Haji dan Strategi Politik?

Tidak bisa dipungkiri, bahwa haji juga bisa menjadi isu politik. Diera awal berdirinya kerajaan-kerajaan islam Jawa, kita mengenal raja-raja jawa yang bergelar dengan “ sultan”. Ternyata” sultan” ini adalah gelar hadiah dari ulama’ besar Makkah yang sekaligus menjadi Imam Masjidil Haram. Sebut saja, sultan Ageng, Sultan Agung, Sultan Hamengkubuwono, bahakn dalam sebuah literatur sejarah, raja-raja jawa mengutus sesoerang untuk menghadap sang Imam Masjidil Haram dengan meminta gelar yang pantas. Sang Imam Memeberikan gelar “ sultan” sekaligus memberikan bingkisan yang dikenal dengan istilah “kiswah Ka’bah” untuk dijadikan kenang-kenangan sekaligus jimat. Dari sini, bisa terlihat bahwa haji yang dilakukan ada nuansa politis.
Dijaman para sahabat, dalam sebuah literatur sejarah. Ternyata baitullah pernah dibongkar secara paksa oleh “ Yusuf Hajjaj at-Taskofi “, setelah ia berhasil membunuh Ibnu Jubair. Alasan yang dikemukakan, bhawa Ibnu Zubair telah merubah bentuk Baitullah yang semula berpintu satu, menjadikan dua pintu. Syeh al-Fasi menyebutkan dalam buku nya yang berjudul “ Syifaul Ghoram bi Ahbari Baitillah al-Haram’’ Ibnu Zubair membangun Baitullah karena keadaanya memang sangat memprihatinkan setelah terjadi kebakaran hebat,dinding baitullah terlihat rusak berat. Inisiatif merenovasi Baitullah Ibnu Zubair disambut oleh sebagian sahabat, dan sebagian lagi menolakanya. Setelah berdiri kokoh, Yusuf al-Tsaqofi merobohkanya dengan alasan politik. Akan tetapi, sang Kholifah “ Marwan” merasa kecewa setelah mengetahui tujuan Yusuf al-Tsaqofi, beliau berncana mengembalikan posisi Baitullah. Keiinginan Sang Kholifah tidak bisa dilaksanakan setelah mendengar Imam Malik berkata” Jangalah engkau merubah bentuk baitullah lagi, karena akan mengurangi kewibawaan baitullah”.
Nilai Politik dalam Ibadah haji sangatlah nampak, hanya saja politiknya sangat santun nan bersih, sesuai dengan nilai-nilai luhur islam. Thowaf adalah mengelilingi baitullah tujuh putaran, setiap orang yang memasuki masjidil haram maka disunnahkan melakukan “ Tahiyyatul Masjid”. Dalam keterangan hadis, setiap orang yang memasuki masjidil sangat dianjurkan melaksanakan sholat dua rakaat yang disebut dengan tahiyyatal Masjid. Sedangkan tahiyyatal Masjidil Haram adalah Thowaf tujuh putaran, Imam Nawawi mengatakan’’ Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya mengatakan” ketika memasuki masjid jangalah sibuk melakukan sholat tahiyyatul masjid atau yang lainnya, tetapi awalilah dengan melaksanakan thowaf ”, pendapat senada disampaikan oleh Ibnu Qudamah. Bagi jama’ah haji dan umrah, diharuskan bagi mereka untuk melakukan thowaf qudum sebagai penghoramatan terhadap Baitullah.
Jika kita renungi, thowaf dalam pelaksanaan haji atau umrah bernuansa politis. Ketika awal perjuangan islam, seringkali Nabi melaksanakan Thowaf dengan para sahabatnya. Dalam pelaksanaan thowaf, putaran tiga pertama, Nabi berlari-lari kecil, Ibnu Abbas seorang sahabat Nabi menjelaskan: Nabi berlari-lari kecil, ketika itu ada yang mengisukan bahwa Muhammad dan pengikutnya dalam keadaan payah dan lemah. Maka orang-orang musyrik Makkah mengintip untuk menyaksikan kebenaran tersebut. Kemudian Nabi beralari-lari kecil untuk menangkal isu tersebut. Kenapa hanya tiga putaran pertama, karena setelah melakukan tiga putaran pertama, ternyata para pengintip membubarkan diri dalam riwayat lain, Orang kafir Qurais Makkah melihat bawa Nabi dan pengikutnya melakukan Thowaf dengan Ihram yang menutupi pundak, melihat Nabi dan pengikunya demikian, orang kafir menganggap bahwa Muhammad dan pengikitnya sangat lemah dan tidak berdaya. Untuk menangkal anggaban mereka, akhirnya Nabi memperlihatkan pundak kananya dan diiukti oleh sahabatnya. Apa yang lakukan Nabi, seprti lari-lari kecil, membuka pundaknya adalah show of force terhadap lawan-lawannya. Politik yang dilakukan Nabi bukanlah politik yang dimaksud oleh pakar-pakar politik diera sekarang ini, tetapi yang dilakukan Nabi adalah suatu aktivitas ibadah yang bertujuan memperoleh kebahagiaan duniawi dan ulkhrowi.

Haji dan Strategi Politik?

