MARI MELESTARIKAN PUASA SUNNAH TASUAH DAN AL-SURO

 

Puasa merupakan salah satu bentuk pengendalian dari diri urusan perut, bawah perut. Jika perut dipenuhi dengan beragama makanan dan minuman, maka bawah perut juga akan semakin ganas. Dan, puasa adalah salah satu cara efektif menjinakkan urusan nafsu birahmi manusia. Oleh karena itu, Allah Swt menjelaskan bahwa puasa itu berarti menahan (al-Imsak). Kemudian para ulama’ bahasa sepakat bahwa definisi puasa (al-Siyam) ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puas, seperti; makan, minum, bercumbu, sejak fajar hingga matahari terbenam.

Hakekat puasa, bukan hanya menahan diri dari makan, minum, dan bercumbu, tetapi mampu me-manag, perut, fikiran, hati, dengan sebaik-baiknya, agar manusia mampu meneladani Nabi Saw di dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Terlepas dari definisi puasa yang dikemukakan oleh para ulama’ fikih, tasawuf. Yang jelas, puasa itu sangat besar manfaatnya bagi manusia, baik secara fisik (medis), maupun ruhani (spiritual dan emosional). Oleh karena itu, Nabi Saw senantiasa memberikan contoh kepada para pengikutnya dengan melaksanakan puasa sunnah, selain puasa wajib (Romadhan). Seperti; Senin dan Kamis, Daud, puasa biid (putih), muharram, sya’ban, rajab, Syawwal, dan masih banyak puasa sunnah lainnya.

Di era modern, dimana manusia semakin jauh dengan ajaran-ajaran sunnah Nabi Saw. Moralitas semakin menurun tajam. Hampir setiap hari manusia di suguhi informasi, seperti demontrasi, kriminalitas, perceraian, perselingkuhan, pertengkaran, saling menghujat, baik di Koran dan telivisi. Informasi ini ternyata memberikan penggaruh signifikan terhadap pola kehidupan masyarakat bawah. Jika melihat berita, seolah-seolah masa depan Indonesia menjadi suram (Madesu). Telivisi, Koran, lebih suka menampilkan informasi yang bersifat profokatif. Ini sangat membahayakan kelansungan masa depam masyarakat Indonesia. Belum lagi, musibah yang menimpa, seperti gempa, banjir, longsor, kebakaran.

Pada bulan Muharram ini, Nabi Saw  mengajak kepada semua pengikutnya untuk melakukan puasa sunnah al-Suro’ yang tepatnya pada besok tanggal (10-Muharram/16 Desember). Di harapkan, puasa itu mampu menjadikan jiwa manusia semakin kuat, sabar, dan tidak gampang terpengaruh dengan informasi-informasi yang menyesatkan atau memprofokasi. Seolah-olah, Nabi ingin menyampaikan kepada umatnya, bahwa bulan Muharram ini moment paling tepat untuk mendidik ruhani, agar tidak menjadi bringas, tetapi senantiasa sabar, menerima ketentuan Allah Swt dengan ridho dan ihlas.

Agar supaya manusia mampu menghadapi realitas dengan ihlas, Nabi Saw menganjak umat untuk menghidupkan bulan Muharram dengan amalan sebagai berikut.

1- Berpuasa dan Sholat Malam. Nabi Saw menyebut bulan ini dengan Sahrullah (Bulan Allah). Nabi Saw menganjurkan melestarikan amal sholih, seperti; puasa, bersedekah. Kebaikan yang dilakukan pada bulan ini, hampir setara dengan puasa Romadhan. Di dalam sebuah hadis, Imam al-Hakim di dalam kitab ‘’al-Mustadrok’’-nya, Nabi Saw menuturkan:

’ Di riwayatkan dari Abu Hurairah r.a, di angkat dari Nabi, beliau Saw pernah ditanya:’’ sholat apakah yang paling utama setelah sholat lima waktu? dan puasa apakah yang paling utama setelah puasa bulan suci Ramadhan? Nabi Saw menjawab:’’ sebaik-baik sholat setelah sholat lima waktu ialah sholat ditenggah malam (tahajud), dan sebaik-baik puasa setelah bulan suci ramadhan ialah bulan muharram’’[1]

Secara umum, anjuran berpuasa dan sholat malam pada bulan Muharram bersifat umum. Berarti, keistimewaan bulan Muharram itu sejak awal bulan hingga ahir bulan. Jika uamat islam mau dan mampu memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya, maka ia termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya, jika tidak bisa memanfaatkan fadilah bulan Muharram dengan sebaik-baiknya, termasuk orang yang merugi. Al-Qur’an Q.S

al-Ashr menjelaskan: Demi masa, sesungguhnya manusia itu tergolong orang sangat merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan saling menasehati pada kebaikan dan kesabaran’’.[2] Sebab, belum tentu manusia itu bisa melewati bulan Muharam berikutnya, karena manusia tidak tahu kapan ajal menjemputnya.

2- Puasa Asura’ dan Sembilan. Asura’ berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘’hari ke-sepuluh’’ bulan Muharram. Para Nabi dan utusan-Nya, senantiasa membiasakan puasa pada tanggal 10-Assura’, seperti Nabi Nuh a.s, Musa a.s,. Nabi Saw pernah menuturkan:’’Hari al-Syura’ yaitu hari dimana para Nabi melakukanya, maka berpuasalah hari itu, dan juga kalian semua.[3] Nabi S.a.w ternyata telah membiasakan puasa Assura’ sejak di Makkah, hanya saja beliau tidak pernah memerintah atau mengajak pengikutnya berpuasa. Begitu juga penduduk Qurais di Makkah sebelum Islam. Ketika Nabi Hijrah Ke Madinah, Nabi Saw mengajak pengikutnya untuk berpuasa.  Sedangkan, ketika ada perintah kewajiban puasa Ramadhan, Nabi tidak lagi melakukan puasa al-Syura’. Beliau mengatakan:’’ barang siapa yang ingin berpuasa, silahkan dan barang siapa yang ingin berhenti, silahkan[4]. Puasa pada hari al-Syura’ pahalanya sama deangan menghapus dosa-dosa setahun yang telah berlalu.[5] Pada hakekatnya, Nabi ber-azam (niat) berpuasa dua hari, yaitu hari kesepuluh (al-Syura’) dan kesembilan (al-Tasua). