Cerita Pendek (cerpen)

Seorang lelaki bernama kastubi, ia bagun ketika dipagi hari, setelah melaksanakan sholat subuh, ia berjalan dengan mendorong gerobak. Dengan menyususri lorong, gang-gang kecil, satu persatu tong brisi sampah diangkat dimasukan kedalam gerobak. Setiap hari dia melakukan ini tanpa keluh kesah, gerobak yang yang didorong setiap hari ternyta mampu memberikan berkah keluarganya. Ia mampu menyekolahkan anak-anaknya, serta menghidupi keluarganya dengan baik layaknya pejabat dan konglomerat. Yang lebih mengesankan, ternyata ia juga menjadi muadin ( tukang adzan) masjid dikampungnya.

                Sungguh hebat, bahkan lebih hebat dari biasanya, ternyata kemiskinan yang ia derita tidak membuat ia keluh kesah seperti kebanyakan pejabat dan konglomerat. Ia menikmati hidupnya, keluargnaya penuh dengan kerukunan dan keharmonisan, tidak pernah terdengar bertengkar atau berebut materi. Rumahnya yang kecil ditenggah-tenggah kampung terasa sejuk dengan berkah ilahi.

                Sering kali aku  merasa cengah, malu serta sungkan ketika membicarakannya. ia terlihat  terhimpit dalam kemiskinan, padahal ia hidup didalam naungan tuhan, sehingga aktifitasnya berjalan dengan sempurna baik mendorong gerobak sampah, serta sebagai anggota masyarakat, serta sebagai tukang adzan, serta sebagai hamba-Nya yang taat beribadah. Ia menjalani hidup penuh dengan kesabaran, qonaah, syukur, serta apa adanya.

                Tuhan sebagai dzat yang berkuasa, mungkin menilaianya sangat sempurna, dari pada mereka yang berdasi, bermersi, serta beraneka ragam jabtan serta title dipundaknya, tetapi kurang menyukuri apa yang dimilkinya, sehingga hidupnya gersang dan penuh dengan kerakusan. Sering kami merasa cemburu dengan mereka, kenapa ia bisa begitu tegar, sabar, kuat dan kokoh serta qonaah dalam menjalani hidupnya. Resah dan gelisah tidak nampak pada raut mukanya. Senyumanya membuat orang tersenyum, karena ia dapat menjalani hidup dengan sederhana serta dalam naungan tuhan.

                Ini adalah pelajaran berharga bagi semua, baik pejabat, konglomerat, dosen serta  mahasiswa, ternyata hakekat hidup yang sebenaranya adalah mereka yang menerima apa adanya apa yang telah mereka miliki, menyukuri anugerah-Nya, sabar atas semua musibah yang menimpanya. Pak kastubi, adalah lebih terhormat di mata tuhan…..

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Cerita Pendek Banget. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s