Renungan

<!– @page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } P.sdfootnote { margin-left: 0.5cm; text-indent: -0.5cm; margin-bottom: 0cm; font-size: 10pt } A.sdfootnoteanc { font-size: 57% } –>

Manusia adalah mahluq sempurna diantara mahluq-mahluq lainya, Al Qur’an meyebut manusia sebagai “Ahsani Taqwim1 Allah SWT mengkaruniai Manusia keistimewaan serta kelebihan yang tidak dimiliki oleh mahluq lain. Manusia dikaruniai akal dan fikiran, serta hati, serta dipercaya sebagai kholifah2 di muka bumi ini. Muhammad sang Nabi sebagai bukti nyata bahwa Allah memilih manusia sebagai panutan (Uswatun Hasanah)3 umat manusia yang sempurna bentuk serta budi pekertinya4. Muhammad sebaik-baik manusia dan sebaik-baik mahluq-Nya, beliau begitu sempurna dalam semua aspek kehidupanya, dialah pemegang risalah bagi Jin dan manusia bahkan alam semesta, kesempurnaanya tiada tara sebagai manusia biasa dan sebagai utusan Allah SWT.

Kadang kala Allah swt memperumpakan manusia sebagai sosok mahluq yang paling rendah, bahkan lebih rendah dari binatang, mereka adalah orang-orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan melupakan sang penciptaanya. Berakal tapi tidak berfikir, punya hati tidak berfungsi, begitulah gambaran manusia yang telah keluar dari koridor agama serta tatanan.

Allah SWT melalui Insan Al kamil (Rosulullah SAW) telah mengajarkan pada bangsa manusia dan jin agar selalu bersyukur atas limpahan nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan, bukanya mengkufurinya. Al-Qur’an meginggatkan bahwa kenikmatan Allah yang kita terima sangat banyak jumlahnya, bahkan tidak terhitung dengan bilangan. Agar senantiasa menjadi hamba yang selalu bersyukur, hendaknya kita selalu berdo’a kepada-Nya. Nabi juga mengajarkan kepada pengikut setianya untuk berdo’a “Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang selalu bersyukur”5 jadikanlah kami orang-orang yang sabar” , begitulah perhatian Nabi, tidak ada perhatian yang lebih besar dari pada perhatian Allah kepada umat Rosulullah SAW. Dalam suatu lieteratur hadis, Nabi pernah menyampaikan;’

عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : طوبى لمن آمنبي ورآني مرة وطوبى لمن آمن بي ولم يرني سبع مرار ( رواه أحمد رقم12600 )

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, ia mengatakan; Nabi SAW telah bersabda”’ beruntung sekali bagi orang yang mepihatku, kemudian mereka beriman kepadaku, dan beruntung sekali mereka yang tidak pernah melihatku, tetapi mereka beriman kepadaku. Jika hadis ini di fahami dengan seksama, ternyata mengisaratkan kepada pengikutnya yang tidak pernah melihatnya, akan tetapi kadar keimanan dan ketaqwaan tidak diragukan, bahkan loyalitasnya juga sangat tinggi. Ini sebagai bukti, bahwa nabi tidak pernah meinggalkan kita sebagai pengikutnya, bahkan semua dijanjikan dengan pertolongan, selama tidak melakukan dosa besar, seperti bentuk kesyirikan, memutus silaturahmi, mati dalam keadaan mendem, serta durhaka kepada orang tua.

Allah menciptakan manusia hanya semata-mata untuk mengabdikan diri kepada-Nya, yaitu menjalankan semua perintah, dan menjauhi larangan-Nya. Al Qur’an memberitakan ” Dan tidak aku ciptakan Jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah “. Bentuk ibadah tidak bukan hanya Mahdoh, tetapi ada yang bersifat Sunnah, dan Nawafil. Hanya saja, Sholat, Zakat, Puasa, Hajii disebut dengan ibadah mahdoh. Sedangkan sholat lima waktu sebagai pilar utama, siapa yang meninggalkan, sama dengan merobohkan pilar agama. Namun, jika kita rinci, semua gerakan, nafas yang keluar akan menjadi nilai ibadah, jika di barengi dengan niat yang baik serta bersih karena-Nya. secara universal Allah SWT emberikan keluasan bagi manusia untuk mengapresiasikan bentuk ibadah, bahkan setiap aktivitas serta gerakan tubuh manusia yang didasari niat baik akan menjadi amal ibadah serta dicatat sebagai amal sholih disisi Allah SWT. Rosulullah SAW bersabda “Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niatnya “oleh karena itu kita mesti pandai-pandai mengatur hati dalam semua langkah kebajikan agar semua amal kita tidak sia-sia, beliau juga mengajarkan do’a kepada kita agar senantiasa berdo’a agar hati kita selamat dan bersih dari kotoran “ Ya Allah jadikanlah hati kami bersih ( saliman)”

