HAJI: Antara Bisikan Syetan dan Panggilan Allah

Di dalam sebuah hadis Nabi, beliau Saw menuturkan:’’ Tidak ada yang lebih pantas balasan bagi haji mabrur (diterima), kecuali surga (H.R Bukhori). Ketika mendengar hadis ini, seolah-olah Nabi Saw ingin mengatakan kepada semua pengikutnya agar supaya ritual hajinya benar-benar diterima oleh Allah Swt, alias mabrur. Sebab, makna yang tersirat di dalam ‘’Mabrur’’ itu mampu memberikan perubahan signifikan terhadap prilaku, sikap, serta pitutur pelaku haji itu sendiri. Para ulama’ sepakat, yang dinamakan haji mabrur ialah haji yang benar-benar menggunakan dana yang halal seratus persen, dan memberikan dampak yang positif terhadap prilakunya sehari-hari.
Namun, tidak semua orang yang menunaikan ibadah haji setiap tahun memiliki predikat mabrur. Sebab, realitasnya masih banyak pejabat, ustad (kyai), yang berhaji berkali-kali, tetapi masih suka menipu, berusta, korupsi. Padahal, mereka sering datang ke Makkah, baik umrah maupun haji. Jika benar haji dan umrahnya, pasti akan memberikan perubahan signifikan terhadap prilaku mereka. Fakta dilapangan juga menyebutkan, bahwa para penipu, pembohong, yang membawa kabur uangnya calon jama’ah haji, seperti; Visa Non Kuota, PT Azzahra (terdampar di Malaysia),PT-Azizi (Sumatra), Jama’ah KBIH yang batal berangkat, atau terlunta-lunta di Jeddah. Ternyata, para pelaksana dan pemiliknya rata-rata sudah menunaikan haji berkali-kali. Dan, masih banyak ratusan jama’ah yang tertipu dengan mengatasnamakan ke-sakralan tanah suci.
Barangkali benar apa yang ditulis oleh K.H. Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’kub, seorang ulama’ yang sekaligus Imam Besar Masjid Istiqal Jakarta, yang pernah menulis kolom bertajuk ‘’Haji Pengabdi Syetan’’. Beliau mengkritik, disaat bencana datang bertubi-tubi, ternyata beberapa pejabat yang ikut serta menunaikan ibadah haji (GATRA, 17/10). Ternyata, anak binik, orangtua, dan mertua, uga ikut serta menunaikan ibadah haji. Total, jumlah jama’ah yang ikut sekitar 60 orang, tetapi mereka membiayai sendiri keberangkatan haji ke tanah Suci.
Yang menjadi pertanyaan ialah, begitua giatnya sebagian orang Indonesia menunaikan ibadah haji hingga berkali-kali. Jangan-jangan, keberangkatan mereka itu bukan karena perintah-Nya, melainkan bisikan dan nyayian syetan yang sangat indah nan lembut. Ali Mustafa melanjutkan:’’ jangan-jangan kita mengikuti bisikan syetan agar di mata orang awam disebut orang luhur. Banyak orang yang beranggapan, syetan hanya menyuruh kita berbuat jahat, tidak menyuruh beribadah. Iblis tidak menyuruh orang suka beribadah untuk mabuk, melainkan menyuruhnya, antara lain haji berkali-kali (GATRA, 17/2010).
Diterangkan dalam sebuah kisah klasik, seorang ahli ibadah’ menabung uang bertahun-tahun untuk bekal menunaikan ibadah haji. Ketika bekal (uang) sudah cukup. Dia melihat tetangganya yang sangat miskin, dan tidak mampu membeli makan. Demi menenui kebutuhan perut, tetangganya itu akan mengkonsumsi barang haram. Melihat tetangganya seperti itu, ia-pun merelakan uang yang akan digunakan berangkat haji untuk membantu tetangganya tersebut. Dia rela, tidak jadi menunaikan ibadah haji, demi menyelamatkan tetangganya. Dan, hal ini ternyata dikabarkan, bahwa orang yang niat haji hakekatnya sudah menjadi haji mabrur.
Ini benar kiranya. Sebab, setiap orang yang sudah niat haji wajib, kemudian sudah menabung, tetapi dia gagal berangkat dengan alasan yang syari (agama), seperti; ditipu, uangnya dibawa kabur. Sesungguhnya, orang tersebut sudah dikategirkan telah menunaikan ibadah haji. Nabi Saw menuturkan:’’ barang siapa sudah niat (keluar rumah) menunaikan ibadah haji, maka ia senantiasa dalam naungan-Nya. Jika ia meninggal sebelum melaksanakan nusuk (ibadah haji) di Makkah, maka pahalnya tetap sempurna di sisi-Nya.
Tahun ini, banyak sekali warga Indonesia yang tertipu. Tangisan mereka akan mengemparkan penduduk langit. Keluhan mereka akan mengonjang langit dan bumi. Wajar, jika Nabi Saw menuturkan bahwa do’anya jama’ah haji itu tidak akan ditolak oleh Allah Swt. Sebab, mereka mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, dengan nitan memenuhi panggilan-Nya, ternyata segelintir manusia berhati iblis membawa kabur keringat mereka. Sungguh, inilah yang disebut dengan menunaikan haji yang sebenarnya. Walaupun mereka belum pernah melihat rumah Allah Swt, tetapi do’a mereka telah menembus dinding-dinding baitulah yang agung nan mulia.
Jika dianalogikan, yang pantas menjadi tamu (duta Allah) di Makkah, bukanlah mereka yang haji atau umrah berkali-kali. Tetapi, mereka yang menabung bertahun-tahun untuk berjumpa dengan-Nya melalui celah-celah rumah-Nya. Jujur, seandainya uang mereka dipergunakan meng-hajikan hamba-hamba Allah yang sholih. Itu lebih baik, dari pada memenuhi nafsu hajinya. Sebab, nafsu haji berkali-kali itulah yang disebut dengan nyayian syetan yang begitu indah nan merdu. Sehingga mereka mengira, bahwa pangilan itu panggilan Allah, padahal sejatinya adalah bisikan syetan.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s