Tidak bisa dipungkiri, bahwa haji juga bisa menjadi isu politik. Diera awal berdirinya kerajaan-kerajaan islam Jawa, kita mengenal raja-raja jawa yang bergelar dengan “ sultan”. Ternyata” sultan” ini adalah gelar hadiah dari ulama’ besar Makkah yang sekaligus menjadi Imam Masjidil Haram. Sebut saja, sultan Ageng, Sultan Agung, Sultan Hamengkubuwono, bahakn dalam sebuah literatur sejarah, raja-raja jawa mengutus sesoerang untuk menghadap sang Imam Masjidil Haram dengan meminta gelar yang pantas. Sang Imam Memeberikan gelar “ sultan” sekaligus memberikan bingkisan yang dikenal dengan istilah “kiswah Ka’bah” untuk dijadikan kenang-kenangan sekaligus jimat. Dari sini, bisa terlihat bahwa haji yang dilakukan ada nuansa politis.
Dijaman para sahabat, dalam sebuah literatur sejarah. Ternyata baitullah pernah dibongkar secara paksa oleh “ Yusuf Hajjaj at-Taskofi “, setelah ia berhasil membunuh Ibnu Jubair. Alasan yang dikemukakan, bhawa Ibnu Zubair telah merubah bentuk Baitullah yang semula berpintu satu, menjadikan dua pintu. Syeh al-Fasi menyebutkan dalam buku nya yang berjudul “ Syifaul Ghoram bi Ahbari Baitillah al-Haram’’ Ibnu Zubair membangun Baitullah karena keadaanya memang sangat memprihatinkan setelah terjadi kebakaran hebat,dinding baitullah terlihat rusak berat. Inisiatif merenovasi Baitullah Ibnu Zubair disambut oleh sebagian sahabat, dan sebagian lagi menolakanya. Setelah berdiri kokoh, Yusuf al-Tsaqofi merobohkanya dengan alasan politik. Akan tetapi, sang Kholifah “ Marwan” merasa kecewa setelah mengetahui tujuan Yusuf al-Tsaqofi, beliau berncana mengembalikan posisi Baitullah. Keiinginan Sang Kholifah tidak bisa dilaksanakan setelah mendengar Imam Malik berkata” Jangalah engkau merubah bentuk baitullah lagi, karena akan mengurangi kewibawaan baitullah”.
Nilai Politik dalam Ibadah haji sangatlah nampak, hanya saja politiknya sangat santun nan bersih, sesuai dengan nilai-nilai luhur islam. Thowaf adalah mengelilingi baitullah tujuh putaran, setiap orang yang memasuki masjidil haram maka disunnahkan melakukan “ Tahiyyatul Masjid”. Dalam keterangan hadis, setiap orang yang memasuki masjidil sangat dianjurkan melaksanakan sholat dua rakaat yang disebut dengan tahiyyatal Masjid. Sedangkan tahiyyatal Masjidil Haram adalah Thowaf tujuh putaran, Imam Nawawi mengatakan’’ Imam Syafi’i dan sahabat-sahabatnya mengatakan” ketika memasuki masjid jangalah sibuk melakukan sholat tahiyyatul masjid atau yang lainnya, tetapi awalilah dengan melaksanakan thowaf ”, pendapat senada disampaikan oleh Ibnu Qudamah. Bagi jama’ah haji dan umrah, diharuskan bagi mereka untuk melakukan thowaf qudum sebagai penghoramatan terhadap Baitullah.
Jika kita renungi, thowaf dalam pelaksanaan haji atau umrah bernuansa politis. Ketika awal perjuangan islam, seringkali Nabi melaksanakan Thowaf dengan para sahabatnya. Dalam pelaksanaan thowaf, putaran tiga pertama, Nabi berlari-lari kecil, Ibnu Abbas seorang sahabat Nabi menjelaskan: Nabi berlari-lari kecil, ketika itu ada yang mengisukan bahwa Muhammad dan pengikutnya dalam keadaan payah dan lemah. Maka orang-orang musyrik Makkah mengintip untuk menyaksikan kebenaran tersebut. Kemudian Nabi beralari-lari kecil untuk menangkal isu tersebut. Kenapa hanya tiga putaran pertama, karena setelah melakukan tiga putaran pertama, ternyata para pengintip membubarkan diri dalam riwayat lain, Orang kafir Qurais Makkah melihat bawa Nabi dan pengikutnya melakukan Thowaf dengan Ihram yang menutupi pundak, melihat Nabi dan pengikunya demikian, orang kafir menganggap bahwa Muhammad dan pengikitnya sangat lemah dan tidak berdaya. Untuk menangkal anggaban mereka, akhirnya Nabi memperlihatkan pundak kananya dan diiukti oleh sahabatnya. Apa yang lakukan Nabi, seprti lari-lari kecil, membuka pundaknya adalah show of force terhadap lawan-lawannya. Politik yang dilakukan Nabi bukanlah politik yang dimaksud oleh pakar-pakar politik diera sekarang ini, tetapi yang dilakukan Nabi adalah suatu aktivitas ibadah yang bertujuan memperoleh kebahagiaan duniawi dan ulkhrowi.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s