Wanita Dalam Kajian Bahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi, baik dengan tuhan (Allah), keluarga, tetangga, kerabat, dan masyarakat sekitarnya. Bahasa juga dipergunakan untuk menyampaikan buah pikiran, ide, pendapat, serta unek-unek seseorang, kepada lawan bicaranya. Bahasa yang dipergunakan seseorang di dalam menyampaikan ide (opini) memiliki karakteristik tersendiri, sesuai dengan latar belakang pendidikan, sosial budaya, baik laki-laki ataupun wanita. Perkembangan suatu peradapan juga dapat diketahui melalui perkembangan bahasanya.
Terkait dengan bahasa, setiap komunitas masyarakat, baik besar maupun kecil memiliki gaya dan karakter di dalam mengekspresikan sebuah tujuan. Wanita, juga memiliki gaya (style) unik di dalam mengeksprikan buah pikiranya. Biasanya bahasa kaum hawa lebih feminim dari pada bahasa kaum lelaki (maskulin) di dalam menyampaikan sebuah tujuan.
Para pakar bahasa menyakini bahwasanya wanita dan laki-laki perbedaan yang sangat signifikan, mulai busana, pola fikir, pola hidup, serta cara berbahasa serta watak dan karakteristiknya. Al-Quran mengisyaratkan ’’ Dan bukanlah laki-laki itu seperti wanita”. Di dalam bahasa Ingris, bahasa perempuan dikatakan sebagai bahasa yang sifatnya halus, lembut, eufemistik, dan hiperbolik. Sedangkan laki-laki lebih slang, dan inovatif di dalam menggunakan bahasa. Realitas ini tidak dipungkiri oleh berbagai komunitas, mulai Jawa (Indonesia), Arab, Afrika, Ingris, Eropa, ternyata bahasa wanita itu lebih halus dan lembut dibandingkan kaum lelaki, baik ketika berbicara (lisan) atau ketika menulis (karya ilmiyah).
Bahasa Jawa mengidentifikasikan bahwa wanita lebih lembut, mulai tuturnya, kepribadian, serta pola hidupnya sehari-hari. Orang Arab cenderung membedakan penggunaan bahasa antara kaum laki-laki dan wanita, baik percakapan, atau tulisan. Sedangkan Bahasa ingris terkesan maskulin, karena isi dan dan makna yang terkandung lebih mnegedapankan kaum lelaki.
Wanita di-manapun ia berada, Arab, china, india, Eropa, Amerika, sejak dulu hingga sekarang, dan mungkin sampai akan datang. Ternyata lebih suka menggunakan kata-kata yang lembut nan santun, di dalam semua hal. Lihat saja, adat Jawa. Sang Istri lebih suka memanggil suaminya dengan kata-kata lembut dan mesra, dan wanita lebih suka diperlakukan secara lembut pula. Wanita juga lebih memilih kata-kata yang menyentuh perasaanya, dari pada kaum lelaki yang inovatif.
Lihat saja, kata-kata kasar, seperti misuh-misuh (al-Mukhosomah), sering dipergunakan oleh orang laki-laki dari pada kaum wanita. Hal ini tidak saja terjadi pada orang Jawa, akan tetapi meliputi semua lapisan masyarakat kaum hawa yang hidup dipermukaan bumi ini.
Beberapa karakter wanita yang terkait dengan bahasa, dan bukti bahwa memang wanita itu lebih lembut, sopan dan dari pada lelaki antara lain, sbb:
(1) Wanita lebih suka memakai kata-kata romantis, seperti sayang, cinta, adinda, kakanda .
(2) Dalam sebuah percakapan, wanita ternyata lebih jarang menyela atau bertanya dibadingkan lelaki.
(3). Wanita ternyata lebih suka menerima pujian dari pada memuji. Bahkan, ia terlihat bangga manaka kaum wanita dipuji oleh lawan jenisnya.
(4) Wanita sering menggunakan kata kiasan (sindiran) jika mengingingkan sesuatu, dan laki-laki terang-terangan.
(5) Kata-kata maaf sering muncul dari lisan kaum wanita dari pada kaum lelaki.
Islam sangat menjunjung tinggi martabat wanita. Di dalam kehidupan sehari-hari, Nabi Saw. sering menggunakan kata-santun, lembut nan mesra ketika menyapa istri-istrinya. Ini adalah bukti, bahwa beliau Saw. benar-benar memahami karakter wanita yang memiliki sifat lembut, keibuan, dan mengedepankan perasaan. Oleh karena itu, lelaki mesti mengerti sifat dan karakter wanita (istrinya), sehingga tidak berbuat semena-mena di dalam membagub bahtera rumah tangga sebagaimana Nabi dan istri-istrinya.
Al-Quran sudah menjelaskan dengan gamblang, bahwa lelaki itu adalah pemimpin (mitra) kaum wanita. Mestinya, laki-laki memahami kakarker wanita, sehingga ia bisa berbuat adil terhadap wanita (istri) sesuai dengan kodiror agama. Bukan berbuat semena-mena dengan mengatasnamakan Al-Quran, atau mengatas namakan Nabi (sunnah Nabi). Firman Allah SWT. ” Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian lain (wanita) dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (An-Nisa 34).

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s