Penggaruh Puasa Terhadap Kesuburan Pria dan Wanita

Seorang wanita yang bernama ‘’Khunnah’’, adalah wanita yang sangat mulia. Dia adalah istrinya Imran, sebagaimana disebut di dalam al-Qur’an satu surat ’’Ali Imran’’.  Wanita yang diperistri oleh Imran itu sudah lama mendambakan seorang putra. Sebagaimana yang disampaikan oleh para wanita, bahwa rumah itu terasa hampa, jika tidak ada tangisan bayi di malam hari. Oleha karena itu, pasangan suami istri itu tak henti-henti memohon (do’a) siang dan malam kepada tuhan, agar supaya tuhan mengkaruniai seorang putra. Sudah puluhan tahun, Imran dan Istrinya bermunajat, hingga keduanya mulai putus asa.

Agar supaya keinginan menimbang bayi segera terlaksana. Keduanya bernazar kepada-Nya, seraya menangis kepada Allah Swt. Nadzar itu diceritakan oleh Allah di dalam al-Qur’an. Q.S Ali Imran (3:35) meneritakan:’’ iingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Tidak lama kemudian, tuhan-pun menjawab nadzar itu. Sang istri yang lama menunggu kehamilan, sekarang sudah telat menstruasi, ini menjadi sebuah bertanda bahwa istrinya sedang hamil muda. Betapa senangnya hati Imran dan istrinya. Keduanya menjaga kehamilan itu dengan sebaik-baiknya, tidak lupa rasa syukur atas kehamilan itu. Keduanya berharap kepada Allah Swt, semoga bayi yang akan terlahir berjenis kelamin laki-laki. Sebab, memiliki anak laki-laki merupakan sebuah kebanggan. Imran, memiliki harapan besar, agar supaya kelak bayi laki-laki yang akan terlahir menjadi seorang ahli ibadah.

Betapa kagetnya, ternyata setelah bayi terlahir dengan selamat berjenis kelamin perempuan. Padahal,  harapan keduanya yaitu memiliki anak laki-laki yang menhadi ahli ibadah, sekaligus menjadi penerus ayahandanya. Karena Imran orang yang sholih, maka dia dan istrinya menerima ketentuan-Nya. Sebab, Imran Yakin, bahwa anak yang terlahir itu pasti akan menjadi hamba Allah yang setia. Bayi itu diberinya nama ‘’Maryam’’. Menurut penuturan Syeh Ali Al-Shobuni, di dalam kitab ‘’Tafisr al-Wadih al-Muyassar’’’ Maryam’’ itu artinya wanita ahli ibadah.  Bayi kecil yang bernama Maryam itu sangat lucu, mungil, cantik, menarik, dan mengemaskan setiap orang yang melihatnya. Hampir setiap orang melihatnya, tertarik dan ingin mencium dan mengendongnya.

Imran sosok lelaki yang sholih, yang bertanggung jawab. Putrinya dididik dengan sebaik-baiknya. Sebab, Imran Yakin, kelak putrinya akan menjadi sosok yang bermanfaat bagi umatnya. Akan tetapi, tidak lama kemudian, Imran Wafat, sehingga Zakaria sebagai saudara menjadi pengantinya. Dengan senang hati, Zakaria mendidik Maryam dengan pendidikan agama. Sebab, Zakaria sendiri juga sudah bertahun-tahun berdo’a, tetapi belum juga dikaruniai seorang putra. Sementara, usianya sudah mencapai 120 tahun, sedangkan istrinya sudah 100 tahun.

Kendati demikian, Zakaria tetap berdo’a kepada-Nya, agar kelak memiliki seorang keturunan. Di sisi lainnya, Zakaria juga meneruskan Nadzarnya Imran yang ingin menjadikan Maryam sebagai ‘’baitul maqdis’’ akan terus dilaksanakan. Q.S Ali Imran (3:37) menceritakan:’’Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya.

Setelah Maryam beranjak dewasa, ternyata benar-benar menjadi wanita yang ahli ibadah. Sebab, hampir setiap hari Maryam di dalam masjid. Maryam senantiasa menghibahkan dirinya untuk kepentingan ‘’baitul maqdis’’. Setiap hari, Nabi Zakaria mendapati ke-anehan-keanehan yang di dalami oleh Maryam. Sampai suatu ketika, Nabi Zakaria kaget ketika melihat makanan-makanan di sisi Maryam. Padahal, tidak ada seorang-pun yang mengiriminya. Sebagai seorang paman, Nabi Zakaria bertanya kepada Maryam:’’ Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab (Q.S Ali Imran (3:37).

Mendengar Jawaban itu, Zakaria benar-benar tercengang. Nabi Zakaria semakin yakin bahwa Maryam bukan wanita biasa. Antara Maryam dengan tuhan sudah tidak ada lagi penghalang lagi, sebagaimana firman Allah (Q.S Ali Imran (3:5) yang artinya:’’   Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Begitulah ungkpana yang pantas bagi Maryam sebagai seorang hamba yang setia mengabdikan dirinya kepada Allah Swt.

Ini merupakan kesempatan bagi Nabi Zakaria, untuk ber-tawassul dengan ke-sholihan keponakannya (Maryam). Setiap memasuki baitul maqdis, Nabi Zakaria semakin semanggat di dalam memohon kepada-Nya agar supaya dikarunia seorang putra. Q.S Ali Imran (3:38-39) artinya:’’ 38.  Di sanalah Zakariya berdo’a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah Aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.

