Ketika al-Qur’an Bertutur Tengtang Seorang Ibu

Di jaman jahiliyah kuno wanita tidak ada artinya bagi kalum lelaki, kecuali hanyalah pemuasa hasrat dan birahi kaum lekaki. Dan, kaum wanita tidak berdaya, keculi menikmatinya sebagai pramuria bagi kaum lelaki. Apa yang mesti dilakukan, kecuali pasrah bongko’an (pasrah jiwa raga) kepada lelaki. Ketika islam datang dengan al-Qur’an sebagai wahyu, dan Nabi Saw sebagai teladan sejati.Al-Quran menempatkan wanita pada kedudukan yang sangat tinggi dan mulia. Lihat saja, secara khusus Nabi memberikan rekomendasi surga, terhadap kaum ibu. Nabi Saw. menuturkan:’’ Surga itu ada ditelapak kaki ibu “.[1] Dalam keterangan lain, Nabi menuturkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – “?رِضَى اللَّهِ فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ?”( أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ)

Diriwayatkan dari Ibn Umar r.a, ia berkata, Nabi Saw. menuturkan:’’ Ridha Allah terletak pada rida kedua orangtua, dan murka Allah juga terletak pada kedua orang tua (H.R Tirmidzi).

Ini merupakan eksistensi Islam terhadap perlindungan wanita di dalam menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma-naoma sebagai seorang muslimah sejati. Pada saat ini, di mana kemajuan ilmu, pendidikan, serta tehnologi semakin tinggi. Tetapi, masih banyak wanita diperlakukan semena-mena, bahkan tidak memperoleh hak-haknya. Bahkan, tidak sedikit kaum wanita dengan mengatasnamakan emansipasi wanita, kebebasan gender, ternyata justru menjadikan wanita semakin jauh dari nilai-nilai moral dan agama. Sekarang, hampir tidak ada perbedaan yang signifikan dengan zaman jahiliah. Dengan kata lain, jaman sekarang bisa disebut dengan jahiliyah era modern.

Tuhan menentukan rekomendasi surga yang diperuntukkan bagi kaum wanita (Ibu). Namun rekomendasi ini akan berfungsi dengan baik, jika seorang ibu benar-benar (taat), setia di dalam menajalankan segala perintah dan larangan-Nya. Serta setia terhadap suami saat menjadi mitra di dalam membangun bahtera rumah tangga dibawah naugan Al-Quran dan tuntunan Nabi Muhammad Saw. Namun, manakala seorang wanita (ibu) tidak bisa menjadi waita sholihah, dan justru menjadi ibu durhaka. Bukan surga yang akan diperoleh, justru neraka akan menantinya.

Al-Quran bertutur banyak tentang posisi wanita sebagai seorang Ibu. Allah Swt. mengambarkan tentang tingginya posisi itu, seolah-olah di sejajarkan dengan posisi-Nya. “Sembahlah Allah SWT. dengan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, dengan orangtua hendaknya berbuat baik (ihsana)[2]. begitu juga surat al-An’am memberitakan kepada kita agar berbuat baik’’ihsana[3].Berbuat baik terhadap orangtua yaitu bersikap lembut tutur, tindakan, sikap, serta berusaha tidak menyakitinya walapaun dengan sindiran atau rasan-rasan. Allah juga memperingatkan, agar supaya manusia itu inggat akan jerih payah, usaha dan pengorbanan orangtua selama mendidiknya, sejak kecil hingga dewasa yang penuh dengan liku-liku, suka dan duka.

Jangan sekali-kali mengucapkan kata ’’Ah’ Uh, atau membantah apalagi membentak, atau menghardik kepada orangtua. Yang demikian itu bisa membuat langit gonjang-ganjing, kerena Allah tidak akan rela dan ridha. Tidak sedikit anak yang kesulitan di dalam urusan duniawi, pekerjaan, karir, ternyata mereka termasuk orang-orang yang kurang perduli dengan kedua orangtuanya. Bahkan, kadang tidak memperhatikan. Bagaimana tuhan mau memperhatikan dirinya, sementara seorang anak tidak memperhatikan kedua orangtuanya.

Untuk mengingat dan mengenang jasa orangtua, Allah Swt. dalam sebuah firman-Nya memberikan pelajaran berharga berupa doa. Doa ini sebagai bentuk balasan moral terhadap kebaikan orangtua’’ Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan juga dosa-dosa kedua orangtuaku, dan sayangilah keduanya, sebagaimana kasih sayang mereka kepada kami ketika aku masih kecil’’[4]. Tuhan ingin mengatakan kepada manusia, bahwa keberadaan kita, tidak lepas dari kebaraan orangtua. Jadi, seolah-olah orangtua itu wakil tuhan yang hidup ditenggah-tenggah kita.

