rajin bertahajud, gemar bersedekah. Semua dilakukan agar anak yang akan terlahir memilki kelebihan dibanding kedua orangtuanya. Setiap orantua merasa bangga, bersyukur atas rahmat-Nya, manakala memilki putra yang tampan, gagah, bagus jiwa raganya, atau seorang putri yang berparas ayu, serta lihur budi pekertinya.

          Tetapi, sudahkah orang tua melakukan trik-trik tertentu, sesuai dengan tuntunan qur’an dan hadis Nabi, bagaimana memperoleh keturunan yang unggul disemua bidang. Orang jawa kebanyakan mengatakan’’ bibit, bobot dan bebet” adalah salah satu istilah yang sering kita dengar. Artinya; memilih pasangan hendaknya dari keturunan yang baik-baik, kemudian memilki kemampuan lebih baik intelektual, emosioanal serta spritualnya, kemudian yang dimaksud bebet yaitu ketekunan ibadah kepada sang pencipta alam semesta.

Dibawah ini trik-trik untuk memperoleh keturunan yang diharapkan memilki kemampua lebih disegala bidang, sesuai dengan tuntunan islam sebagai agama.

Berangkat dari hadis Nabi yang isinya memerintahkan agar supaya memilih pasangan harus memiliki empat criteria;

1.        Cantik : Yang dimaksud cantik disini, yaitu terkait dengan kesehatan jasmani dan ruhani, artinya setiap laki-laki atau perempuan mesti sehat lahir dan batin ketika hendak menikah. Sehingga bahtera rumah tangga yang akan dilalui penuh dengan keharmonisan, karena masing masing bisa memenuhi hak dan kewajiban sebagai seorang istri atau suami. Bagi seorang istri; wanita mesti sehat fisik, reproduksi sebagaimana isarat Nabi yang menganjurkan setiap wanita yang akan dinikahi mesti al-walud dan wadud. Didalam bahasa Arab, yang dimaksud walud dan wadud yaitu wanita yang berlatar belakang sehat secara reproduksi ( banyak anak). Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan disini adalah Ibu calon mempelai wanita atau mempelai laki-laki. Apakah mereka termasuk wanita yang memilki keturunan, atau sebaliknya. Sedangkan yang dimaksud dengan al-wadud yaitu wanita yang memiliki karakter atau sifat yang penih dengan kelembutan, kasih sayang, serta setia terhadap pasangan hidupanya selama menjalani bahtera rumah tangga. Untuk menegtahuinya, kita dianjurkan agar melihat latar belakang kedua orangtuanya, apakah mereka termasuk kelompok yang memiliki karakter tersebut. Nabi pernah berpesan kepada sahabat yang jatuh cinta kepada seorang wanita yang berparas jelita, dan bermateri. Sahabat tersebut berniat menkahinya, akan tetapi Nabi tidak menyetujuinya lantaran wanita tersebut ternyata tidak bisa memilki keturunan, sebagaimana yang diinformasikan sahabat. Kemudian Nabi berpesan didalam sebuah hadisnya” Menikahlah kalian semua terhadap wanita yang memiliki cinta ksih dan keturunan, karena sesunggunya aku sangat bangga dengan jumlah pengikut kelak dihari kiamat[1]”dalam keterangan hadis lain, sebaik baik wanita adalah al-walud dan al-wadud[2].

2.      Bermateri; yang dimaksud disini bermateri disini bukan mesti kaya harta, tetapi mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, syukur-syukur memiliki kelebihan materi, sehingga bisa digunakan untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur islam. Tetapi, materi juga menjadi anjuran baginda Nabi, disamping itu beliau juga memberikan contoh, menikah dengan seorang wanita cantik, bernasab, serta bermateri sehingga beliau bisa melaksanan hak dan kewajiban sebagai hamba Allah yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai luhur islam.

3.       Bernasab :nasab memiliki peranan yang sangat penting didalam membina rumah tangga. Yang di maksud Nabi tengtang nasab yaitu, setiap orang yang hendak menikah, hendaknya memperhatikan silsilah atau keturunan. Dengan demikian, duriyyah atau keturunan dikemudian hari lebih baik,  secara fisik dan ruhani, serta inteletualitasnya. Didunia barat sudah mulai didengungkan revolosi seksual. Salah satu tujuanya yaitu mencari bibit yang unggul, tanpa melalui proses menikah sebagaiman yang diperintahkan islam. Tetapi mereka, lebih selektif didalam memilih bibit yang mau dijadikan generasi meneruskan perjuangan orang tauanya.

4.      Berahlak: Nabi mengutamakan ahlaq, cantik, materi, serta nasab tidak akan berarti tampa ahlaq. Dengan demikian, ahlaq lebih utama didalam memilih pasangan hidup. Karena budi pekerti yang baik menunjukan kekokohan serta ketaatan terhadap agamanya.

Empat yang disebutkan diatas merupakan tuntunan Islam didalam memilih pasangan hidupnya, agar keturunan yang akan dilahirkan memilki kemampuan inteletual, emosional dan spritualnya yang lebih baik, ini yang disebut dengan bibit, bebet, bobot.

Setelah mendapatkan wanita atau pria yang memiliki tiga B, barulah melanjutkan proses yang kedua yaitu khitbah[3] (tunangan). Yang dimaksud disini yaitu, sebelum meminta wanita yang hendak menjadi Ibunya anak-anaknya, mesti melakukan prosesi ritual yang dikenal dengan istikharah. Istikharah ini dilakukan agar mendapat petunjuk dari Allah agar supaya perjalanan bahtera rumah tangga benar-benar mendapatkan berkah, hidayah dan tafik dari Allah SWT. Sehingga segala rintangan, problematika benar-benar tidak berarti, artinya bisa diatasi dengan baik serta senantiasa mendapatkan petunjuka-Nya. Sebab, tidak sedikit dari rumah tangga yang penyelesain problematika rumah tangga dengan kekerasan atau dengan saling menyalahkan bahkan sampai menimbulkan perceraikan, jika ini terjadi, maka putra-putrinya menjadi korban, hubungan dengan mertua dan famili juga akan terganggu bahkan bisa menimbulkan putusnya tali silaturahmi yang telah lama dibangun.




[2] . H.R Imam Baihaki 6/1310-

[3] .Khitabah artinya tunangan dimana seorang laki-laki (orangtuanya) datang ke fihak istrinya meminta putrinya untuk dijadikan istrinya. Dengan catatan putri tersebut masih belum ada yang meminangnya, jika putrid tersbeut masih dalam proses pinangan orang lain, haram hukumnya meminangnya sampai pinangan yang pertama telah usai (tidak diterima).

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s