Tawassul Nabi Zakaria berhasil. Saat itu jika, datang Malaikat Jibril kepada Maryam, sedangkan Zakaria sedang khusu’ berdo’a. Mendengar kekhusukan do’a Nabi Zakaria, kemudian Malaikat Jibril menjawab. Sebagaimana keterangan Q.S Ali Imran (3:39) yang artinya:’’ Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.

Dialog Zakarian dan Jibril.

Mendengar jawaban Malaikat Jibril, Nabi Zakariya menjawab, sekaligus mengeluhkan keadaan dirinya sendiri dan istrinya yang usianya sudah renta, menopause, yang tidak mungkin lagi memiliki anak (Aqiim/ Madul). Dan, Nabi Zakaria menyadari, bahwa dirinya juga sudah tua renta, mana mungkin bisa memiliki anak.  Dialog antara Zakrian dan malaikat dijelaskan di dalam al-Qur’an (Q.S Ali Imran (3:40-41) Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana Aku bisa mendapat anak sedang Aku Telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?”. Allah Swt menjawab: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”. Berkata Zakariya: ‘’berilah Aku suatu tanda (bahwa isteriku Telah mengandung)”. Allah berfirman: ‘’Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari“.

Isarah Ilmiyah Q.S Ali Imran (3:41)

Prof. Dr. Qurais Syihab mengatakan bahwa al-Qur’an itu bukan karya Ilmiyah, tetapi mu’jizat. Akan tetapi, banyak sekali isarah-isarah ilmiyah yang tersimpan di dalam al-Qur’an, mulai urusan medis, tehnologi informasi, pertanian, mesin, dan masih banyak lagi. Untuk mengungkap rahasia ilmiyah al-Qur’an memerlukan kemampuan intelektual dan spiritual yang tinggi sehingga mampu menjabarkan sejara gamblang.

Dalam dialog  Jibril dan Zakria:’’ Berkata Zakariya: ‘’berilah Aku suatu tanda (bahwa isteriku Telah mengandung)”. Allah berfirman: ‘’Tandanya bagimu, kamu tidak boleh berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari (Q.S Ali Imran (3:41).

Di dalam percakapan ini, ada tiga syarat utama, agar supaya istrinya bisa segera hamil, dan ini berlaku bagi semua manusia, bukan hanya untuk Nabi Zakaria dan istrinya.

1-      Puasa Bisu (tidak berbicara) Selama tiga Hari. Dalam literatur hadis, puasa diartikan dengan ‘’menahan diri’’. Q.S Ali Imran (3;41) memberikan pernyataan agar supaya menahan diri tidak berbicara dengan siapapun, kecuali dengan menggunakan isarat (Body Language). Jika, di analogikan, agar supaya seorang laki-laki dan wanita (suami istri) yang lama tidak memiliki keturunan di anjurkan puasa. Dalam artian luas, puasa di sini ialah mengurangi aktifitas pekerjaan. Sebab, aktifitas yang padat, kualitas pertemuan pasangan kurang, maka akan kesulitan bagi laki-laki untuk membuahi istrinya. Begitu juga wanita yang aktifitasnya padat, kadang mentruasinya tidak teratur, stress, depresi, sehingga sulit untuk hamil. Jika ingin membuat sebuah penelitian eksperimen, barangkali ada korelasi antara puasa bicara (aktifitas) dengan kesuburan wanita dank e-matangan sperma. Namun, hal ini diperlukan peneltian lebih lanjut dan kontinyu intuk mencari korelasi puasa dengan kesuburan sperma dan sel telur. Nabi Zakaria, yang usianya 120 tahun, ternyata masih mampu membuahi, walaupun istrinya sudah monopuse. Ini memang mu’jizat, tetapi bukan berarti manusia menerima apa adanya. Sebagai seorang terpelajar yang hidup di era modern, perlu dibuktikan secara ilmiyah tengtang kebenaran firman tersebut.

2- Berdzikir dan Betasbih pagi dan petang. Di dalam sebuah aya Allah Swt berfirman:’’ Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun-, Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? (Q.S Nuh (71:10-13). Berdzikir kepada-Nya, seperti; Istigfar, tahlil, tasbih, tahmid, merupakan sebuah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Semakin banyak berdo’a, maka semakin kuat keimanan dan ketaqwaan, serta ke-tawakalan kepada-Nya. Dalam sebuah literatur, Nabi Zakarian berdo’a selama 40 tahun, baru dikabulkan oleh Allah Swt. Setiap pagi dan sore, siang dan malam, Nabi Zakaria berdo’a:’’Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan Aku hidup seorang diri[ mohon keturunan] dan Engkaulah waris yang paling Baik (Q.S Al-Anbiya’ (21:89) Di dalam redaksi lainnya, Nabi Zakaria berdo’a:’’: “Ya Tuhanku, berilah Aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa (QS. Ali Imran (3:38).

Kisah Nabi Zakaria dan Imran di dalam surat Ali Imran, dan do’a Zakaria di dalam surat Al-Anbiya’. merupakan kisah teladan bagi sepasang suami istri yang telah lama belum dikaruniani seorang keturunan. Berusaha sekuat tenaga, memohon, berdzikir, besitigfar senatiasa menghiasi rumah tangganya. Keduanya saling pengertian, dan tidak pernah putus asa. Keduanya senantiasa berbaik prasangka kepada tuhan. Berkah dari kesabaran, keuletan dalam berdo’a akhirnya tuhan mengabulkan. Ketika bedo’a, Zakaria juga ber-tawassul dengan orang-orang sholih (dalam hal ini Maryam), sehingga do’a itu menjadikan mudah dikabulkan oleh Allah Swt.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s