KASTURI: Jagoan Umrah dari Pasuruan

Seperti biasanya, setiap jama’ah haji yang telah merampungkan ritual ibadah haji di Makkah, merasa lega dan plong. Aktifitas sehari-hari hanyalah sholat wajib berjama’ah di Masjidilharam. Sebagian lagi melaksanakan thowaf sunnah setiap kali pergi ke-Masjidilharam. Tidak ada aktifitas yang berarti, kecuali menambah ibadah sunnah-sunnah lain, seperti; sholat tahajjud, rawatib, witir, membaca al-Qur’an, serta memperbanyak dzikir kepada Allah Swt. Ini, biasanya dilakukan oleh para jama’ah Indonesia asal pedesaan yang sudah terbiasa melaksanakan sunnah-sunnah Nabi.

Walaupun demikian, tidak sedikit dari mereka menggunakan selal-sela waktu menunggu kepulangan dengan memperbanyak belanja, seperti: membeli kambal, parfum, sajadah, barang pecah belah, elektronik. Dan, tidak lupa mereka juga membeli oleh-oleh untu tetangga dan kerabatnya. Kesibukan belanja inilah, kadang menjadikan rutinitas sholat jama’ah di Masjidilharam tidak terjaga dengan baik, alias bolong-bolong. Dan, ini sudah menjadi fenomena jama’ah haji asal Indonesia. Apalagi, maktabnya jauh sekali, sehingga cukup untuk dijadikan alasan.

Wajar, sekali jika masjid-masjid kecil disekitar Maktab penuh dengan jam’ah haji asal Indonesi. Memang tidak salah, sebab secara keseluruhan beribadah di Makkah pahalanya berlimpah. Tetapi, sungguh sayang jika tidak bisa sholat di Masjidilharam yang penuh dengan berkah dan karomah. Seorang jama’ah ditantya;’’ Kang….! Kenapa tidak sholat ke Masjidilharam? dengan enteng, jama’ah itu menjawab:’’ sholat disini sama aja kok…!? di sini juga dapat pahala seratus ribu. Padahal, dia aras-arasen (malas), karena maktabnya cukup jauh dari Masjidiharam. Tepatnya di Sari’ Mansur…(Jauh Amat…!?

Salah satu dari rombongan itu bernama Kasturi. Bagi Kasturi, musim haji kali merupakan moment terpenting bagi dirinya. Sebab, sebagai orang miskin, tidak mungkin bisa menunaikan ibadah haji berkali-kali seperti para pejabat dan menteri. Untuk itu, haji kali harus sempurna. Ketika pertama kali kakinya menginjakkan kakinya di tanah suci Makkah. Kasturi terkagum-kagum, seolah-olah detak semakin kencang. Bibirnya merah, selalu basah, tak henti-hentinya bertasbih, bertahmid, tahlil, mengagungkan kebesaran Allah Swt. Dari sudut-sudut matanya keluar butiran air mata, sebagai tanda atas kepasraan dan ketika berdayaan dirinya dihadapan Allah Swt.

Langkah demi langkah, kasturi terus menyusuri ribuan kerumunan orang disekitar rumah Allah. Ketika langkah kaki semakin mendekat pintu masjidil haram. Kasturi melihat bangunan hitam berwibawa dari sudut-sudut pintu masjidilharam. Melihat ka’bah dari pintu Al-Fatah. Airnya matanya semakin deras mengalir. Dia-pun tidak kuasa menahan, suara tangisan semakin keras dengan iringan ‘’ Ya Allah….aku penuhi panggilan-MU’’ (Labbaik Allahuma Labaik 3X…Las Syarika Laka Labbaik…Inna al-Hamda wa Nikmata Laka wa al-Mulk, La Syarikalak….!)

