Bersahabat Dengan Al-Qur’an

Kang Ali Muhtar, seorang pelajar di Umm Al-Qura Makkah mengatakan :” Andai Al-Qur’an bisa berbicara. ia akan bmengatakan :’’ ketik engkau masih kecil,kamu adalah teman sejatiku. Dengan air wudhu kamu sentuh aqku, dalam keadaan suci kamu pegang aku&kamu baca. Sekarang, engkau tumbuh  dewasa, sepertinya kamu tidak berminat lagi padaku. Engkau biarkan aku sendirian dalam lemari berlapiskan debu. Aku mohon raih aku kembali, peganglah aku  lagi, dan bacalah aku setiap hari-hari mu,waloupun hanya satu ayat.

Akupun ingin mengatakan:’’ wahai kawan, kenapa al-Qur’an itu tidak engkau sentuh lagi, padahal ia merindukanmu. Janglah al-Qur’an itu engkau lalaikan, dan kemudian Al-Qomik menjadi temanmu sehar-hari, film dan novel menjadi tema sejati. Jangalah, al-Qur’an itu tidak menyapamu lagi, karena terlalu lama engaku tinggalkan di dalam lemari yang penuh dengan debu. Sungguh, tuhan akan melupakan kalian, jika kalian melupakan-Nya.

Seorang pakar bahasa sekaligus dosen saya, Prof.Dr. Abdul Wahab al-Marhum pernah mengatakan:’’ ketika aku sakit, ternyata sangat sulit mencai obat penyembuh, para dokter ahli-pun aku datangi satu persatu. Mereka hanya mengatakan, sabar, dengan memberikan nota jenis obat dan harganya. Bergegaslah beliau menuju apotik untuk menebus obatnya. Bertahun-tahun ia menderita lever yang tak kunjung ada obatnya.

Suatu ketika ia mencoba mengambil al-Qur’an yang tersimpan di dalam lemari. Di dalam hatinya ia mengatakan;’’ terlalu lama aku meninggalkan al-Qur’an, 20 tahun lebih kitab suci ini tidak pernah aku baca, aku hanya sibuk bekerja dan menjadi peneliti bahasa Ingris. Setelah al-Qur’an di buka, selanjutnya ia memperhatikan kalimat demi kalimat yang tertulis dalam surat al-Baqarah, (ayat kursi). Tidak terasa, tiba-tiba air mata membasahai lembaran al-Qur’an yang sudah lama ditinggalkan.

Esok harinya, ia datang kepada rekanya dan memberinya obat. Dengan mengucap syukur, ternyata obat itu bisa mengurangi rasa sakit, dan bisa sembuh semula. Singkat, cerita beliau berjanji dalam diri sendiri, yaitu akan ikut aktif di dalam Masjid dan oragnisasi masyarakat sekitarnta. Terbukti, sang tetangga heran, karena beliau tidak pernah absen sholat berjama’ah, sebulan suntuk ikutan sholat tarawih.

Ternyata, al-Qur’an yang lama telah ditinggalkan menyapanya lagi. Ia-pun bersahabat lagi, dan akhirnya beliau meninggal dunia ketika sedang mengajar di dalam kelas. Sungguh, ini merupakan sebuah pelajaran berharga. Ternyata, al-Qur’an yang lama ditinggalkan, tetap merindukan dan memberikanya inspirasi hidup.



Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s