MA’LA : Tempat Peristirahatan Terahir Penduduk Mak

Setiap hari, di Masjidilharam setelah sholat lima waktu dilakukan sholat Jenazah. Biasanya, seusai salam terdengar suara ‘’Sollu ala al-Mayyiti…..’’ yang artinya’’ Mari menyolati mayit’’. Setelah melaksanakan sholat berjama’ah yang dipimpin langsung oleh Imam Masjidiharam. Ribuan, bahkan jutaan umat islam ikut serta mendo’akan sang mayat. Selanjutnya, jenazah tersebut langsung dibawa keluar menuju ‘’MA’LA’, tempat peristiratan terahir. Hampir semua penduduk Makkah, yang meninggal di kuburkan di Ma’la, tak terkecuali jama’ah haji yang wafat dikota suci. Terkait dengan tempat peristirahatan terahir ini, Rosulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik kuburan adalah ini (Ma’la).” (HR al-Bazzar).

Dalam hadits lain, Nabi Saw. menerangkan bagaimana balasan orang yang beriman ketika meninggal di Makkah, kemudian dimakamkan di Ma’la’. Ibnu Abbas mengatakan, “Sebaik-baik pemakaman adalah tempat ini.” Bahkan, siapapun yang meninggal dunia di Makkah, entah orang tersebut sedang menunaikan Umrah atau Haji, maka ia tidak akan dihisab serta tidak akan disiksa. , ia kelak juga akan dibangkitkan dengan aman dan sentosa. Kendati demikian, Imam Ibnu Jauzi mengkatagorikan hadits tersebut pada derajat ‘’Al Mauduat”.Sedangkan Imam al-Suyuti tidak sependapat dengan Ibnu al-Jauzi, sebab Imam Baihaqi juga meriwayatkan di dalam Fadoil Makkah dari Anas dengan derajat Marfu.’

Terlepas dari perbedaan hadis tersebut. Orang mu’min yang dimakamkan di Ma’la dengan berbekal iman dan taqwa, serta amal sholih yang cukup, maka mereka akan memperoleh jaminan surga. Jangan pernah menduga, jika seorang jam’ah haji meninggal dunia, tetapi ongkos hajinya dari uang tidak halal (korupsi), maka ia akan masuk surga. Tidak…tidak, sebab tempat mulia (makkah) juga terkait erat dengan amal ibadah manusia. Ma’la merupakan tempat penguburan jenazah orang-orang Makkah dan jama’ah haji atau umrah yang meninggal di Makkah sejak zaman Nabi hingga saat ini, bahkan kelak dikemudian hari. Diriwayatkan juga dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Allah akan membangkitkan penghuni Ma’la sebagai penghuni surga. Wajah-wajah mereka layaknya bulan purnama.

. Tentunya ini janji bagi mereka yang beriman dan senantiasa menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Karena, tidak mungkin orang jahiliyyah kuno yang dimakamkan di Ma’la, bisa masuk surga dengan wajah berseri-seri. Begitu juga dengan orang jahiliyah modern. Letak pemakaman ini di sebelah timur Masjidil Haram dan merupakan tempat yang sangat bersejarah di Makkah.

Semua penduduk Makkah atau yang meninggal di dalamnya dishalati di Masjidil Haram setiap ba’da shalat fardhu, kemudian dibawa ke Ma’la lalu dimakamkan. Ma’la saat ini tertata rapi dan tertib. Siapapun yang akan dimakamkan harus melalui administrasi yang selektif, sehingga orang asing yang tidak mempunyai identitas yang jelas tidak bisa dimakamkan di Ma’la. Ma’la juga termasuk tempat mulia, karena Ummul Mu’minin siti Khadijah, isteri pertama Nabi, dimakamkan di dalamnya. Kemudian ipar Nabi, Asma’ binti Abu Bakar, Abdulah bin Zubair bin Awwam, Ibnu Hajar al-Haitami serta banyak lagi para sahabat, ulama dan orang-orang shalih yang meninggal di Makkah.

Dan masih banyak lagi dari para sahabat serta ulama-ulama’ terdahulu dan ulama’-ulama’ dari luar kota Makkah yang juga dimakamkan di dalamnya. Begitu pula orang-orang shalih yang menetap di Makkah. Mereka juga dimakamkan di Ma’la. Bahkan banyak yang tidak diketahui, karena terlalu banyak yang meninggal, mulai dari zaman Nabi sampai saat ini dan di kemudian hari. Keistimewaan bagi ahli Makkah yang beriman, mereka tidak mendapatkan fitnah dari Dajjal, sebagaimana keterangan di dalam beberapa literatur hadits serta atsar.

Setiap orang boleh berdo’a kepada-Nya, agar bisa di makamkan di Makkah, tetapi tuhan-lah yang menentukan kematian seseorang. Sebab, tidak sedikit orang meninggal di Makkah, tetapi justru keluarganya memboyong jenazahnya ke negaranya. Sungguh merupakan kemulyaan bagi orang-orang yang beriman meninggal di Makkah dan di makamkan di Ma’la. Tetapi, semua itu adalah kehendak-Nya atas hamba-hambanya.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Seputar Haji. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s