Setelah memasuki Masjidilharam beberapa langkah, tiba-tiba Kasturi jatuh tersungkur dan pinsan….Brukkk…..melihat Kasturi Jatuh. Rekan-rekan menjadi binggung, tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Ketua KBIH, yang membimbingnya bisa-biasa saja, sebab dia telah berkali-kali naik haji, sehingga melihat rumah Allah sudah biasa. Ketua KBIH, mengatakan;’’ biarkan dulu…insaAllah, sebentar lagi sadar….!? Al-Hamdulillah…setelah 2-3 menit. Kasturi sadarkan diri. Ternyata, pandangan mata Kasturi mampu menembus rumah Allah, sehingga seolah-olah Kasturi melihat-Nya melalui sudut-sudut rumah Allah. Karena begitu indah dan mengagumkan, Kasturi tidak mampu menahanya hingga terjatuh dan pingsan.

Selanjutnya, Kasturi berjalan mendekat rumah Allah Swt. Setelah sampai pada sudut Hajar Aswad, tangisan dan air mata Kasturi tidak terbendung lagi. Sepanjang thowaf qudum, kasturi mengangis karena bersykur, terharu, dan takut kepada-Nya. Setelah merampungkan ibadah thowaf, Kasturi sholat di Hijir Ismail sembari menengadahkan tangan ke-langit;’’ Ya Allah…..engkau telah memanggilku untuk datang kerumah-MU, tetapi saya malu kepada-MU ya Allah….aku belum bisa mengajak kedua orangtuaku…Ya Allah, Jika engkau berkenan, maka panggilah kedua orangtuaku untuk menunaikan rukun islam ini…Tetapi, mana mungkin ini terjadi. Sebab, saya bukanlah orang yang cukup uang, karena kehadiranku ditempat yang mulia ini atas kehendak-MU melalui orang lain. Ya Allah, jika engkau tidak menerima, lantas kepada siapa lagi aku memohon….Ya Allah, tidak ada tempat yang layak untuk meminta, kecuali kepada-Mu. Aku pasrahkan kedua orangtuaku kepada-Mu, di sini, di tempat mulia ini (Hijir Ismail).

Kasturi adalah seorang santri. Sebelum diberangkatkan haji, beliau sering ikut pengajian diberbagai majlis ta’lim. Hampir setiap keterangan yang disampaikan oleh gurunya beliau tulis dan diingat. Pada suatu ketika sang Ustad menceritakan bahwa beribadah di Makkah, pahalanya seratus ribu. Khususnya sholat berjama’ah dan sholat sunnah lainya. Rupaya Kasturi ingat betul petuah-petuah gurunya. Oleh karena itu, Kasturi tidak pernah ketinggalan sholat berjama’ah, walaupun maktabnya agak sedikit jauh jaraknya dari Masjidilharam.

Yang paling melekat pada ingtan Kasturi ialah petuah sang guru seputar pahala umrah sunnah. Sang guru pernah mengungkapkan:’’ Nabi Saw pernah menuturkan’’ diantara umrah satu dengan umrah lainya adalah penghapus dosa’’ (H.R Bukhori). Hadis ini ternyata melekat pada Kasturi. Semenjak kakinya menginjak kota suci Makkah. Setiap melaksanakan umrah sunnah. Bahkan, dia pernah umrah 2-3 dalam satu malam. Sampai rekan-rekanya memberikan nama baru kepadanya dengan sebutan ‘’Kaji Umrah’’. Sebab, tiada hari tanpa umrah baginya.

Rupanya, Kasturi tidak ingin memperoleh pahala sendirian. Sebelum sholat subuh, Kasturi ngoprak-ngoprak rekan-rekannya dan mengajak sholat berjama’ah, selanjutnya ambil mikot di J’ronah. ‘’Bangun-bangun….!Ayo umrah….!. Begitulah gaya Kasturi setiap pagi membangunkan rekanrekannya. Rupanya, usaha Kasturi tidak sia-sia. Rekan-rekannya menyambutnya ajakan diterima. Sehingga, rombongan tersebur rajin melaksanakan Ibadah umrah. Begitulah sosok Kasturi yang rajin umrah sunnah setiap hari. Jagoan Umrah sunnah, dengan julukan KAJI UMRAH SUNNAH.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s