Meneladani ” Bagaimana Nabi Menyapa”

Kesempurnaan Muhammad sebagai utusan Allah, sekaligus sebagai manusia biasa sangat indah untuk d teladani, sifat,budi pekerti, tindakan, tutur, serta semua yang terkait dengan beliau benar-benar sangat sempurna. Telah banyak buku seputar biografi Nabi yang ditulis oleh sejarawan baik muslim atau orientalis,ternyata mereka mengagumi baginda Nabi Muhammad SAW. Tidak satupun dari para sahabat Nabi merasa tidak diperhatian, mereka merasa cinta serta damai dan tentram jiwanya, sejuk matanya ketika berdekatan dengan manusia sempurna ini.

Sungguh indah, tidak ada nikmat yang paling indah sebagai muslim sejati kecuali mencintai Nabi dan mengikutinya dengan sebaik-baiknya. Walaupun belum pernah melihat sosok Nabi yang sebenarnya, tetapi telinga kita telah mendengar kesempurnaan beliau bahkan rasa cinta beliau kepada pengikutnya. Cinta dan perhatian Nabi kepada pengikutnya tertuang dalam sebuah hadis yang di riwayatkan Imam Ahmad yang artinya” Beruntung sekali bagi siapapun yang pernag bertemu dengan diriku lantas ia percaya kepadaku, beruntung sekali bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan diriku .tetapi berimana kepadaku”. Ini adalah ungkapan cinta serta perhatian yang sangat mendalam seorang utusan Allah kepada para pengikutnya. Ungkapan ini meliputi para sahabat (jin dan manusia), serta para tabii, salafussoleh, serta ulama’ bahkan semua pengikutnya, tidak perduli apa statusnya. Mereka masuk dalam hadis tersebut. Nabi sebagai utusan bukan hanya untuk manusia tetapi untuk semuanya (alam semesta) Allah berfirman “ tidak aku utus engkau kecuali untuk memberi rahmat bagi alam semesta”.

Manusia adalah mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainya. Sebagai pengikkut setainya mesti meneladani semua aspek kehidupan Nabi dengan sebaik-baiknya. Di bawah ini akan disebutkan bagaimana Nabi memberikan ucapan selamat kepada sahabatanya serta orang non islam atau menjawab ucapan salam mereka yang non islam. Ini adalah bagian dari tutur Nabi yang mesti kita teladani sebagai tanda cinta kepada beliau.

Mengucapkan Salam

Salam bagi sebagian orang adalah biasa, bagi orang islam tidak demikian. Salam bagi pengikut Nabi merupakan amalan yang sangat luar biasa. Salam bukan sekedar ucapan selamat, tetapi salah satu amalan yang bisa mempermudah orang masuk surga. Ada empat amalan yang disinyalir dapat menjadi wasilah mempermudah masuk surga dengan aman dan sentosa. Amal tersebut yaitu memberi makan (lumo), kepada orang yang membutuhkan, membeudayakan salam (menyapa dengan salam), membangun silaturahmi (interaksi sosial), serta membiasakan sholat malam. Dengan demikian “ engkau akan masuk surga dengan selamat[1]” . Begitu besarnya pahala mengucapkan salam terhadap sesame muslim, sampai-sampai Nabi menjanjikan surga yang sangat indah dan dipenuhi dengan segala kenikmatan dan kelezatan. Banyak dari ulama’ terdahlu dan sekarang benar-benar mengamlkan hadis Nabi, sehingga setiap bertemu dengan siapapun, pasti mendahuli salam dengan harapan mendapatkan balasan surga. Adakalanya, uamat islam yang tidak tahu, belum bahkan tidak mau tahu, mereka sekedar mengucapkan salam akan tetapi tidak tahu tujuan serta manfaat bahkan pahalanya. Salam diangap sebagai ucapan biasa yang tidak bermakna, sehingga bisa dicuapkan siapa saja, dan dimana saja, dan kapan saja.

