Ketika Pelempar Jumrah Ke-Syetanan

Salah satu dari sekian ritual haji yang sangat menakutkan bagi calon jama’ah haji ialah Melempar Jumroh (Jumratul Aqobah). Hampir setiap tahun, jama’ah haji yang baru pulang menunaikan ibadah haji di Makkah bercerita panjang lebar seputar kesulitan di dalam melempar jumrah. Ada juga yang menakut-nakuti, bawa orang Indonesia yang kecil-kecil kalah dengan orang Afrika yang besar-besar. Bahkan, ada juga yang terjatuh dan terinjak-injak hingga meninggal dunia. Pokoknya, cerita perjuangan melempar jumrah bertaruh dengan nyawa. Begitulah sebagian jama’ah haji yang baru pulang dari Makkah pada tahun-tahun yang lalu.

Dari tahun ketahun, kesulitan itu terus di evaluasi, dengan tujuan agar semua kesulitan dapat di atasi dan, korban tidak terjadi lagi. Saking pentingya melempar jumrah, maka setiap jama’ah yang tidak mampu harus mengantikan kepada orang lain (mewakilan) melempar dengan imbalan (membayar). Jika terlewatkan karena disenggaja tidak melempar jumrah, bisa dikenakan dam (denda). Sebab, melempar jumrah sesuatu yang mesti dilakukan oleh setiap jama’ah haji. Kecuali, ketika tidak melaksanakannya karena karena uzur, sakit, dan lainnya maka melempar jumroh bisa diwakilkan, dengan syarat yang melakukan lemparan harus sudah melakukan lontaran untuk dirinya sendiri terlebih dahulu.

Wal hasil, pada tahun 2010, melontar jumrah tidaklah sulit lagi, bahkan sangat menyenangkan. Dan, kesulitan-kesulitan yang pernah terjadi pada tahun-tahuan sebelumnya tidak lagi dirasakan. Yang mana, setiap tahun selalu memakan korban nyawa. Tahun ini, merupakan tahun kemudahan bagi setiap jama’ah haji. Dari berbagai segi, pemerintah Arab Saudi selalu meng-evaluasi, yang selanjutnya diperbaikinya. Jama’ah haji-pun sekarang bisa enjoy di dalam melaksanakan ritual haji, seperti: Wukuf, mabit, thowaf, sai’ lempar jumrah. Dari segi transportasi, jauh lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya, begitu juga akomadasi. Kemudahan-kemudahan ritual haji, terkesan memanjakan orang yang sedang beribadah menuaikan ibadah. Sehingga, kadang hal ini seolah-olah memuncukan oponi, bahwa ritual haji sudah mulai pudar kesakralannya.

Pada tanggal 10 dzulhijjah, setiap jama’ah haji harus melempar Jumral Aqobah. Dan selanjutnya, pada tanggal, 11, 12, 13, setiap jama’ah haji harus melempar tiga jmurah. Ada tiga jumroh tempat ritual pelemparan yaitu jumroh Aqobah, jumroh Ula, dan jumroh wustha. Tiga tempat itu sekarang jauh lebih mudah, nyaman, dan menyenangkan, bahkan terkesan seperti wisata melempar syetan. Kendati demikian, seorang jama’ah haji harus tetap memperhatikan dan menjaga kesehatan, agar tetap sehat dan kuat, agar supaya dapat melempar jumrah dengan baik dan benar.

Pada tahun-tahun yang lalu tempat melempar jumroh tidak lebih dari layaknya sebuah tugu, akibatnya saat ritual pelamparan jumroh terjadi konsentrasi jamaah yang luar biasa dan sering menimbulkan banyak kurban karena saling berdesakan. Sekarang, lokasi pelamparan jumroh menjadi sangat nyaman. Pemerintah arab saudi telah menyulap lokasi pelemparan jumroh menjadi tempat yang indah dan nyaman. Jumroh dibuat menjadi tugu yang sangat lebar dengan bentangan 20 m. Wow….ini sungguh menyenangkan…!Apalagi, pembimbing hajinya benar-benar memperhatikan tiap-tiap jama’ahnya. Jaman modern membuat semua serba mudah, tempat pelemparan jumroh dibuat lima lantai yang dihubungkan dengan jembatan sepanjang 950 meter lebar 80 meter, diperkirakan dapat menampung 300.000 jamaah sekaligus saat melakukan pelemparan jumroh.

