MASA DEPAN DOKTER DALAM HUKUM PASAR

 

Prof. Dr. Ahmad Tafsir di dalam sebuah Studium General pernah ditanya oleh seorang calon mahasiswa S2 seputar nasib para lulusan sarjana-sarjana agama di Indoensia. Sang penanya merasa skeptis dengan masa depan jurusan yang ditekuni, yaitu Usuluddin (dasar-dasar agama).  Ma’lumlah saat ini, lulusan jurusan agama sulit untuk mencari pekerjaan, jika dibandingkan dengan lulusan lainya, seperti; Kedokteran, Ekonomi, Tehnologi dan lain sebagainya. Wajar, jika jurusan tehnologi informatika dan kedokteran semakin banyak peminatnya, bahkan sampai kebanjiran peminatnya.

Dengan enteng, sang Prof menjawab:’’sekarang semua lulusan sarjana dengan berbagai jurusan mengalami nasib yang sama. Lantas, beliau mencontohkan kalau di Bandung ada dokter praktek bersama. Dan, ternyata di antara lulusan dokter yang ikut prakterk, ternyata ada yang bernasib tragis. Salah satu dari dokter penganti, ternyata  tidak bisa memperoleh pekerjaan yang layak sebagai seorang dokter. Lebih lanjut lagi. salah satu dokter pengganti itu, nebeng ke dokter lainnya, dengan tujuan agar supaya dompetnya tidak kosong. Ini sungguh memprihatinkan. Maraknya, penggiriman dokter dan perawat ke timur tenggah, juga karena persaingan di negeri ini semakin ketat, ditambah dengan banyaknya dokter asing membuka praktek di Indonesia.

Di era globalisasi ini, ada 70 fakultas kedokteran di seluruh Indonesia. Sebagian besar dari mereka berada di kota besar, seperti; Jakarta, Bandung, Jokjakarta, Semarang, Malang, Surabaya. Tidak sedikit dari mahasiswa yang belajar di kampus-kampus Negeri, berasal dari negeri jiran (Malaysia), dan juga dari India, Pakistan, ada juga dari Libiya. Rupaya, pendidikan pendidikan di Indonesia mulai diminati negar-negar tetangga, tak terkecuali pendidikan agama.

Lulusan dokter-dokter muda semakin banyak. Tetapi, sebagian dari mereka juga ogah berjuang di wilayah-wilayah pelosok negeri, karena memang tidak menguntungkan secara financial. Al-Hasil, sebagian dokter umum dan spesialis memadati kota-kota besar. Belum lagi, jumlah dokter asing yang professional juga ikut serta memadati belantika pasar medis di negeri ini. Mestinya, sekarang mulai dipikirkan pemerataan dokter-dokter tersebut kepelosok-pelosok, agar bermanfaat ilmunya, agar tidak menumpuk dikota saja.

Banyaknya dokter, juga karena banyaknya permintaan masyarakat yang semakin meningkat. Sebagian masyarakat ber-asumsi bahwa pekerjaan dokter itu mulia ditenggah-tenggah masyarakat, dan bisa mempertebal kantong. Walaupun biaya pendidikan dokter cukup mahal, dan sulit terjangkau bagi kalangan menenggah ke bawah. Tetapi, tidak menyurutkan niat mereka. Bahkan, ada yang rela berhutang, demi putra-putrinya agar bisa masuk FK. Apalagi, orang-orang kaya yang cukup banyak uang, sehingga bisa menyekolahkan anaknya tanpa bersusah payah, walaupun harus merogoh kocek dalam-dalam tidak masalah.

Dalam dunia pasar, semakin banyak barang, maka semakin murah harganya. Semakin banyak dokter, semakin murah jasa mereka. Sebagai seorang pasien, bisa memilih dokter yang hebat, bagus pelayanan nan menyenangkan, tetapi harganya terjangkau. Jadi, dokter sendiri juga harus pandai-pandai memasarkan dirinya. Tentunya, harus tetap professional, bukan asal dapat uang

Tidak mungkin semua lulusan kedokteran menjadi pegawai negeri, atau bekerja di rumah sakit baik swasta maupun negeri. Sementara, mereka juga kesulitan menekuni bidang lainnya, seperti dagang. Jadi, 10 tahun yang akan datang, profesi dokter tidak akan menjanjikan secara financial, seperti sekarang ini. Sekarang-pun, sudah mulai dirasakan oleh beberapa lulusan dokter muda. Istilah yang agar agak ekstrim ialah dunia medis di jaman edan. Semoga, para dokter tidak ikut edan, tetap putih, bersih seperti filsafat bajunya. Sebab, jika ada titik hitam, segera terlihat. Namun, jika baju dokter sudah berlumuran darah, jika ada titik putih, maka akan terlihat jelas. Wallau a’lam.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

3 Balasan ke MASA DEPAN DOKTER DALAM HUKUM PASAR

  1. edy berkata:

    senang dgn tulisan ini, memacu utk lbh profesional, bersaing dgn yan medis di luar negeri, sebenarnya sebanyak apapun dokter masih kurang, namun mind set masy harus di ubah ke berobat dalam negeri lebih baik dr i manca negara….. Medan termasuk daerah di indonesia yg berduit berobatnya ke penang, naha anak bangsa yg dokter segera berubah cara pelayanan ke masy. Mulailah ke pengabdian pelayanan terbaik…. Kalau uang nanti datang sendiri dgn modal utama kepercayaan dari masy…..jangan tanyakan penyakit kepasien tapi jawablah dngn indikasi yg diderita pasien, jangan jawab pertanyaan pasien dgn hanya dgn resep tapi jawablah dgn bantuan pengobatan yg murah dan menyembuhkan, puaslah dgn keberhasilan menyembuhkan pasien,,, tapi tidak bangga karena diamnya dokter bicara hanya dgn resep, ber empati dgn pasien, bicara yg mengobati rasa sakit, jadikan setiap kata dokter kalimat yg menyembuhkan,,,,, tidak,,,, dokter belum banyak cuma masy belum percaya, mereka tunggang langgang ke LN ketika hanya pusing sedikit aja,,,,, dokter kapan dokter berobat ke singapore, ke penang, ke cina, atau wahai dokter yg sdh terlanjur ke laur negeri sekolah ,medis kembalilah beri pengajaran yag baik kepada dokter indonesia yg sdh terlanjur exlusif dan enggan bicara yg sopan kpd pasien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s