Nabiku-Muhammad SAW

Nabi tidak hanya di puji, dikagumi atau diratapi, tetapi perlu diteladani dalam semua aspek kehidupannya, baik pribadi, keluarga dan masyarakat bahkan bernegara perlu di teladani oleh pengikutnya. Kehadiran Nabi dimuka bumi ini bukan kebetulan, tetapi memang sudag digariskan oleh dzat yang maha penyayang. Ini terbukti ketika Nabi musa di kabari oleh Jibril as, bahwa pahala sholat subuh berjama’ah pahalanya sangat dasyat, siapa yang sholat isa’ dan subuh berjamaah seolah-olah ia telah melakukan sholat malam semalam suntuk. Jika, sebelum sholat subuh melakukan sholat fajar dua rakaat maka seolah-olah pahalanya lebih baik dari dunia dan isinya. Berita tengtang pahala sholat subuh berjama’ah telah dinformasikan kepada Nabi Musa’ kemudian ia mengatakan”saya berharap menjadi umatnya[1]”. Bahkan dalam sebuah literatur sejarah, cahaya Muhammad sudah ada sebelum Adam as diciptakan.

Allah telah mempersiapkan Nabi sedemikian rupa, tujuanya adalah untuk kemaslahan alam semesta, al-qur’an menyebutnya dengan “Rahmatan lil alamin”. Nabi Muhammad bukan hanya untuk umat islam, tetapi untuk semuanya. Akan tetapi, islam lebih berhak atas beliau, sebagaimana ungkapan beliau yang dirilis dalam sebuah hadis yang artinya”Beruntung sekali mereka yang pernah meilhatku lantas percaya kepadaku, beruntung sekali bagi mereka yang tgidak pernah melihatku dan percaya kepadaku”. Pengakuan Nabi ini sangat istimewa bagi umatnya baik yang telah tiada, masih hidup bahkan bagi mereka yang hidup di masa mendatang. Dengan catatan, mereka beriman pada semua yang di bawa oleh Rosulullah, dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Makkah adalah ptempat pilihan Allah untuk manusia istimewa, Baitullah adalah pilihan Allah sebagai pusat peribadatan umat islam, al-qur’an juga pilihan-Nya sebagai mu’jizat Nabi yang bersifat abadi. Zam-zam adalah air mu’zijat bagi Nabi, beliau di cuci hatinya oleh para malaikat empatkali, sehingga Nabi tidak memilki sifat-sifat negatif dalam hatinya seperti; iri, dengki,riya’,sombong, sumah, namimah serta penyakit hati lainya. Nabi selalu positif thinking terhadap orang lain, sehingga beliau benar-benar sempurna didalam menjalankan semua aktifitasnya. Semua dilakuakan atas dasar petunjuk-Nya, al-Qur’an mengambarkan dengan “ tidaklah Nabi mengucapkan sesuatu karena Nafsunya, tetapi semuanya dalah wahyu dari-Nya”. Dengan demikian, semua yang diucapkan, tindakan serta sikap beliau bisa dipertangung jawabkan kebenaran secara ilmiah. Karena tidak mungkin seorang Nabi melakukan tindakan yang bertengtangan dengan al-Qur’an, tidak mungkin Nabi mengatakan sesutu yang sesuai dengan tuntunan agama. Andaikata, ada ucapan atau tindakan belaiu yang belum mampu kita sentuh secara ilmiah, atau logika, ini merupakan bukti ketidak berdayaan manusia sebagai mahluk yang sangat terbatas.

 




[1] . Disampaikan oleh KH.Abdurahman Pelaosan saat memberikan ceramah agama di Masjid al-Ihsan Gadang, dalam rangka peringatan Maulid Nabi SAW, tanggal 20 Maret, pukul 10.30 WIB.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s