Allah menciptakan Alam semesta dan isinya dengan berpasang-pasangan, ada laki-laki dan perempuan ada kaya dan miskin, itu semua sebagai bukti dari kekuasaan Allah yang begitu agung dan tak terbatas. Jika kita amati serta sadari dan renungi semua itu merupakan nikmat Allah yang tak terhingga. Oleh karena itu hati sebagai pemegang kendali harus senatiasa menjadikan semua dengan niat yang bersih agar menjadi amal ibadah. Tafakkur dan taamul alam semesta dan isinya, akan memperkokoh keimanan serta rajin beribadah, karena semua alam semesta ini merupakan nikmat yang agung bagi hamba-hamba Allah yang beriman maka sungguh indah jika kita syukuri dengan beramal. Jika ini dialukan, maka Allah akan mencatatnya sebagai amal sholeh dan termasuk orang-orang yang bersyukur. Namun jika kita lalai terhadap nikmat Allah dan sombong, maka kita termasuk orang-orang yang kufur. Nauduh billahi min dalik. Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap nikmat-Nya maka Allah mengancam dengan adab sangat pedih.

Di zaman Rosulullah SAW kita mengenal Sa’labah beliau orang yang sangat miskin, karena sudah tidak tahan dengan cobaan Allah maka beliau datang ke Rosulullah dan memohon pada beliau (Rosulullah) agar mendoa’akan menjadi orang kaya. Namun Rosulullah sebagai orang yang sempurna melihat sosok Sa’labah orang yang masih belum mampu mengemban amanah kekayaan tersebut, kemudian Beliau Rosulullah menasehati agar bersabar, namun Sa’labah tetap mendesak agar Rosulullah memohonkan do’a. Akhirnya Rosulullah mendo’akan agar Sa’labah menjadi orang kaya, kemudian Sa’labah dihadiahi seekor kambing perempuan, dengan catatan tetap rajin beribadah dimasjid serta beramal soleh.

Waktu terus berjalan, Sa’labah diberi nikmat yang tidak terhitung jumlahnya, kambingnya berkembang biak dengan cepat, semakin hari semkain bertambah jumlahnya, sampai-sampai lupa dengan janjinya. kekayaan sudah tidak terbendung lagi. Kegiatan rutin dimasjid sedikit demi sedikit berkurang, yang tadinnya rajin berjam’ah mulai tidak terlihat lagi batang hidunganya di masjid. Sampai pada akhirnya, dia tidak pernah terlihat lagi berjama’ah dimasjid. Kemudian Rosulullah SAW bertanya pada sahabat yang lain” di mana Sa’labah?. Ya Rosulullah dia sibuk dengan hartanya “ padahal Rosulullah sudah mengetahui bahwa Sa’labah memang disibukan dengan materinya dan melupakan ibadahnya. Dari cerita tersebut memang benar, bahwa Rosulullah mengajarkan mensyukuri nikmat itu dengan berbagai cara yang pertama yaitu rajin beribadah sebagai bukti niyatan rasa syukur terhadap pemberinya, yang kedua banyak beramal jariyah dan bersodakoh sebagai bukti ketaatan terhadap perintah Allah dan Rosulnya.

Allah SW mengingatkan dalam al-Qur’an disurat al-Munafikun “Wahai orang-orang yang beriman janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kalian dari mengingat Allah (dizkrullah), Barang siapa yang berbuat demikian, maka itulah orang-orang yang merugi2 “ Sungguh berat memegang amanah Allah berupa harta, dan kadang harta menjadikan mala petaka. Rosulullah SAW dalam hadistnya bersabda “Ulama itu pewaris para nabi “dan ulama’ itu tidak mewariskan harta tapi mewariskan ilmu. Berbahagialah bagi orang yang berilmu, karena disamping derajatnya tinggi disisi manusia mereka menjadi pewaris Nabi. Dengan ilmu Manusia bisa mengetahui dan bisa mengamalkan ilmunya dan bisa mengatur hartanya kejalan yang benar serta menjadikan harta tersebut sebagai kendaraan menuju kebahagian yang hakiki di akhirat nanti.

Namun sangat celaka bagi yang kaya raya, dia diperbudak oleh harta, mereka tidak bisa menikmati kekayaannya bakan tidurnya tidak nyenyak, makan juga tidak enak, dunia terasa sesak. Setiap hari disibukan dengan materinya. Tidak cukup dengan siksaan dunia, dia juga kelak diancam dengan siksaan yang sangat pedih. Tidakm ada tempat untuk meminta pertolongan, kekayaan yang dimiliki tidak berarti, bahkan tidak sedikit dari harta yang ditinggalkan menjadi rebutan dan permusuhan. Begitulah, oarang yang dipebudak harta, ia akan mengantarkan pada kerakusan dan semakin rakus sehingga mereka semakin hari semakin jauh dari Allah, dan hartanya sebagi kendaraan menuju siksaan yang sangat pedih diakhirat nanti. Nauubillahi mindalik.

1 Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. ( Al Tin 4).

2.Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahu (Al baqarah 30).

3 .

4 .Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al qalam 4).

5 .Syarah Arbain Nawawi

2 . Q.S. al-Munafiqun : 9

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s