Dokter: Antara Sosial dan Profesi

Di Era modern ini, seringkali masyarakat menilai bahwa profesi dokter hanyalah sebagai status social dengan tujuan mencari keuntungan sebesar-besarnya dibalik penderitaan orang lain. Di dalam sebuah media (Jawapos:16/11) telah terjadi petaka menimpa seorang dokte. Seorang pasien memukul kepala seorang dokter dengan batu hingga berdarah-darah. Setelah sang pelaku ditangkap. Kemudian menceritakan kepada polisi, kenapa sampai tega ngeprok Sang Dokter.

Ternyata, alasananya sangat sederhana. Ketika pasien berobat, ternyata tarif dokternya Rp 90.000, sedangkan sang pasien hanya memiliki uang Rp 55.000. Ketika hendak membayar dengan Rp 55.000, sang Dokter menolak, karena tarifnya Rp.90.000. Selanjutnya, keduanya berselisih, hingga sang pasien merasa pusing karena ngak punya uang. Ahirnya, sang pasien bergegas keluar dengan kondisi marah. Ternyata, dia tidak pulang, justru mengambil batu. Seketika itu, Sang Pasien yang sedang pusing masuk lagi diruangan tempat praktek, tiba-tiba pasien itu langsung ngeprok kepala sang dokter dengan batu….Praaakkk…

Sang dokte-pun meringis kesakitan, menurut informasi sementara, diiduga karena biaya  pengobatannya  terlalu mahal, pasien yang diketahui bernama Abdullah (48), warga Desa Sumberpinang, Kecamatan Mlandingan, nekat memukuli seorang dokter bernama Sukardiyono (50), warga Desa/Kecamatan Besuki.  Akibat aksi nekatnya tersebut tersangka langsung ditangkap oleh tim buru sergap (Buser) Polres Situbondo, Selasa (16/11). Ini memang sangat ironis, dan terjadi di Negeri Indonesia yang jumlah Dokternya terus bertambah seiring dengan bertambahnya Fakultas Kedokteran di seluruh Indonesia.

Dalam sebuah pembicaraan, teman-teman bercerita tengtang seorang dokter mulia. Sebut saja dokter Abbas. Ketika melihat orang sakit datang ketempat prakteknya, maka beliau segera memeriksanya. Setelah diperiksa, beliau menulis resep obat, sekaligus membuka dompetnya. Tidak lama kemudian, dokter Abbas mengatakan:’’ Ini uang untuk membeli obat’’. Betapa brsyukurnya para pasien ketika berobat kepada dokter Abbas. Inilah yang dimaksud oleh seorang Syair :’’ Sungguh indah jika ilmu dan harta menyatu menjadi satu….. Seorang dokter yang berilmu, berharta pula. Jadi, dia bisa mengamalkan ilmunya, sekaligus memberikan sebagian dari rejekinya.

Sekarang, dimana dokter-dokter Asing telah masuk dengan mudah di Indonesia. Sementara, dokter-dokter Indonesia kalah bersaing dengan dokter-dokter asing yang kemampuannya kadang lebih baik. Walaupun tidak dipungkiri, masih banyak dokter-dokter Indonesia yang bagus. Tetapi, lagi-lagi ahir-ahir ini, kualitas dokter Indonesia menurun, sementara kuantitasnya semakin bertambah. Wajar, jika banyak dokter nyambi bisnis, karena memang penghasilan dokter tidak cukup besar. Apalagi, jumlah yang praktek lumayan banyak, sehingga persaingan semakin berat.

Jadi, jika mengandalkan dari profesi social seorang dokter, untuk memiliki mobil mewah, rumah mewah, perabotan serba wah….sangat sulit. Banyak jalan untuk menjadi kaya. Bisa tetap di dalam bidangnya, tetapi harus tega membuat tariff tinggi dengan pasien-pasien (pasar) tertentu. Atau keluar dari profesi dokter, seperti: bisnis obat-obatan (parmasi), peralatan-peralatan medis, atau menjual buku-buku medis. Atau, meletakkan profesi dokternya, dengan membuka perusaan yang terkait dengan medis, seperti; Rumah Sakit, dll.

Tetapi, yang jelas tidak ada yang kaya dengan hanya mengandalkan gaji dari bekerja pada orang atau institusi lain atau praktek pribadi. Dan tidak ada yang menjadi kaya dalam sekejap. Harus ada sesuatu yang istimewa, entah itu jaringan Rumah Sakit terbesar, industri farmasi, hak kekayaan intelektual, menemukan obat atau suatu teknik. Oleh karena itu, tidak salah jika ada sebuah pernyataan pameo’’Orang miskin di Larang Sakit….!Sebab, antara rumah sakit, obat, biaya pendidikan, serta rumah sakit sudah menjadi sebuah bisnis yang benar-benar menghasilkan uang yang cukup lumayan.

Tahun 2004, pemerintah mengirim tenaga medis yang meliputi dokter dan perawat. Sebanyak, 100 orang dokter dikirim ke Arab Saudi, menjadi Tenaga Kerja Indonesia Profesional (TKIP). Ketika, berita Sumiati mencuat karena siksaan Majikanya. Ternyata, yang merawat adalah dokter asal Indonesia. Sudah saatnya, para dokter yang ingin meningkatkan taraf ekonominya, bekerja di Timur Tenggah. Sebab, di sana mereka akan dibayar mahal oleh rumah sakit tempat dokter bekerja. Sedangkan di Indonesia, mayoritas masyarakat miskin yang tidak mungkin mampu membayar mahal kepada dokter-dokter tersebut. Dari pada kaya di atas penderitaan dan luka orang lain, lebih bekerja dengan professional dengan gaji yang lumayan. Atau menjadi dokter yang social, karena semata-mata memberikan pelayanan medis kepada sesama hamba tuhan, dengan imbalan yang secukupnya. Tetapi, ini sangat sulit, butuh mental, niat, serta tekad yang bulat.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s