Tradisi Jama’ah Haji Menggnti Nama

Tradisi Menganti Nama
Tidak dipungkiri bahwa setiap orang yang menunaikan Ibadah haji status sosialnya kebih tinggi di lingkungan masyarkatnya. Tradisi jawa timuran misalkan, setiap orang yang telah menunaikan ibadah haji dipangil dengan ” abah”, bagi kaum lelaki dan ” umi” bagi kaum wanita. Dibeberapa daerah, juga tidak jauh berbeda, di Madura dan Lombok ” pak haji” sangat mulya, keberangkatanya diantar warga sekampung, dan kepulanganya di jeput oleh masyarakat. Ini bukti bahwa titel ” haji” bisa membawa status sosial lebih tinggi, walaupun kadang prilakunya masih jauh dari syariat. Dalam tradisi kita, sering kali orang yang menunaikan ibadah haji merubah namanya, seperti nama Ngadeni di ganti dengan ” Haji Abdullah”. Dengan harapan nama itu dapat memberikan dampak positif sepulang dari Makkah, disisi lain, Nabi memang mengajarkan kepada pengikutnya agar supaya memberikan nama yang bagus kepada putra-putrinya, seperti Abdullah, Abdurahman. Jadi, perubahan nama yang lebih baik tersebut memang sangat dianjurkan oleh agama, dan bulan haji, serta tempat suci adalah moment paling tepat.
Dalam literatur sejarah, banyak dari penguasa jawa, seperti kerajaan Demak, Pajang, Banten setiap musim haji tiba mengirimkan utusan ke Makkah. Mereka meminta kepada ” Imam Masjidil Haram” memberikan nama (gelar) kepada raja Jawa. Gelar itu kita kenal dengan sebutan ” sultan” yang berarti ” penguasa atau pemipin”. Bahkan, raja-raja Jawa berlomba-lomba mengirimkan utusannya ke Makkah agar memperoleh gelar. Disisi lain, Imam Masjidil haram memberikan oleh-oleh berupa ” kiswah” ka’bah sebagai kenang-kenangan. Dalam cosmis jawa, gelar atau nama, kiswah ka’bah, zam-zam, serta segala sesuatu yang dibawa dari tanah suci Makkah memiliki nilai tinggi dan istimewa dari pada tempat lainya. Cosmis itu masih berlaku, tetapi di era modern ini, nilai cosmis itu mulai berkurang dari pada tahu-tahun sebelumnya. Namun, kesakralan (kesucian) Baitullah dan sekitarnya, tidak akan berkurang nilaiaya disisi Allah, walaupun penghuninya, tidak lagi memulyakan atau meremehkanya.wallau’lam

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s