Malakat dan Tukang Ojek

Tukang Ojek dan Malaikat Penunggu Hajar Aswad.
Tidak semua yang berada di dalam masjid berniat beribadah kepada Allah. Sebagian besar memang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Namun tidak sedikit mereka yang hanya sekesar duduk-duduk santai ngobrol ngalor ngidul bersama rekan-rekanya. Yang lebih mencenggangkan lagi, ada juga yang bertujuan mencuri sandal jama’ah, atau mencopet dompet. MasaAllah….! ternyata tidak semua orang yang masuk masjid berniat baik…, padahal, masjid itu diperuntukkan untuk orang-orang yang baik.
Di Masjidil haram ada juga pencopet, penipu, jambret serta ojek. Ketika musim Haji tiba, mereka yang berniat jahat memasang mata dan strategi. Rupaya mereka (maling) tahu betul, jika datang di Makkah membawa dolar dan rupiah yang cukup banyak. Suatu ketika, seorang Jama’ah haji khusus asal Semarang thowaf, ia tidak tahu kalau di sekiatar rumah Allah banyak maling dan pencopet. Seperti biasanya, setelah merampungkan thowaf, ia langsung menuju Multazam untuk berdo’a. Di Multazam memang tempat orang mencurahkan isi hati. Ia-pun ikut larut dalam tangisan para jama’ah haji yang sedang berebut tempat. Semua berdesak-desakan, hingga terasa ada orang yang mendorongnya. Setelah merampungkan do’anya ia kembali menuju mess/hotel itu istirahat dan berbagi cerita.
Betapa kaget dan terperanjat. Dompet yang tersimpan di sakunya raib, entah kemana. Isinya sekitar US 5000, ia baru sadar ketika berdesakan itulah, dompetnya jatuh atau di copet. Selanjutnya, saya mengantar pada petugas untuk melaporkan kehilangan. Tetapi, apalah daya, uang itu sudah hilang, dan harus direlakan, karena sampai kepulagan juga tidak diketemukan. Ia, yakin bahwa tempat yang suci itu, tidak terlepas dari manusia yang berniat kotor. Mereka memanfaatkan waktu berdesak-desakan untuk mengambil dompetnya para jama’ah yang sedang berdo’a khusu’ mengharap ridho-Nya.
Rumah Allah tidak pernah sepi, setiap saat pasti ada orang thowaf mengelilinginya, baik siang maupun malam. Sekelompok jama’ah sedang melakukan thowaf bersama-sama, dipimpin oleh seorang mursid (guide) mengelilingi rumah Allah SWT. Dinatara mereka ada yang berbisik’’ Ustad, apa nanti bisa mencium Hajar Aswad’’? Sang ustad menjawab santai:’’ Bisa, bisa, insa Allah kita mengecup Hajar Asad’’. Mendengar jawaban itu, betapa senangnya jamaah itu.
Hajar Aswad itu memang memiliki daya pikat yang sangat hebat. Buktnya, hampir semua jama’ah yang datang telah berniat mengecupnya, padahal Hajar Aswad itu hanyalah sebuah batu yang melekat di sudut rumah Allah. Namun demikian, tidak memudarkan niat setiap orang mengecupnya. Bahkan, terasa belum afdol rasanya, kalau belum mengecupnya. Para malaikat memang selalu berkerumun di sekitar batu, mereka senantiasa mengatakan :’’ Amin…amin…amiin. Lisan malaikat itu tak henti-henti mengamini setiap kalimat (do’a) yang tercupa dari jama’ah itu. Malaikat itu juga berdo’a:’’ Semoga Allah mengabulkan permintaan dan permohonan jama’a haji ini’’.
Sayangnya, manusia tidak melihat dan mendengarkan. Cukuplah dengan berita yang dibawa Nabi Saw, untuk meyakinkan hati ini atas keberadaan para malaikat itu. Jumlah malaikat itu lebih banyak dari pada jumlah jama’ah yang sedang melaksanakan thowaf. Mereka tak bosan-bosan memohonkan ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang dialukan oleh manusia. Itulah malaikat, yang tidak pernah berbuat maksiat, dan senantiasa taat hingga datangnya hari kiamat kelak.
Sementara itu, ada sekelompok lelaki yang memakai Gamis dengan kopyah putih sedang berbisik-bisik. Ternyata mereka adalah tukang Ojek (jasa) mengatar ngecup Hajar Aswad. Mereka memanfaat kesempatan dalam kesempitan. Tidak main-main, mereka menwarkan jasa cukup tinggi, kira-kira 50-100 real. Bahkan, tidak segan-segan meminta uang yang lebih banyak. Ini memang sangat ironis, karena secara tidak langsung bisa mengurangi kesakralam kota Suci Makkah, khsusnya Hajar Aswad.
Jadi, ternyata di Sekitar Rumah Allah terdiri dari dua kelompok (1) Para malaikat yang senantiasa mendo’akan orang yang sedang mengelillingi rumah-Nya. (2) Tukang ojek yang selalu menwarkan jasa mengecup Hajar Aswad. Jika dilihat, dua kelompok memang bertengtangan. Semoga lama kelama-an tukang ojek itu akan hilang, dan sunkan dengan pemilik rumah Allah, bukan semakin menjadi-jadi. Bagi tamu-tamu-Nya, baik Haji dan Umrah hendaknya hati-hati, jangan samapi percaya atau gampang terkecoh dengan rayuan mereka atau tawaran tersebut.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s