Ketika Obat Menjadi Industri.

 

Semangat para ilmuan-ilmuan muslim yang sekaligus ulam’’ terdahulu perlu dilestarikan. Ibnu Sina, Ibnu Kholdun, Al-Jabbar merupakan ilmuan-ilmuan hebat. Mereka menulis dan meneliti, tetapi bukan untuk dipatenkan, tetapi untuk diambil manfaatnya oleh generasi berikutnya. Lihat saja, Ibnu Sina yang terkenal dengan (Avecena), telah menulis sebuah karya terbesar dalam dunia medis yang berjudul ‘’Dasar-Dasar Ilmu Kedokteran’’ Yang lebih popuer dikalangan Arab dengan’’ القانون في الطب ‘’. yang terdiri dari tiga jilid.

Buku ini juga bebas dimililik oleh siapa saja. Konon, tulisan asli beliau ada di Prancis (Sorbonne University-Paris), dan telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Kontribusi Ibnu Sina luar biasa. Yang menarik, buku itu tidak dipatenkan, sehingga dapat dimiliki siapapun. Sebab, dalam ajaran agama ibnu sina, ilmu itu harus diamalkan dan tidak boleh disimpan. Menyimpan ilmu (pengetahuan), termasuk dosa. Sebagai seorang dokter, sekaligus ilmuan, dan ulama’, Ibnu Sina tahu, bahwa menyimpan ilmu pengetahuan tengtang medis (kedokteran) sangat membahayakan dirinya kelak di ahirat. Nabi Saw pernah menuturkan:’’ barang siapa menyimpan ilmu (pengetahuan) yang dimilikinya, maka dia akan dilempakarkan kedalam Api Neraka’’( H.R Al-Hakim).

Ilmuan-ilmuan terdahulu memang orientasinya bukan materi, tetapi pengabdian kepada tuhan. Semakin banyak dimanfaatkan orang banyak, semakin banyak pula pahala yang diterimanya. Jadi, mereka bukan profit oriented, tetapi Ahirat Oriented. Mereka sangat professional di dalam bekerja. Ustad, dan dokter sudah banyak yang terjebak ranjau-ranjau materi yang bersifat sementara. Bahkan, ketika telah meninggal dunia, hasil jerih payahnya juga tidak dibawa. Kadang, menjadi rebutan anak dan cucu-cucunya.

Dalam dunia medis, tidak terlepas dari yang namanya ‘’obat’’. Tetapi, sedikit sekali yang mengetahui bahwa obat sendiri itu bukan wewenang dokter. Dokter hanya bisa meng-diagnosa, penyakit dan menentukan jenis obatnya. Sedangkan, obat itu adalah indusrti, sehingga harga obat itu ditentukan oleh pedagang. Walaupun, tidak dipungkiri, banyak sekali dokter bermain obat-obatan, dengan tujuan agar penghasilanya ikut terdongkrak. Dan, dokterpun bermain mata dengan Pedangan Besar Farmasi (PBF). Ketika obat sudah menjadi komoditas dagangan, maka yang menentukan adalah pasar. Sehingga, yang kaya ialah para pedagang yang mengeluti dunia parmasi.

Ada beberapa obat yang berkembang di masyarakat medis (1) Generik (2) Paten.  Ada sebagian dokter lebih menyukai obat paten, karena diyakini benar-benar hebat dan ampun menyembuhkan penyakit. Dan harganya, melangit….sehingga membuat masyarakat (pasien) menjerit. Tetapi, mau apa lagi, jika dokter memberinya obat itu. Pasien seperti mayat, yang pasrah dengan ketentuan dokter. Jika dokternya tersesat, maka sangan pasien semakin jauh tersesat. Oleh karena itu, dokter itu juga harus bijaksana, tidak hanya asal menentukan obat terhadap pasien.

Padahal, obat Generik sendiri kadang tidak kalah ampuhnya dengan obat paten. Tetapi, obat paten ialah sebuah hasil penelitian yang memerlukan waktu, biaya yang cukup besar. Hasil penelitian itu kemudian dibeli oleh sebuah perusahaan obat. Setelah dibeli, maka perusahaan itu berhak menjual dan mengedarkan obat tesebut. Jadi, yang menentukan harga bukan penelitu itu sendiri, tetapi pabrik. Begitulah adanya. Jika, dalam ajaran agama, hasil penelitian itu menjadi amal ibadah dan amal sholih. Tetapi, dalam dunia capitalis, ini adalah cara untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya.

Dalam dunia capitalisme, sebagaimana teori Adam Smith yang mengatakan;’’ berusaha dari sekecil-kecilnya, untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya’’. Ketika lulusan dokter semakin banyak, jumlah rumah sakit juga bertambah, fasilitas semakin canggih, harga obatpun semakin mahal. Di situ, akan terjadi sebuah revolusi kesehatan besar-besaran. Di mana dokter bekerja menjadi karyawan di rumah sakit dengan upah yang telah ditentukan. Maka, yang paling menentukan ialah perusahaan obat, tehnologi, dan rumah sakit sebagai PT yang menentukan segalanya.

Alangkah Arifnya, jika seorang dokter tidak hanya men-diagnosa penyakit pasien, tetapi juga memberikan motifasi hidup, do’a, agar pasien semakin semangat. Dan, jika ada obat yang murah (generic), kenapa harus menggunakan obat paten? Sementara manfaatnya sama. Dan, jangan sampai seorang dokter menjadikan pasien sebagai komoditas. Lebih-lebih, jika mencari kekayaan materi di atas penderitaan. Ini sunggu telah keluar dari nilai-nilai dan ajaran agama.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s