Ketika ke-Mabruran Haji terhalang

Di dalam sebuah komunitas jama’ah haji Indonesia tersebar sebuah informasi bahwa haji plus itu hanyalah picnic belaka. Informasi ini sangat beralasan, karena memang realitas membuktikan bahwa kebanyakan para jama’ah haji plus itu menghuni tempat bagus (hotel mewah), baik ketika di Makkah, Madinah, serta di Jedah. Bahkan, selama di Arafah juga ditempatkan sangat istimewa, layaknya hotel mewah. Muzdalifah juga hanya sekedar lewat, dengan alasan bahwa mabit itu bukan wajib dan juga bukan rukun, serta untuk menghemat tenaga. Walupun masih banyak yang ikut (mabit) di Muzdalifah, karena alasan sunnah Nabi. Selama di Mina, kebanyakan dari jama’ah haji Plus itu menempati Apartemen yang terletak di Aziziyah (Sissa). Jadi, tidak salah jika opini yang berekembang di masyarakat (jama’ah haji) Indonesia, bahwa ONH Plus itu lebih banyak picnic, dari pada Ibadahnya.

Memang, ONH plus itu berbeda dengan ONH biasa (regular). ONH plus itu lebih mengedepankan pelayanan haji, mulai ibadah, pemukiman (hotel) akomodasi (transportasi), bimbingan haji, serta kesehatan (medis). Jadi, para penyelenggara haji itu berlomba-lomba memberikan pelayanan yang terbaik, sesuai dengan biaya yang dikeluarkanya. Semua pelayanan yang dijanjikan haruslah diberikan, bukan hanya sekedar janji. Wajar kiranya jika para jama’ah haji ngedumel, jika pelayanan sebuah biro jasa itu tidak profesinal, bahkan terkesan profit oriented belaka. Biro itu menganggab jama’ah haji itu bagaikan komoditas. Seringkali alasan yang dibuat oleh para penyelengara yaitu “Sabar, dan jangan macam-macam, karena ini adalah tanah haram’’. Jam’ah haji itu juga takut kualat, karena Makkah dan Madinah adalah tanah suci dan sacral. Sementara itu, para penyelengara seenaknya saja membuat jama’ah kleleran dan tidak memperoleh pelayanan maksimal, sesuai dengan janji-janjinya yang tertulis dalam brosur, atau yang diucapkan secara langsung. Padahal, mereka tahu bahwa jama’ah haji itu adalah duta Allah (wafdu Allah), jika berdo’a pasti dikabulkan.

Terlebapas dari itu semua, yang perlu digaris bawahi ialah opini yang berkembang bahwa jama’ah haji plus itu lebih banyak picnic dari pada ibadahnya. Menurut hebat saya, memang ada benarnya, tetapi tidak semuanya benar. Karena ternyata, tidak sedikit dari jama’ah haji regululer itu waktunya habis dijalan, dan belanja di pasar-pasar sekitar masjidil haram dan nabawi. Ini realitas tak terbantahkan, apalagi pemerintah Arab Saudi sangar gemar membangun tempat-tempat belanja disekitar masjidil haram.

Apalagi, sejak tahun 2008, Arab Saudi membangun dan memperluas masjidil haram. Dampak pembangunan dan perluasan masjidil haram itu menjadikan jama’ah haji regular Indonesia itu harus rela berjalan kaki 8-10 km. Apalagi kendaraan antar jembut menjadi masalah, nyaris jama’ah haji asal Indoneisa asal jarang berangkat ke masjidil haram. Bahkan ada seorang jama’ah mengatakan;’’ nanti, jangan sampai anak dan sanak family saya ikut jama’ah haji regular, saya selama di Makkah, hanya dua kali ke masjdil haram, ketika datang dan thowaf wada (pulang)’. Karena orang ini lansia, sementara tempat maktabnya di Awali (sekitar 8 km) dari masjidil haram.

Jika kita cermati, antara ONH plus dan Jama’ah haji reguler, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Pernah saya sampaikan kepada calon jama’ah haji reguler yang beranggapan bahwa OHN plus itu hanya sekedar pikinic. Bahwa ONH plus akan lebih baik jika bisa dan mampu mempergunakan waktu selama di Makkah dengan sebaik-baiknya.

