Melestarikan Silaturahmi

Merintis budaya silaturahmi tidak mudah, melestariakn juga lebih sulit, lebih-lebih dijaman modern ini. Silaturahmi yang bersifat harian sulit untuk di terapkan karena banyaknya kesibukan, seperti; pegawai negeri, pejabat, guru, mahasiswa, pengusaha sampai buruh dan pekerja. Kadangkala antara tetangga juga tidak tahu menahu, bahkan terkesan tidak mau tahu. Mulutpun engan terbuka ketika bertemu muka. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya, seolah nikmat hidup sendiri, tidak membutuhkan orang lain.

Adanya media, seperti 3G, Handphone, TV, Video, VCD, serta perangkat TI lainnya, mempersusah silaturahmi sekaligus memudahkan komunikasi. Dikatakan mempermudah komunikasi, karena semua keinginan serta kepentingan dengan mudah dijangkau, tidak terbatas tempat dan waktu. Silaturahmipun terkadang hanya lewat SMS, yang bervariasi kandungan dan isinya.

Ada yang bersifat puitis

Diidul fitri ini, dengan segala kerendahan hati,

Kami mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya atas segala kesalahan.Baik bentuk tindakan, atau ucapan. Baik disengaja atau tidak disengaja.

Ada pula yang religi yang berisi do’a” Semoga Allah menerima puasamu dan puasa kita semua, semoga kita kembali “ Minal Aidin Wal faizin”.

Ada juga yang bersifat Merendah diri” Saya orang Udzur, sangat lebih banyak bersalah, mohon dimaafkan, juga saya mohonkan untuk keluargadan lingkaran-lingkaran disekitar saya.

Ada pula yang mengunakan bahasa priyayi ” Hangaturaken sugeng Riyaden, redining kalepatan ingkang sampun kliwat, ulun lampahi,eh mbokbilih gumeret dateng manah, mugi kerso paring samudara pangaksami”.

Ungkapan diatas adalah sebuah ekspresi permintaan maaf dalam rangka Silaturahmi tahunan Iedul Fitri.

Ucapan selamat di hari raya Idul fitri mohon Maaf lahir dan batin, sudah menjadi tradisi, tidak heran jika budaya silturahmi kunjung mengunjungi mulai sepi. Bahkan terkesan mulai tidak diminati lagi, karena adanya media Tehnologi Informasi yang terus melaju, seperti SMS.

Jika kita cermati, sebenarnya ini mengigis tradisi silturahmi yang sudah berkembang dikalangan masyarakat islami, khusunya dibumi pertiwi. Untuk mengantisipasi, kita mesti pandai-pandai membuat kemasan baru dengan tujuan nilai silaturahmi tetap berjalan sesuai dengan anjuran. Tradisi silturahmi ada yang bersifat harian, seperti; rajin pergi kemasjid setiap hari, berjama’ah sehingga bisa bertemu dengan tetangga, berjabatan tangan serta saling mengucapkan salam. Nabi selalu mecontohkan dengan menghadap kebelakang setelah selesai ngimami. Dengan demikian, semua jamaah tetap terlihat, beliau akan bertanya manakala ada diantara sahabatnya yang tidak hadir pada waktu itu.

Kita bisa mengunakan waktu kita untuk betemu dimasjid sehari sekali dengan melaksanakan sholat berjama’ah, agar silaturahmi antara tetangga tetap terjaga. Jika tidak memungkinkan, kita bisa mengemasnya dengan minguan, misalnya dengan tahlilan, majlis ta’lim, atau dengan menghdiri pengajian di masjid atau musollah Nurul Iman. Dengan demikian, nilai silturahmi tetap terjalin rapi, nasehat menasehati menjadi tradisi islami yang mesti terus lestari sampai akhir nanti.

Silaturahmi Antar Tetangga

Dalam kehidupan bertetangga kita mesti tetap rukun, saling menghormati serta memulyakan. Tidak diperkanankan saling membenci atau mencurigai lebih-lebih bertengkar sehingga muncul permusuhan, sampai tidak menyapa bahkan memutus silturahmi ( Megot Seduluruan). Ini tidak sesui dengan ajaran Nabi yang mengatakan’’ Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara”. Nabi juga mempertegas didlam hadisnya yang berbunyi ”

عن أبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ( رواه البخاري ومسلم )

Artinya “ diriwayatkan dari Abi Hurairah RA, baginda Nabi SAW bersabda ” barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ucapkalah kata-kata yang baik, atau lebih baik diam, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memulyakan tetangganya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memulyakan tamunya.

Pernyataan nabi mengisaratkan kepada kita agar senantiasa senantiasa menjaga hak dan kewajiban tetangga, kita tidak diperkenankan menyakiti baik dengan tindakan atau ucapan (ngrasani) hendakanya tidak menganggu tetangganya dengan berprilaku negatif. Jika seseorang tidak memulyakan tetangganya sama dengan tidak mendengar kata-kata Nabi. Lukman Hakim pernah berwasiat kepada putranya” Anaku, aku telah membawa batu, besi namun ttidak terasa apa-apa dibandingkan dengan tetangga nakal (Jaru Al Suk). Tetangga Nakal sangat dibenci oleh Nabi, karena tidak mencerminkan ahlaq terpuji sebagai hamba-Nya serta sebagai umat Nabi. Agar supaya terjaga dari Tetangga Nakal, Nabi mengajarkan do’a;

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اللهم إني أعوذ بك من جار السوء في دار المقامة (رواه الحاكم 1951 )

Artinya ” Ya Allah aku berlindung kepadmu dari gangguan tetangga Nakal, didalam sebuah perkampungan ( perumahan).

Hadis juga isarat kepada pengikutnya agar senantiasa memilih tempat tinggal yang aman, tentaram, serta damai. Untuk memperoleh ketentaraman, hendaknya kita menjadi pemukim yang selalu memperhatikan hak dan kewajiban sebagai tetangga, tentunya suka meyambung silaturahmi.

Agar silaturahmi tidak terputus, tidak salah kiranya kita menjaganya dengan berbagai kemasan, asalkan tidak bertengtangan dengan akidah Islamiyah. Jangan sampai nilai-nilai silturahmi hilang dari peredaran, dan muncul kemasan-kemasan baru yang bisa bernuasa kemungkaran, serta menyesatkan iman, bahkan membawa kerugian dunia dan akhirat. Perlu digaris bawahi, segala sesuatu tergantung niatnya, semoga niat kita bersih dan karena mengharapkan ridho-Nya, sehingga apa yang kita lakukan juga mendapatkan imbalan yang setimpal kelak. Seungguhnya Allah tidak akan mensia-siakan amal perbuatan seseorang, baik laki-laki atau perempuan. Amin. Wallau a’lam

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s