Mengunjungi Tetangga Nabi Saw

 

Setiap orang yang berkunjung ke-kota Nabi Saw, pasti tidak lupa mengucapkan salam dan sholawat atas beliau Saw dan juga keluarga, sahabat Nabi Saw. Mengunjungi kota Nabi sama dengan mengunjungi beliau ketika masih hidup. Dalam sebuah hadisnya, Nabi Saw menuturkan’’barangsispa mengunjungiku makamku, maka ia wajib memperoleh pertolonganku’’. Artinya, berkunjung ke ke-kediaman Nabi merupakan sebuah kemulyaan. Dan, hadis tersebut menjadi motifasi bagi setiap orang dari pengikut setianya untuk bisa mengunjungi belia Saw.

 

Di Madinah al-Munawwarah, Nabi Saw tidak hidup sendiri, beliau dikelilingi para tetangga yang terdiri dari kaum Ansor, Muhajirin, Pemukim, serta penduduk pendatang yang sengaja memeluk islam. Mereka semua disebut dengan ”Sahabat Nabi”. Sahabat Nabi terdiri dari lelaki, wanita, tua dan muda, bahkan dari kalangan Jin yang beriman juga menjadi sabahat Nabi Saw. Semua orang yang pernah bertemu atau mendengar petuah Nabi Saw, kemudian beriman kepadanya, mereka disebut dengan sahabat, dan berhak memperoleh jaminan surga.

Di antara para sahabat, terdapat kelompok yang dikenal dengan ‘’Ahlu Suffah”. Mereka terdiri dari kelompok pendatang, atau penduduk asli yang tidak memiliki kerabat dekat. Sebagian mereka sengaja datang untuk belajar ilmu agama, kemudian kembali kepada kaumnya guna mengajarkan ilmu yang sudah dipelajari langsung dari baginda Nabi. Ibnu Hajar menuturkan, Ahlu Suffah adalah bertempat dibelakang masjid Nabawi (agak tinggi), yang menjadi tempat khusus bagi para pendatang yang tidak memiliki tempat tinggal dan keluarga[1]. Ahlu Suffah ini sekarang kita kenal dengan arek pondok (santri) datang dari berbagai tempat guna menuntut ilmu dan memperdalam ilmu agama untuk diajarkan kepada kaumnya (masyarkatnya).

 

Di antara pada sahabat Nabi Saw, terdapat kelompok yang terdiri dari orang-orang muhajirin dan ansor yang pemberani di medang perang, mereka membela Nabi sampai akhir hayatnya hingga mati di medan perang; seperti Suhada’ Badar, Suhda’ Uhud, serta suhada; lainya. Sebagian lagi kelompok intelektual, seperti Abu Hurairah, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Ubadah bin Somit, Ibnu Abbas. Sebagian lagi para pemuka (pemimpin) seperti Abu Bakar al-Siddiq, Umar ibn al-Khattab, Usman Ibn Affan, Ali Ibn Abi Tholib. Sebagaian lagi para pedangang (bisnisman), seperti Abd.Rahman Ibn Auf, Anas Ibn Malik, Usman Ibn Affan, Abu Sofyan. Dan, masih banyak lagi keahlian para tetangga Nabi yang sekaligus sahabat setia dunia dan akhirat.

Para intelektual Islam di masa Nabi ialah mencatat dan menghafal semua aktifitas  junjunganya, mulai urusan paling kecil sampai urusan paling besar. Tidak satupun urusan Nabi, mulai bagun tidaur sampai terdidur kembali, kecuali dicatat dan dihafal oleh mereka. Sifat para sahabat disebuat oleh para ahli hadis dengan ‘’al-Udul” yang artinya adil. Dengan demikian, semua yang pernah disampaikan sahabat Nabi, baik mendengar, melihat, atau keikutsertaan dalam sebuah peristiwa merupakan catatan otentik yang bisa dipertanggung jawabkan secara hukum dan ilmu pengetahun.

 

Sahabat Nabi tidak pernah menyembunyikan apa yang pernah didengar, atau disaksikan ketika junjunnganya masih sugeng (hidup), karena takut dengan ancaman Neraka Jahannam. Mereka takut juga dikatakan mengada-ngada (bid’ah), oleh karena itu mereka menyampaikan apa adanya, tidak dikurangi dan juga tidak ditambahi. Mereka (sahabat) Nabi tidak berani mengatakan apa yang tidak pernah Nabi katakan, menyampaikan apa yang belum pernah disampaikan, karena Nabi pernah berpesan kepada mereka agar tidak berbohong atas nama dirinya. Di dalam sebuah pesan, Nabi menuturka’:

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار (رواه مسلم)

Artinya” diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia mengatakan: Rosulullah s.a.w menuturkan” barang siapa berbohong atas nama diriku, maka silahkan memboking tempat dudu di Neraka”(H.R Muslim[2]).

Hadis ini mutawatir, semua ualama’ hadis sepakat bahwa hadis ini muatawatir. Oleh karena itu kita bisa menemukan redaksi hadis ini para kitab-kitab hadis, dengan redasksi yang berbeda-beda, tetapi maksudnya sama.

Pada musim haji, dimana semua jam’ah Indonesia telah menuju kota Nabi Saw. Sudah menjadi sebuah keharusan bagi mereka, agar supaya napak tilas kehidupan para tetangga Nabi Saw, yang benar-benar setia kepada junungannya. Mereka senantiasa mengatakan’’ Wahai nabi, kami mendengar dan kami juga taat kepada engkau’’. Jika ada, waktu ber-ziarahlah ketempat pertempuran ‘’Perang Badar’’, Jabak Uhud, dan juga tempat-tempat bersejarah bagi Nabi dan para sahabat setianya.

 


[1] . Ibid 45

[2] .al-Kusairai, Abu al-Hasan, a-Hajjaj, Muslim 1/10, Shohih Muslim-Dar Ihya’ al-Turost al-Arabi-Beirut,

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s