MEMAKNAI KUNJUNGAN (VISITE) DOKTER DI RUMAH SAKIT

Memang benar dan nyata bahwa dokter itu profesi yang keuntungannya sangat fantastis. Makanya, setiap Universitas yang memiliki FK (Fakultas Kedokteran) selalu kebanjiran calon mahasiswa baru. Sebab, menurut beberapa opini, tidak ada fakultas yang menjanjikan pekerjaan, kecuali Faklutas kedokteran. Jadi, profesi dokter menjadi elit, dan tidak sembarang orang mampu melanjutkan ke Fakultas Kedokteran, kecuali orang-orang yang lumayan tebal kantongnya. Kalaupun ada yang tidak tebal kantongnya, kemudian bisa masuk fakultas elit, bisa jadi mahasiswa itu memiliki prestasi dan intelektualnya diatas rata-rata. Sebab, tidak dipungkiri, hampir semua kampus yang memiliki Fakultas Kedokteran, jumlah peminatnya selalu meningkat setiap tahun, padahal uang masuknya cukup tinggi. Hal ini sering diungkapkan oleh para pengelola pendidikan elit ini.
UMM (Universitas Muhammadiyah) saja menyediakan 100 kuota setiap tahunnya. Akan tetapi yang mendaftar jumlahnya sekitar 600 Calon Maba (Radar Malang, 09, Maret, 2009). Menurut survey yang dilakukan UMM, kenapa peminat Fakultas Kedokteran semakin meningkat. Alasannya ialah karena UMM memiliki jaringan banyak rumah sakit dibawah naungan Muhammadiyah. Sehingga, mereka berharap setelah lulus mendapat pekerjaan yang sesuai (JP.Radar Malang, 09/03/2009). Intinya,motivasi utama kenapa memilih fakultas kedokteran ialah karena Ekonomi. Ekonomi ialah seuah cara untuk memenuhi kebutahan hidupnya. Wajar, susuahnya sulitnya perekonomian ini, memicu orang untuk memilih jurusan yang menjamin masa depan. Kedokteran, satu-satunya jurusan yang menjanjikan masa depan. UNISMA (Universitas Islam Malang) yang baru empat tahun berdiri juga demikan. Apalagi Universitas Negeri yang lebih banyak memiliki jaringan, sudah tentu peminatnya lebih tinggi.
Memang tidak salah, jika seseorang memilih fakultas kedokteran dengan niatan agar supaya lulus langsung memperoleh pekerjaan. Sebab, keadaan ekonomi Negeri ini sedang sulit. Bahkan, penganguran setiap tahun semakin meningkat. Jumlah orang sakit jiwa juga semakin tinggi. RSJ Semarang, saat ini mulai kehabisan tempat, karena jumlah pasien meningkat 100% (Jawapos, 16/08/2010). Menurut sebuah sumber, pemicu utama orang depresi dan sakit jiwa ialah urusan ekonomi. Jika ekonomi semakin sulit, logikanya orang sakit jiwa semakin banyak, dan rumah sakit semakin kebanjiran pasien. Logis, jika seorang mahasiswa kedokteran berfikir bahwa setelah lulus bisa langsung praktek, sehingga langsung bisa memenuhi kebutuhan ekonominya. Todak ngangur, sebagaimana banyak lulusan lainnya.
Masih membincangkan dokter yang elit nan hebat. Suatu ketika, ada seorang bercerita tengtang putranya yang sedang sakit seminggu tiga kali datang kedokter langgannanya. Setiap datang (periksa dan konsultasi), harus merogoh koceknya Rp 40.000 (tahun 2005) sekarang sekitar 80-90 ribu. Karena menjadi pelangang setia, dan harus bolak-balik kedokter tiga kali. Akhirnya, pada ketiga kalinya, sang Ibu memberanikan diri dengan mengatakan:’’ Dok..! saya sudah tiga kali bolak-balik kesini. Apa tidak ada diskon? Akhirnya, sang dokter dengan bijaksana, memberikan diskon 10 ribu. Dibayarlah 30 ribu.