Jembatan yang ditengah-tengahnya terdapat jumroh ini memiliki 11 pintu masuk dan 12 pintu keluar, selain itu dilantai paling atas terdapat helipad jika diperlukan saat darurat. Untuk menambah kenyamanan jamaah, tempat ini juga dilengkapi sistem pendingin ruangan mutakhir yang dapat mempertahankan suhu pada 29 derajat Celcius. Fondasi jembatan dibangun kuat untuk menahan 12 lantai dengan kapasitas 5 juta jamaah jika diperlukan di masa depan. Tidak seperti masa lalu, sekarang jamaah tidak boleh lagi istirahat, tidur, berkemah di sepanjang jembatan atau jalur pejalan kaki dalam keadaan apapun. Dengan selesainya proyek jamarat ini, menjadi prestasi arsitektur yang unik yang diharapkan untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan dan kecelakaan saat terjadi ritual pelemparan jumroh.

Hal yang menarik dalam proyek raksasa mina ini adalah :
• Jika jamaah datang dari salah satu pintu tidak mungkin bertemu dengan jamaah yang datang dari pintu lain.
• Untuk masuk ke area jumroh diberlakukan satu arah, hal ini untuk mencegah terjadinya pertemuan arus jamaah.
• Jamaah yang datang dari arah Mina (barat) otomatis akan masuk lantai pertama.
• Jamaah yang datang dari Mina selatan akan masuk ke lantai dua jembatan.
• Tingkat ketiga jembatan diperuntukkan bagi jamaah yang datang dari arah Mina pusat, (jalan Raja Fahd, dan juga dari lereng bukit Mina), dan keluarnya akan melalui eskalator ekstra besar atau tangga biasa.
• Lantai keempat jembatan dimaksudkan untuk jamaah yang datang dari arah Jl Raja Abdulaziz.
Pemerintah Arab Saudi telah menyediakan berbagai fasilitas disekitar tempat melempar jumrah. Bahkan, hampir disetiap sudut Mina, terdapat fasilitas-fasilitas umum, seperti dispenser air minum, toilet, keamanan, pos kesehatan, bahkan tempat mencukur rambut usai tahalul. Jaringan kamera pengawas yang memonitor setiap sudut ruangan juga dipasang dan dihubungkan ke pos kendali keamanan untuk mengantisipasi layanan darurat jika terjadi kecelakaan. Ini juga menjadikan ritual haji semakin menyenangkan dan tidak mengkhawatirkan. Dan, yang paling penting mampu meminimalisir korban yang sering terjadi setiap tahun.

Tetapi, yang perlu digaris bawahi ialah, bahwa melempar jumrah itu bukan melempar syetan. Sebab, syetan itu sudah tidak ada lagi. Banyak dari jama’ah haji yang melempar jumrah dengan nada marah, kesal, sehingga mereka melempar batu tidak tepat pada lubang. Ada juga yang mengambil sandal, apa saja yang mereka pegang untuk melempar. Dan, ini sangat membahayakan, sebab kondisi marah, cuaca panas, coudit bisa menimbukan dampak yang negative pada calon jama’ah haji. Tidak perlu emosi atau marah-marah, di dalam mepontas jumrah. Agar tidak kesyetanan.

Memang, ada beberapa ustad dan kyai saat berceramah salah menafsirkan hakekat melempar jumrah. Ini sangat membahayakan, jika calon jama’ah haji tidak memiliki banyak ilmu pengatahuan seputar haji. Sebab, hakekat melempar jumrah ialah, memasukkan batu pada lubang yang telah tersedia, bukan karena melempar syetan. Sedangkan, cara melempar juga tidak menggunakan tenaga penuh, sebagaimana banyak disaksikan. Dan, batu yang dipergunakan juga tidak besar, karena akan membayakan orang lain jika tidak masuk pada lubang. Menurut pada ulama’, besar batu yang dipergunakan melempar kira-kira sebesar biji Zaitun atau Kurma. Allah Swt memperingatkan kepada jama’ah haji, agar jangan samapi ternoda dengan perbuatan fasik, bantah-bantahan (debat kusir), serta bercumbu dengan pasangan.

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Info Haji dan Umrah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s