Di sisi lain, jika kelak orangtua telah tiada, atau sudah udzur dimakan usia, tidak cukup hanya mengirimi mereka dengan do’a. Jika sang anak telah cukup secara financial, hendaknya juga meng-hajikanya (badal haji), sebagai tanda bukti atas jerih payahnya selama hidupnya. Di dalam sebuah hadis Nabi Saw.:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ الْفَضْلِ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِى شَيْخٌ كَبِيرٌ عَلَيْهِ فَرِيضَةُ اللَّهِ فِى الْحَجِّ وَهُوَ لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِىَ عَلَى ظَهْرِ بَعِيرِهِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-  فَحُجِّى عَنْهُ (رواه مسلم)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, bahwasannya seorang wanita dari bani Khas’am bertanya. Ya Rasulullah Saw, sesungguhnya ayahandaku sudah tua renta, ia mempunyai kewajiban menuanaikan iabdah haji, tetapi ia tidak mampu mengadakan sebuah perjalanan diatas kendaraan. Nabi Saw menjawab:’’ engkau mesti melakukan haji untuknya (H.R muslim).[5]

Tidak cukup dengan meng-hajikan orangtua, masih ada lagi kewajiban anak atas orangtunya, seperti melestarikan silaturahmi dengan kerabat-kerabat, teman-teman orangtuanya.[6] Tidak diperkanankan memutus tali silaturahmi dengan kerabat, teman, serta sahabat ketiga orang tua telah meninggal dunia.

Agar supaya anak benar-benar merasakan, betapa besar pengorbanan orangtua (Ibu), Al-Quran juga menuturkan tentang keadaan seorang ibu ketika sedang hamil. Pesan itu disampaikan dalam bentuk tausiah (petuah-petuah) seorang ayah kepada putranya serta dialog (khiwâr) antara anak dan orangtua. Petuah itu begitu tinggi dan bersifat universal, untuk semua umat Islam penghuni semesta ini.

Untuk melengkapi pitutur Al-Quran seputar wanita, khususnya posisi seorang Ibu. Banyak keterangan hadis Nabi Saw., cerita para sahabat Nabi serta keterangan ulama’ tentang tingginya makom (posisi) seorang Ibu dihadapan Allah Swt. Orang Jawa kebanyakan percaya bahwa durhaka (jahat), berani kepada kedua orang tua itu malati (menjadi penyebab celaka). Konon, durhaka kepada orang tua, balasanya begitu cepat, tidak harus menunggu di akhirat. Ini sebuah isarah betapi mulyanya kedudukan orangtua disisi-Nya.

Nabi Saw. membandingkan antara shalat dan berbuat baik kepada orang tua (birrul walidain). Seorang sahabat pernah bertanya;’’ amal apa yang paling utama menurut engkau wahai Nabi? Beliau Saw. menjawab:’’ shalat tepat pada waktunya. Lantas apa, tanya sahabat?’’, Nabi menjawab:’’ berbuat baik kepada kedua orangtua” (birul walidain). Sahabat itu bertanya lagi:’’ lantas apa?, Nabi menjawab lagi:’’ Jihad di jalan Allah Saw. (Muttafaqun Alaih)[7] Imam al-Qurtubi menuturkan, bahwa posisi birrul walidain itu menempati level kedua setelah shalat wajib, baru kemudian jihad.[8]

Jadi, ini merupakan bukti nyata, bahwa jihad itu mesti meminta ada rekomendasi dari orangtua, khususnya (ridha) ibunda. Tidak etis kiranya, berjuang di jalan Allah SWT. tanpa mengantongi ijin kedua orangtua, sementara sang Ibu masih sehat nan segar bugar. Sebuah keberhasilan tidak serta merta bisa diraih begitu saja, tanpa disertai doa serta restu kedua orangtua.

Dalam sebuah kisah panjang, ada tiga orang lelaki terperangkap di dalam sebuah goa. Mereka tidak bisa keluar, karena pintu gua itu tertutup rapat dengan sebongkah batu besar. Setelah sekian lama, mereka ahirnya beruding untuk mencari solusi, bagaimana cara keluar dari dalam goa itu. Salah satu dari tiga laki-laki itu berdoa (taswassul) dengan amal perbuatan baiknya, yaitu birrul walidain. Selanjutnya ia berdoa’’ Ya Allah kalau memang apa yang aku lakukan terhadap kedua orangtuaku, semata-mata karena engkau, maka bukalah pintu goa itu’’.[9] dengan harapan bisa keluar.

Ternyata, tawassul dengan amal birrul walidain itu, mampu membuka sebongkah batu besar yang menutupi pintu goa. Selanjutnya, kedua laki-laki berikutnya berdoa (tawassul) dengan amalnya masing-masing, sehingga pintu gua terbuka. Ketiganya bisa keluar dengan lega, atas kekuasaan Allah Swt. yang tiada terbatas oleh ruang dan waktu. Wallau a’lam

 


[1] . Al-Qodo’I, 19867. Musnad al-Syihab, 1/102- Muassasah al-Risalah-Beirut.

 

[2] QS A-Nisâ` 36.

[3] QS Al-An’âm 151.

[4] . Q.S al-Isra’ 24

[5] . H.R Muslim.

[6] . Al-Zuhaili, Wahbah, Dr. Prof, 2003.  Al-Tafsir al-Minir,1/231- Darul Fikr-Beirut.

[7]. al-Nawawi, Riyadussolihin,

[8] . Lihat juga, Tafsir Munir (Wahbah al-Juhaili)

[9] .H.R Muslim, no 7125

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Wanita. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ketika al-Qur’an Bertutur Tengtang Seorang Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s