Luar biasa, dokter yang sudah propesioanal, ternyata keuntunganya juga luar biasa. Setiap hari jumlah pasien yang berdatangan sangat luar biasa. Setiap praktek pagi berkisar 12-15 anak, begitu juga malam harinya, jumlahnya kadang lebih banyak. Jika setiap anak harus merogoh kocek Rp 90.000X30=2700000. Jika sebulan melakukan praktek 24 kali, maka maka uang yang dikumpulkan kira-kira Rp 1555.2000. Jumlah yang cukup mengiurkan bagi setiap orang yang mendengar atau melihatnya. Belum lagi gaji tetap sebagai pegawai negeri (PNS), atau menjadi pegawai tetap salah rumah sakit, seperti RSA (Rumah Sakit Saiful Anwar), atau rumah sakit ternama lainya.
Ketika menangani seorang pasien ditempat praktek, rata-rata jasa konsultan 80-100 ribu. Tetapi, jika pasien itu harus meng-inap dirumah sakit, maka tariff tersebut secara otomatis naik. Dan kenaikan itu disesuaikan dengan kondisi kamar (ruangan). Jika kamar (ruangan) standard, artinya tidak terlalu bagus, sekamar dua tempat tidur, kamar mandi, tanpa TV serta tidak begitu bagus, maka setiap kunjungan (visite) dokter tarifnya naik 100.000. Jika ruangannya semakin bagus, dengan fasilitas yang cukup, seperti kamar mandi di dalam, TV, lemari, maka setiap kunjungan (visite) menjadi 150.000. Semakin bagus ruangannya, maka semakin besar pula uang yang harus dikeluarkan. Semakin jelek dan tidak enak, semakin turun pula. Begitulah kondisi rumah sakit dan dokter yang melakukan prakteknya.

Rumah Sakit dan Hotel.
Saat ini telah bermunculan lembaga pendidikan bertaraf Internasional, begitu juga rumah sakit. Tahun ini juga banyak rumah sakit yang bertaraf Internasional. Sementara, sebagian besar penduduk Indonesia pasien yang menderita sakit bukanlah orang-orang yang berpenghasilan internasional, akan tetapi bertaraf kampungan alias wong deso (katrok). Jika rumah sakit berlomba-lomba menjadi bertaraf Internasional, sementara perekonomian Indonesia belum membaik, kemiskinan semakin meningkat. Apa boleh buat, drama pembuangan dan peyandraan bayi akan selalu ditemui dimana-mana.
Harga kamar rumah sakit (ruangan) saat ini hampir mirip dengan hotel, semakin bagus dan banyak fasilitas, maka semakin mahal dan sulit dijangkau. Semakin professional seorang dokter, semakin besar tarifnya, dan semakin besar penghasilanya. Begitu juga hotel, semakin besar namanya, seperrti Hilton, Marriot, Obroi, Intercontinental, (bintang lima) semakin tinggi tarifnya. Sehingga orang-orang elit saja yang bisa visit (berkunjung) dan menginapnya. Bedanya, jika rumah sakit yang elit, didalamnya dipenuhi dengan orang-orang yang sakit, khusus orang-orang yang berduit. Sedangkan Hotel Elit, didalamnya dipenuhi oleh orang-orang yang berduit (kaya) untuk menikmati segala fasilitas dan kemewahanya.
Semoga, rumah sakit yang bertaraf Internsional, tarifnya tetap kampungan, dokternya juga mendahulukan orang-orang yang bertaraf kampung (katrok), bukan mendahulukan orang-orang yang elit dan berduit juga. Profesioanal, akan tetapi nilai-nilai kemanusian tetap melekat, sebagaiaman tujuan dan gagasan dokter-dokter profesioal, seperti dr. Sholih, dr.Wahidin ketika masa perjuangan terdahulu. Mestinya, semakin tinggi ilmunya (professional), semakin murah tarifnya, dan semakin tinggi nilai kemanusiaya, persis seperti filsafat padi, semakin tua, semakin merunduk.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s