Wahai Jama’ah Haji dan Pemukim Makkah….! Segerlah Kembali Pulang….!

 

Diantara perubahan yang sangat menarik, ialah pada masa Umar Ibn Al-Khattab ra. Sejarah menceritakan, bahwa masjidilharam pada masa Nabi Saw tidak ada dinding yang mengelilingi masjid, semua terbuka luas. Bahkan, di sekeliling baitullah terdapat rumah-rumah penduduk. Jadi Masjidilharam adalah halaman baitullah. Di masa Abu Bakar al-Shiddiq, dan Umar bin Khattab, sekitar rumah Allah adalah rumah-rumah sahabat (penduduk). Semakin hari, jumlah penduduk semakian banyak, sehingga waktu musim haji tiba, semakin sempit dengan banyaknya jama’ah haji yang sedang thowaf.

Sebagai Seorang kholifah, Umar bin Khattab mempunyai inisiatif cemerlang. Beliau membeli rumah-rumah penduduk disekitar Masjidilharam untuk dijadikan halaman masjid. Dengan tujuan, tempat thowaf semakin luas, sehingga pelaksanaan ritual thowaf tidak berjubel. Pelebaran Masjid Haram waktu itu juga mengalami gendala, dimana ada sebagian penduduk engan pindah, dan tidak mau menjual tanahnya. Protes sebagian orang yang tidak setuju membuat Umar turun tangan, beliau mengatakan” Kalian semua memang diturunkan di Ka’bah, tetapi Ka’bah tidak diturunkan untuk kalian, melainkan karena keabadianya”.

Pernyataan Umar membuat orang yang engan, akhirnya merelakan tanahnya dibeli demi perluasan Masjidilharam. Akhirnya, Umar memagari Baitullah dengan dinding-dinding yang mengelilingi Baitullah, beliau juga memberikan pintu-pintu agar memudahkan orang keluar masuk Masjdilharam, sedangkan lantai-lainta sekitar Baitullah dengan kerikil-kerikil kecil (wedi) agar orang yang sedang thowaf lebih nyaman dan tidak terganggu. Itulah Umar, beliau selalu hadir dengan ide-ide yang fresh. Ide-Ide Umar Ibn al-Khattab ra begitu banyak dan mengesankan. Tdak jarang idenya disepakati oleh Nabi Saw, sampai-sampai Allah-pun menyetujuinya. Pada Masa Usman Bin Affan juga terjadi peluasan, tetapi hanya sebatas penerus apa yang telah dilakukan Umar, begtu juga pada Masa Ibnu Jubair (renovasi Baitullah).

Kendati mereka memberikan perubahan dan pembenahan. Nila-nilai sacral masih terus dijaga dan dilestarikan. Umar Ibn al-Khttab selalu menganjurkan semua jama’ah haji agar segera meninggalkan kota suci Makkah setelah merampungkan ibadah haji. Sebab, semakin lama tinggal di kota kelahiran Nabi ini, maka rasa ta’dim (penghormatan) terhadap rumah Allah Swt semakin berkurang. Dan, sekarang telah menjadi kenyataan. Berapa banyak orang Indonesia, India, Turkey, Mesir, Pakistan, Afrika, yang berlama-lama tinggal di Makkah, ternnyata air mata mereka sudah kering. Ketika pertama kali mata mereka menatap rumah-Nya, tidak terasa air mata mereka menetes, membasahi pipinya. Tetapi, semakin hari semakin semakin jarang, bahkan tidak sedikit dari mereka berani berbuat jahat, maksiat. Inilah yang dikhawatirkan oleh Umar Ibn al-Khttab. Wallahu’lam

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s