Etika Mengucapkan Salam

Nabi adalah utusan yang suka menyapa dengan salam “ Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh”, artinya semoga keselamatan dan kesejateraan (kasih sayan) Allah dan dan barokah-Nya hanya untuk kalian. Jika salam ini keluar dari lisan Nabi yang mulia, akan memiliki sejuta makna. Begitu juga, para ulama dan pengikut Nabi seperti kita semua, pastilah kesejateraan, kasih sayang Allah serta berkah-Nya akan menyertai orang yang mengucapkan salam serta siapapun yang menjawabnya.

Etika mengucapkan salam di klasifikasikan menjadi tiga bagian, masing-masing memiliki ketentuan dan etika, sesui dengan tuntunan Nabi, dengan tujuan kemaslahatan bersama. Di bawah ini beberapa etika mengucapkan salam sesama muslim;

Etika Sesama Muslim al;

  1. Setiap bertemu dengan sesama muslim atau sedang bertamu (silaturahmi) hendakanya kita mendahului dengan mengucapkan salam. Suatu ektika ada seorang laki-laki (sahabat) datang kepada Nabi dengan mengucapkan Assalamualikum, maka Nabi menjawabnya, kemudiai beliau mengatakan “ sepuluh”, lantas laki-laki duduk. Datang laki seorang laki-laki dengan mengucapkan “Assalamualikum warahmtullah”, maka Nabi menjawabnya, lantas Nabi mengatakan” duapuluh”, lantas laki-laki itu duduk. Datang lagi seorang laki-laki kehadirat Nabi dengan mengucapkan salam “ Assalamualaikum warahmtullahi wabarokatuh” Nabi menjawabnya, kemudian Nabi mengatakan “ tigapuluh[2]”. Sikap dan Jawaban Nabi terhadap tiga laki-laki merupakan pembelajaran bahwa setiap salam yang diucapkan mempuyai nilai. Nilai sepulu, duapuluh, tigapuluh, merupakan pahala bagi tiap-tiap orang yang mengucapkan salam. Nabi juga tidak menampakan muka yang masam ketika menjawab, Nabi juga tidak menegurnya karena semuanya benar. Nabi tidak ingin sahabat yang hanya mengucapakan “ Assalamualikum” malu atau tersinggung, tetapi jawaban yang kedua dan ketiga adalah pelajaran bagi yang pertama. Begitulah Nabi mengajarkan Sesuatu kepada sahabat-sahabatnya, serta semua pengikut bagaimana supaya tidak menyinggug perasaan orang baik dengan sikap atau tuturnya.
  2. Jika bertamu, hendaknya memilih waktu yang tepat, al-Quran didal surat al-Nur mengisaratkan pada sore (setelah sholat asar). Sebagai tamu, tidak lupa mengetuk pintu dengan mengucapkan salam. Nabi mengisarkat bahwa salam tersebut mesti tiga kali, manakala tuan rumah tidak menjawabnya (tidak) ada jawaban, maka sanga tamu mesti kembali. Kenapa mesti tiga kali, tentunya meneladani seorang Nabi, beliau sering kali mengucapkan sesuatu dengan mengulang-ulang sampai tiga kali dengan tujuan agar difahami dengan baik. Belaiu mengatakan” jika kalian datang (bertamu) terhadap sekelopok orang (seseorang), hendaknya engkau mengucapkan salam kepada mereka tiga kali berturut-turut[3]”. Dalam suatu riwayat lain, Nabi pernah megatakan “ tidak berkurang sedikitpun materimu ketika disedekhkan, namun akan bertambah, bertambah, bertambah……begitulah Nabi, beliau sering mengulang-ulang kalimat yang diucapkan tiga kali berturut-turut agar lebih mudah difahami, serta lebih yakin kebenaranya.
  3. Didalam kehidupan sosial, manusia mesti berinteraksi dengan lingkungan tetangga dan sekitarnya. Manakala bertemu dengan orang tua, mertua, anggota keluarga, teman, kerabat, tetangga dan lain sebagainya. Maka, hendaknya mengucapkan salam sebagai tanda penghormatan sesama muslim. Akan tetapi, perlu diperhatikan etikanya, sebagaimana keterangan Nabi dalam sebuah hadisnya yang artinya” Sesunggunya sebaik-baiknya manusia disisi Allah yaitu orang yang mendahuli mengucapkan salam[4]”. Sedangkan dari sisi urutan, mestinya orang yang sedang berkendaraan mendahului salam terhadap orang yang berjalan kaki, mereka yang berjalan mesti mendahului salam terhadap mereka yang sedang duduk , kelompok kecil mesti mendahului terhadap jumlah yang lebih besar. Ini hanya etika, akan tetapi yang lebih penting adalah mengucapkan salam. Siapa yang lebih dahulu, maka ia akan lebih bagus dan mulya disisi Allah. Begitu pentingnya, sehingga Nabi senantiasa menganjurkan mengucapkan salam kepada pengikutnya agar komunikasi dan interaksi sosial benar-benar terjalin dengan baik dan damai. Dengan demikian, salam merupakan cermin kedamain, ketentraman serta tidaknya adanya perasaan negatif didalam diri seorang muslim.
  4. Kirim Salam ; kirim salam dalam masyarakat Arab,Indonesia serta islam pada umumnya sudah menjadi budaya. Bagaimana kita menyikapinya, ternyata hal ini juga ada tuntunan dari Nabi. Dalam literatur budaya indonesia sering kita temukan seorang mengatakan’’tolong sampaikan salamku kepada orang tuamu. Ia menjawab’’ InsaAllah saya sampaikan”. Mestinya begini “Assalamualaikum warahmatullah, tolong salamku ini sampaikan kepada orang tuamu. Lantas jawabnya, InsaAllah, jika sudah ketemu. Manakala sudah berjumpa, tua, ia mesti mengatakan’’ ustad nitip salam untuk disampaikan kepada kepada bapak “Assalamualaikum warahmatullah”. Orang tua menjawab dengan “ Alaika wa ala abika al-salam”[5]. Sering kita temukan dalam hadis Nabi, bahwa beliau pernah mendapat salam dari Allah SWT, begitu juga siti Aisah.

