Wanita Terbaik…?

A. Sebagai Istri dan Ibu Orang Mukmin (Ummul Mukminin)

Di antara istri-istri Nabi, tidak ada yang bisa menjadi wanita sempurna kecuali Khodijah al-Kubro r.a. Walaupun usianya jauh lebih tua saat menikah dengan Nabi, tetapi tidak menjadi kendala di dalam membangun behtera rumah tangga. Justru, Khodijah mampu memnjadi istri yang professional ditenggah-tenggah deranya arus kesyirikan kebatilan di Makkah.

Nabi dikarunia empat puri dan tiga dua putra dari pernikahannya dengan Khodijah binti Khuwailid r.a. Mereka ialah; Zainab, Umi Qulsum, Ruqoyyah, dan Fatimah al-Zahar’. Sedang dua putranya bernama: Qosim dan Abdullah. Makanya, sering terdengar bahwa Nabi itu dikenal dengan Abu Qosim.

Sebelum islam menyinari kota sakral Makkah, Khodijah menjadi putri Makkah. Ketika islam menyinari Makkah, Allah meridhinya menjadi orang yang pertama kali memluk islam dikalangan wanita. Setelah menikah dengan utusan Allah, Khodijah bergelar Ummul Mukminin (ibunya orang-orang mukmin). Gelar ini sangat cocok dan pantas, karena realitasnya beliau sosok wanita yang suka membagi-bagikan hartanya kepada tetangga, kerabat, serta masyarakat Makkah yang lemah dan tidak berdaya.

Terkait dengan gelar Khodijah sebagai ibu orang-orang mukmin, Allah SWT berfirman:’’ Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri[1] dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik[2] kepada saudara-saudaramu (seagama). adalah yang demikian itu Telah tertulis di dalam Kitab (Allah).[3]

Sebagai seorang Ibu, Khodijah mampu menjadi ibu bagi anak-anaknya, sekaligus melayani dan mengajari semua orang yang mebutuhkan baik financial atau spiritual. Setiap ada yang sakit, ia mesti menjenguk, setiap orang yang kelaparan ia mesti memberi makanan, setiap ada yang telanjang ia mesti memberikan pakain dan seterusnya. Begitulah tugas seorang ibu orang mukmin. Apa yang dilakukan Khodijah r.a, dalam rangka membantu misi Nabi, yang sekaligus membumikan kandungan al-Qur’an ditenggah-tenggah kemusrikan yang merajalela.

Perlu diketahui, julukan seorang ibu ialah melakukan tugasnya sebagai seorang ibu tanpa pamrih apa-apa. Begitu juga Khodijah, sebenarnya ia cukup memberika makan, minum, serta kebutuhan putra-putrinya. Tapi, bagi sebagai ibu orang mukmin, semua penduduk Makkah menjadi anaknya, dan kewajiban baginya untuk memberikan segala kebutuhan tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Pada waktu itu, penduduk Makkah tergolong miskin dan lemah. Mereka tidak memiliki sumber nafkah yang jelas, bagi kaum ibu mereka sering kali menjadi obyek seksual kaum lelaki. Bahkan, tidak sedikit yang harus mati karena dipendam hidup-hidup oleh kepala keluarga (suami). Lagi-lagi, Ibu orang-orang mukmin turun tangan, menengankan dan berusaha memberikan kesejahteraan masyarakatnya. Khususnya umat islam yang tertindas oleh kelompok orang-orang kafir Qurais Makkah di bawah pimpinan abu Jahal dan Abu Lahab.

Khodijah Belahan Jiwa (Garwo) Nabi.

Semasa membina rumah tangga, suami istri bahu membahu berjuang menegakkan agama Allah tanpa mengenal lelah. Siang dan malam, keduanya berjuang bersama-sama, dalam rangka meraih ridho-Nya. Tidak terasa, tiga belas tahun lamanya Nabi mengarungi kehidupan dalam suka maupun duka. Tepat pada 10 Ramadhan, tahun 619 M, beliau di Makamkan di Hujun (ma’la) tempat pemakaman penduduk Makkah. Tidak berlangsung lama, paman yang selama ini membelanya juga ikut wafat.[4]Tahun meninggalnya Khodijah dikenal dengan sebutan’’ tahun duka’’.


[1] . Maksudnya: orang-orang mukmin itu mencintai nabi mereka lebih dari mencintai diri mereka sendiri dalam segala urusan.

[2].Yang dimaksud dengan berbuat baik disini ialah berwasiat yang tidak lebih dari sepertiga harta.

[3] . Q.S al-Ahzab (6)

[4] . Irsad, Abdul Adzim, 2009. Makkah, Keajaiban dan Keagungan Kota Suci. Aplus-Arruzmedia- Jokjakarta. Hal

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s