Bagi ONH plus, Hotel dekat, segala kebutuhan dicukupi, kesehatan juga menunjang, pembimbing ibadah juga siap 24 jam. Kondisi ini sangat memungkinkan untuk memperbanyak ibadah. Hanya dengan 10 menit sudah bisa ke Masjidil haram, jika jama’ah haji mau dan mampu, pasti waktu itu akan dipergunakan untuk memperbanyak thowaf, membaca al-Qur’an hingga hatam berkali-kali, berdzikir, serta sholat sunnah tanpa harus berfikir mencari makanan, dan miunum, serta berjalan menuju maktab yang jauh hingga 4-8 km. Jadi, ibadah mereka lebih maksimal dari pada ibadahnya jama’ah reguler. Akan tetapi sebaliknya, jika jama’ah haji itu bekal ilmu dan pengetahuan seputar keutamaan al-Haramaina (Makkah dan Madinah), sangat minim, atau niatnya kurang, maka sang jama’ah akan malas, dan betah menghabiskan waktu-nya di hotel dan keliling mall yang tersedia di masjidil haram. Jangan salah jika ada sebutan haji kamabli’’ karena seringnya membeli kambal / karpet’’.

Bagi jama’ah reguler juga demikian, maktab yang sangat jauh menjadikan orang malas berangkat ke masjidil haram. Tidak sedikit yang enggan, bahkan jarang sekali berangkat ke masjidil haram. Kaluapun mereka berangkat, mereka mesti menghabiskan waktu setenggah jam atau bahkan 1 jam untuk sampai ke masjid. Seandainya waktu setenggah jam itu dipergunakan untuk membaca al-Qur’an, tentunya sudah dapat 1 juzz. Atau waktu itu dibuat untuk thowaf sunnah, atau sholat sunnah, tentunya pahalanya juga lebih banyak.

Memang, baik haji reguler atau plus, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tetapi, bagi yang niatnya karena Allah SWT, baik plus atau reguler, mereka tidak akan mengeluh, karena sejatinya yang dikejar bukalah pelayanan manusia, tetapi bagaimana mengapai ridho-Nya selama di Makkah dan Mandinah. Bukanyan membiarkan para penyelengara melayanai jama’ah haji dengan semena-mena, akan tetapi niatnya hati tidak akan pernah berubah dan goyah dengan megahnya makkah serta ganguan-ganguan yang ada di sekitarnya.

Jika kita cermati lebih seksasama, khususnya pada saat Makkah menjadi kota modern nan megah dengan segala kecanggihan tehnologinya. Ternyata, dari sekian besar jama’ah haji, baik plus atau reguler ke-mabrunan-nya, sering terhalang dengan beragam pernak-pernik, aksesioris, souvenir-sovenir haji. Seperti, membeli gelang, cincin, arloji, karpet, sajadah, parfum, handphone, handycame, serta barang-barang mewah lainya. Ini sudah menjadi sebuah tradisi bagi jama’ah haji Indonesia. Jangan heran, jika sebagian besar jama’ah haji rajn membeli oleh-oleh, padahal ritual haji belum dimulai.

Memang, tidak ada yang melarang, bahkan tidak pernah ditemukan literature yang melarang orang berbelanja selama di Makkah. Yang ada ialah, mensia-saikan waktunya untuk berbelanja, padahal rumah Allah menantinya, dan juga Nabi menunggunya bertahun-tahun untuk dikujungi setiap saat. Seandainya Nabi s.a.w bisa bangkit kembali pasti beliau s.a.w akan memberikan nasehat dan mengatakan “ Wahai umatku, khususnya warga Negara Indonesia, janganlah kalian sibuk sibuk berbelanja, atau betah di hotel, tetapi kunjugilah aku walaupun hanya dengan untaikan kata-kata mutirat dan sholawat Nabi. Semoga, modernya kota Makkah dan Madinah tidak menjadikan umat islam lenggah, dan lupa akan tujuan atau niatnya. Wallahu a’lam.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s