Etika Salam Terhadap Non Muslim

  1. Terhadap Non muslim kita juga mesti mengucapkan selamat, hanya saja ucapan tersebut berbeda dengan ucapan didalam etika umat islam. Yang penting ucapan itu adalah penghormatan terhadap mereka serta tidak ada unsur negatif. Dalam hal ini, yang dimaksud Non Muslim yaitu mereka yang bukan beragama islam. Adapun pengertian Non Muslim dalam dunia sekarang ini sangat universal, karena meliputi ; Yahudi, Nasrani (ahlu kitab), Konghocu, Hindu, Budha, Kepercayaan. Kita mesti memulai dengan menyapa mereka dengan bahasa yang ramah, santun serta menyinggung serta tidak bertengtangan dengan syariat islam, seperti halnya’’selamat pagi, selamat siang, selamat malam”. Dengan demikian, interkasi sosial dan silaturahmi tetap terjalin dengan tidak menyakiti atau menyinggung perasaan oarng laian. Namun demikian, dalam dunia globalisasi ini, sering kita temukan orang Non muslim menyapa terlebih dahulu dengan mengucapkan salam”Assalamualaikum”, karena salam sudah menjadi bahasa umum. Ternyata Nabi juga memberikan cara menjawab salam, dengan menjawab ‘’ Waalaikum” saja. Tujuanya yaitu tetap menjawab dengan tujuan tidak menyakiti mereka sebagiaman sabda Nabi dalam hadisnya yang artinya” ketika ada seorang ahli kitab menngucapkan salam kepada kalian, maka jawablah dengan ‘’ Waalaikum[6]
  2. Bagi umat islam, mendahuli salam (Assalamualikum warahmtullah) kepada mereka Non Muslim tidak diperkenankan. Ini merupakan bentuk toleransi, artinya umat islam mesti komit terhadap ajaranya dengan tidak mengunakan salam akan tetapi bisa diganti dengan selamat pagi dan lain sebagianya. Larangagan ini ditegaskan oleh Nabi dalam sebuah hadisnya yang artinya “Janganlah engkau mendahului mengucapkan salam kepada orang-orang yahudi dan Nasrani”[7]. Akan tetapi jika terdapat sekelompok orang, diantara mereka terdapat orang islam maka dibolehkan mengucapkan salam, sebagaimana yang dilakukan Nabi ketika menyalami kelompok yang terdiri dari orang islam, kafir, serta musrik, yahudi[8]. Perlu ditekankan, yang mengucapkan salam hendaknya berniat dalam hatinya menyalami kepada mereka yang beragama islam yang hadit diantara mereka. Kenapa demikian, karena besarnya pahala mengucapkan salam kepada mereka sesame muslim, sedangkan wajib menjawab salam bagi setiapa muslim. Tetapi, jika diantara salah satu dari mereka telah menjawab salam, maka gugur kewajiban yang lain. Halnya saja, mereka yang tidak menjawab tidak mendapatkan pahala.

