Meneladani Tutur Nabi

Al-Qur’an menegaskan bahwa didalam kepribadian Nabi terdapat “Uswatun Hasanah”. Makna uswatun hasanah sangat universal artinya segala sesuatu yang terkait dengan tindakan,ucapan, sikap, serta budi pekerti Nabi. Dalam tulisan ini, penulis sangat kagum dengan tutur Nabi, baik ketika menjawab pertanyaan, berdiskusi, bertanya, atau menyampaikan informasi dari langit (wahyu) kepada para sahabatnya. Yang dimaksud sahabat Nabi yaitu mereka yang hidup dijamannya dan beriman, sedangkan yang tidak beriman tidak dikategorikan sahabat. Sahabat Nabi meliputi laki-laki dan perempuan, tua, muda bahkan masih anak-anak juga termasuk sahabt. Dalam sebuah keterangan kitab  Tudikhul  Afkar, Jin yang beriman kepada Nabi juga termasuk sahabat.

                Tutur Nabi sangat perlu diteladani bagi setiap orang, khususnya umat islam yang setai kepadanya. Umat Nabi yang beraneka ragam etnis, budaya, bahasa, serta warna kulitnya bahkan pola hidup dan makan juga berfariatif. Umat islam perlu meneladani tutur Nabi, tidak perduli pejabat, konglomerat, tukang kayu, tukang batu, guru, murid atau apa sajalah, mualai yang elit sampai paling alit….

Ternyata Nabi Muhammad junjungan umat islam, sangat santun didalam memilih kata-kata ketika sedang menyampaikan informasi dari langit kepada pengikutnya. Nabi juga sangat santun ketika berbicara dengan masyarakat sekitarnya, anggota keluarganya. Keramahan beliau dalam tutur sapa terhadap lingkungan dan tetangganya tercermin dalam sebuah hadis Nabi yang artinya” Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mulyakanlah tetangganya, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muyakanlah tamunya, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya berutur kata yang indah, atau diam manakala tidak bisa”.

                Makna hadis diatas sangat dasyat, iman seseorang idak bisa sempurna jika belum bisa berbuat baik terhadap lingkungan, tamu yang datang, serta tidak bisa bertutur kata yang sopan dan indah.  Inti dari tulisan ini, umat Nani hendaknya memilih kata-kata yang indah, santun ketika menyapa, menjawab, berdiskusi, atau sedang menyampaikan informasi kepada lawan bicara atau audensi. Jangan sampai, lawan bicara atau audensi merasa tersinggung atau sakit hati, karena ini akan mengurangi kadar kesempurnaan iman seseorang. Orang yang rajin beribadah akan tetapi sering sekali menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak santun maka akan mengurangi nilai keimanan. Oleh karena itu, hendaknya tutur kita mesti enak didengar, wajh kita sedap dipandang, sikap kita indah dilihat.

 Nabi selalu memilih kata-kata yang indah didengar, tegas, benar serta tidak menyingung perasaaan sehingga setiap orang yang bertemu selalu merindukannya. Contoh; Nabi memiliki istri yang masih muda, cantik, cerdas, akan tetapi sering kelihatan marah. Ketika istri marah, Nabi menagapinya dengan senyuman dengan mencubit hidung istrinya, seketika itu suasana menjadi indah dengan penuh canda. Nabi juga memangila istrinya dengan sebutan yang sangat sejuk diedengar, misalnya Ya Ais. Pangilan ini memperindah suasana, sehingga karakteristik wanita yang suka di puja muncul sehingga keharmonisan, keromatisan, serta keindahan terwujud didalam keluaraga. Nabi juga sering memangil istrinya dengan” Ya Khumaira’artinya istriku yang pipinya kemerah-merahan. Disisi lain, Nabi juga tidak pernah mencela masakan istrinya, justru kalau ditanya, Kanjeng Nabi, apakah masakanya enak? Alhamdulillah nikmat sekali, jawab Nabi. Walaupaun realitanya tidak demikian.

Begitu indahnya tutu baginda sangat indah untuk ditealadani bersama. Fenomena sekarang sangat jauh dari tutur Nabi. Menghina, mencela, serta menyakiti dengan kata-kata sudah menjadai tradisi. Banyak buku, makalah, artikel serta diskusi, dan informasi berisi hujatan, celaan, serta rasa dengki terhadap sesame. Budaya ini perlu ditinggalkan, agar sempurna keimanan seseorang, sehingga masyarkat menjadi tentram dan damai.(azzimi@yahoo.com)

 

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s