KE MAKKAH, Memenuhi Panggilan Iblis…?

أَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (28) ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ (29)
Artinya “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah SWT pada hari yang Telah ditentukan atas rezeki yang Allah SWT Telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka, makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.29.Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka , dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).
Hakekat Ibadah Haji adalah memenuhi pangilan Allah SWT di dalam menunaikan kewajiban rukun Islam yang ke-lima ke-Baitullah. Jama’ah haji datang dari penjuru dan pelosok dunia dengan menanggalkan semua jabatan, pangkat, demi memenuhi pangilan-Nya. Harta benda, tenaga serta fikiran, dikorbankan demi menunaikan rukun islam yang ke- lima ini. Kedatangan mereka di tempat mulia ini (Makkah), sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat dan karunia Allah SWT, yang berupa materi dan kesehatan jasmani.
Nikmat sehat dibuktikan dengan mengelilingi baitullah (thowaf), sa’i, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, Mina (jumrah aqobah) selama beberapa hari. Semua dilakukan dengan senang hati tanpa rasa keluh kesah. Lisananya tak henti-henti mengucapkan “al-Hamdulillah’’ sebagai bentuk terima kasih atas karunia sehat jasmani dan rohani, sehingga diperkenankan mengunjungi kota suci yang penuh dengan berkah..
Haji itu merupakan pendidikan ruhani. Setiap jama’ah haji dituntut agar senantiasa sabar, qona’ah, saling membantu dan melindungi. Tidak pantas, selama menjadi tahmu-Nya menyakiti teman sejawat dengan ucapan seperti sindiran, ngrasani, atau menangnya sendiri. Selama menunaikan iabdah haji, satu dengan yang lain merupakan kekuatan yang saling melengkapi. Pakaian ihram yang putih bersih merupakan bukti, bahwa manusia itu adalah satu kekuatan, tujuan, niat, yaitu memperoleh ridho ilahi. Sehelai kain ihram yang melekat adalah pelajaran berharga, bahwa Allah SWT tidak pernah membedakan hambanya, semuanya sama dihadapan Allah SWT. Semua berlomba-lomba mendekatkan diri kepada sang kholik dengan cara memperbanyak ibadah selama di Makkah.
Air mata membanjiri bumi Arafah yang kering, gersang, nan tandus. Suara tangisan bersautan ditengah-tenggah terik matahari yang panas dan menyengat, namun jama’ah haji tidak memperdulikanya. Mereka memohon, meratap, dan meminta ampuan atas segala kesahalah, dosa yang pernah dilakukanya. Arafah menjadi lautan manusia, dengan seragam putih-putih yang seolah-olah sedang memutihkan hatinya dari segala dosa dan noda yang melekat pada dirinya masing-masing. Menjelang matahari terbenam, tidak hampir semua tamu-tamu Allah menghadap kiblat seraya berdo’a untuk kebaikan dan kemaslahatan dunia dan akhiratnya.

Tidak satupun dari mereka yang datang, kecuali dengan satu harapan kecuali memperoleh predikat haji Mabrur (diterima). Di tempat itu (Arafah), semua tamu-tamu- Allah SWT mengenal dan menginggat sejarah cikal bakal manusia. Arafah adalah tempat pertemuan Adam dan Hawa, serta manasik haji Nabi Ibrahim. Begitulah Ibadah haji, menurut Nabi, Ibadah Haji adalah amal yang paling mulia. Orang yang menunaikan haji disebut dengan “duta Allah’’ atau Wafdullah, apa yang mereka mohonkan seantiasa diperhatikan dan akan dikabulkan oleh Allah, apa yang diminta pasti di beri oleh Allah SWT. Apa yang mereka keluarkan dari sebagian materi, Allah tidak akan men-sia-siakan, akan diganti dengan dengan berlipat ganda.
Nabi Saw pernah ditanya amal apa yang paling utama, Nabi menjawab” Iman kepadAllah dan utusan-Nya, lantas, kemudian apa? Nabi menjawab”Jihad di jalan Allah, dikatakan lagi, kemudia apa? Nabi menjawab:’’ Haji Mabrur . Tidak ada yang lebih pantas imbalan bagi haji mabrur, kecuali balasan surga. Balasan ini sangatlah wajar, menginggat proses menuju haji mabrur itu sangat sulit dan rumit. Di samping mempersiapkan diri lahir dan batin, ilmu dan hartanya harus bersih dari barang-barang haram, serta subhat. Sebab, ini akan menjadi salah satu penyebab utama kemabruran haji seseorang.
Kemempurnaan dan abruran haji seseorang belumlah sempurna kirannya, jikalau belum mengunjungi kota Nabi (Madinah). Karena Makkah dan Madinah adalah dua kota sakral umat islam (al-Haramain). Di Madinah terdapat manusia sempurna yang menjadi teladan sepanjang jaman. Dialah Nabi Muhammad Saw penutup Nabi dan utusan, yang berjanji kepada para penggikutnya akan memberrikan pertolongan (safaaat) kepada semua uamtnya. Khusus bagi penziarah (jama’ah haji), Nabi berjanji kepada mereka, dengan mengatakan:” Barang siapa berziarah ke-kuburanku, maka ia akan mendapatkan safaatku’’ (H.R Daruqutni). Dalam redaksi lainya, Nabi menuturkan:’’ Barang siapa mengunjungiku, wajib baginya memperoleh surga’’.
Itulah haji yang benar, sesuai dengan ajaran agama, serta tuntunan Nabi Saw. Dalam kontek ke-Indonesiaan, banyak sekali orang yang berangkat ke Makkah, baik Haji atau umrah dengan menggunakan harta yang kotor, seperti mencuri, menipu, markus, dalam istilah yang keren KKN. Sering kita temukan, orang pulang Haji atau umrah disambut oleh Polisi, dan beristirahat di Prodeo Haji (penjara). Sunan Bonang pernah mengatakan’’Janganlah kalian berwudhu’ dengan air kencing’’. Artinya, jangan sampai menunaikan ibadah haji dengan harta yang haram, seperti uang hasil korupsi.
Saat ini, banyak sekali orang naik haji setiap tahun, dengan alasan bahwa haji yang pertama dan yang kedua belum sempurna. Adalagi yang mengatakan bahwa di Makkah, khususnya di Arafah bisa menangis kareka ingat akan dosa-dosa yang pernah dilakukan. Mereka tahu bahwa haji yang kedua itu hukumnya sunnah bukan wajib.
Dalam konteks system antrean Haji di Indonesia, dimana sebagian calon jama’ah haji telah mendaftarkan haji sejak tahun 2007, dan mereka baru bisa berangkat tahun 2010-2011. Mereka juga sudah membayar Rp 20 juta sebagai tanda mendapatkan kuota. Setiap tahun mereka menunggu, dan bertanya kepada diri sendiri. Kapan saya bisa berangkat menunaikan ibadah haji? Sedangkan usiaku setiap hari semakib bertambah, apa kira-kira umurku bisa sampai?
Jika sebagian orang bisa berangkat setiap tahun dengan membayar uang tambahan, atau mengatikan orang yang telah meninggal dunia. Atau karena punya kedekatan dengan orang tertentu, sementara itu mereka tidak pernah berfikir ratusan ribu calon jama’ah haji menanti? Jika cara yang dipergunakan tidak benar, maka ini bukan karena panggilan Allah, tetapi panggilan Iblis. Haji yang demikian ini hukumnya menjadi haram…

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s