Etika Salam Kepada Ahli Kubur.

Dalam sebuah keterangan, al-Qur’n menegaskan bahwa Nabi di utus untuk semuanya “aku tidak mengutus-mu kecuali membawa rahmat bagi semesta alam[9]”,. Yang di maksud alam semesta menurut agamawan adalah semua alam semesta dan isinya, hal ini diungkapkan oleh Qurais Sihab dalam cermahnya di Masjid Al Hikmah Universitas Malang dalam rangka Maulid Nabi[10]. Syeh Ali al-Shobuni juga menjelaskan didalam bukunya yang berjudul “ Rowaiul Bayan” seputar makna “ al-Hamdu Lillahi Robbil Alamin”. Oleh karena itu, sering kita temukan dalam sejarah kehidupan Nabi, bahwa beliau pernah disalami oleh bebatuan serta tumbuh-tumbuhan yang dilewati oleh beliau. Bahkan mendung pernah melindunginya dari sengatan panasnya matahari, ini terjadi ketika beliau sedang berada di negeri Syam.

Tidak ada alasan bahwa orang yang telah mati tidak bisa berinteraksi, hanya saja cara interaksinya berbeda dengan manusia yang bernyawa. Orang didalam kuburan juga memerlukan tentangga, bantuan, serta kunjungan dari manusia yang masih bernyawa. Mereka bisa komunikasi dengan sesamanya, ini terbukti dengan salah satu keterangan Nabi yang menjelaskan bawah setiap orang yang melewati pemakaman hendakanya mengucapkan “Assalamualaikum ya ahla qubur” hadis lain Nabi juga pernah mengatakan” janganlah engkau mengatakan Alaikassalam, karena itu adalah penghormatan bagi orang yang telah meninggal dunia[11]”. Ini merupakan bukti bahwa orang yang berada didalam quburan juga bisa berkomunikasi sebagaiama Nabi pernah memasuki kawasan baqi’ beliau mengucapkan”Assalamualaikum ahla dari qaumin mu’minin”. Imam Baihaki pernah mensyiyalir dalam sebuah keterangan bahwa orang didalam kubur itu ternyata bisa saling mengunjugi satu dengan laianya. Wallau a’lam


[1] . H.R. Imam Ahmad, Al Hakim, Ibnu Hibban, di nukil oleh Sayid Muhammad Alwai al-Maliki dalam bukunya “ Karakteristik Umat Muhammadiyah, 159.

[2] . Ibnu Qoyyim al-Zauziyah 2/281- Zadul Muad fi Hadyi khoitil Ibad- Muassasah al-Risalah

[3] . Ibid, 2/ 382

[4] . Ibid, 2/376

[5]. Ibid, 2/390

[6] . HR. Muslim N0 2163, bab Al-Salam tengtang larangan bagi setiap muslim mendahuli menyapa dengan mengucapkan Salam kepada mereka.

[7] . HR.Muslim 2167.

[8] . Ibnu Qoyyim, 2/389-Muassasah al-Risalah

[9] . Q.S.Al-Anbiya’ 107

[10] . Ceramah Agama Qurais Sihab M.A. Tanggal Senin 14 April 2008, pukul 15.00

[11] . Ibid, 2/382

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s