Ya Rasulullah….Kami Datang Mengunjugimu…!?


Nabi Saw. tinggal di kota Madinah. Kota ini penuh dengan nilai sejarah serta berkah yang melimpah. Semua orang berharap bisa berkujung kehadirat Nabi Saw, walaupun hanya dalam sebuah mimpi. Namun waktu dan jarak membuat para pengikutnya tidak bisa berntemu dengan baginda Nabi. Rumah tempat tinggalnya sudah tertutup rapat, karena sekarang sudah menjadi tempat peristirahan abadi. Namun, ternyata Nabi Saw. tetap wellcame kepada para pengikutnya. Beliau Saw malah menanti kunjungan para pengikut setianya, walaupun secara fisik Nabi Saw sudah tidak bisa menemui.

Nabi tetap mempersilahkan, beliau Saw akan selalu menjawab setiap ucapan sholawat dan salam. Rumah Nabi sangat dekat dengan tempat ibadahnya. Ukuranya sangat kecil dan sempit dibandingkan dengan kebesaran Nama dan kedudukanya sebagai seorang pemimpin umat manusia. Menurut Imam Hasan al-Basori, ketika beliau masih remaja, ia pernah ber-ziarah ke kediaman Nabi Saw sebelum dirobohkan. Beliau menuturkan” aku pernah memasuki kediaman Nabi Saw, waktu itu aku masih remaja, aku bisa meraih atapnya dengan tanganku[1]”. Ini merupakan isarah bahwa Nabi adalah seorang zuhud sejati, yang rumahnya hanya cukup untuk berteduh dari panas matahari dan dinginnya udara di malam hari.

Kediaman Nabi Saw sangat sederhana, jika dibandingkan dengan petinggi-petinggi saat ini. Rumah Nabi Saw. dibangun di atas pondasi iman dan taqwa. Kediaman beliau bukanlah untuk mewah-mewahan, bangga-banggaan, sebagaimana rumah-rumah pejabat, konglomerat, bangsawan, ilmuan, agamawan sekarang, serta para pedagang dan pempimpin yang notabene para pengikutnya saat ini. kebanyakan rumah mereka sangat bagus (real estate), ditempat mewah nan elit. Taman, perabotan, serta hiasan dinding begitu elok nan indah, seolah-olah mencerminkan surga dunia.

Sedangkan di dalam kediaman Nabi Saw, menurut para tetangga dan kerabat dekat, juga tidak mewah sebagaimana rumah para pemimpin, pejabat masa sekarang. Akan tetapi, kediaman Nabi penuh dengan cahaya al-Qur’an, sunnah dan wahyu ilahi. Nabi tidak memiliki taman yang dipenuhi dengan beraneka ragam kembang dan hiasan. Di sekitar kediaman Nabi, bersih dari semua hiasan, dan taman. Dinding rumah beliau juga bersih dari segala hiasan dinding, atau beraneka ragam bentuk gambar, pernak-pernik, dan hiasan keramik, sebagaimana yang kita temukan disetiap rumah. Kediaman Nabi bersih dari segala kotoran, sebagaimana bersihnya penghuninya dari sifat-sifat atau penyakit hati.

Sungguh sempurna. Beliau adalah manusia biasa tetapi posisinya sangat istimewa di sisi Allah SWT. Beliau masuk pada makom yang sangat tinggi yang kita kenal dengan “makoman mahmuda”, serta menjadi wasilah setiap umatnya memasuki surga. Wajar, jika banyak dari pengikut setianya menyebut Nabi Saw dengan ‘’insan kamil’’ yang artinya manusia sempurna. Tidak ada cela (aib) sedikit-pun yang melekat pada Nabi. Jika terdapat orang-orang menghina, sesungguhnya itu merupakan perasaan iri dan dengki dengan kesempurnaan Nabi Saw. Tetapi, Nabi Saw tidak pernah membalasnya dengan kebencian.

Istri-istrinya juga  disediakan rumah (hujurat) masing-masing, yang semuanya saling berdekatan. Agar memudahkan Nabi Saw unuk memberikan Nafkah lahir dan batin. Tidak ada yang lebih mewah di antara rumah-rumah yang disediakan Nabi untuk istri-istrinya. Semua rumah dan kamar yang disediakan Nabi, sangat sederhana bagi seorang Ibu Negara kala itu. Di dalamnya bersih dari beraneka ragam jenis kosmetika kekcantikan, serta baju mewah yang berwarna warni, serta perhiasan berupa emas permata.

itulah profil istri sholehah sejati, sekalius Ibu Negara, yang  menerima apa adanya. Istr-istri Nabi Saw tidak pernah menuntut suami di luar kemampuanya. Inilah yang digambarkan Nabi Saw dengan Istri sholehah yang membuat mata selalu sejuk memandangnya, dan menjaga kehormatan dan ketika suami sedang bekerja. Begitulah kondisi kediaman Nabi Saw bersama keluarganya.Keadaan itu bukan berarti Nabi Saw tidak mampu, tetapi karena Nabi lebih suka hidup apa adanya, dan tidak mau ternoda oleh gemerlap duniawi.

Nabi Saw. telah tiada, tetapi beliu tetap menjadi tujuan semua pengikutnya yang datang dari penjuru dunia. Nabi Saw berjanji, siapa yang mengunjunginya akan mendapatkan pertolongan. Dengan catatan, kujungan itu semata-mata karena ingin meneladani kehidupan beliau Saw. Bukan kunjungan karena rekreasi, atau hanya sekedar mengenang jasa-jasa Nabi Saw. Sebab, Nabi Saw juga akan menjawab setiap kunjungan umatnya. Ya Rosulullah, Aku datang mengujungimu, semoga Allah menjadikan kunjungan ini menjadi amal Ibadah. Dan, semoga engkau berkenan menerima kunjungan kami semua….(Allahuma Solli Ala Sayyidina Muhammad…..!)


[1] . Abdul Ghoni, Ilyas, Muhammad, Buyutu al-Sohabat haula al-Masjidi al-Nabawi al-Syarif,  halaman 22 tahun1999- Cetakan Makatabah Malik fahad al-Watoniyah.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Seputar Haji. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s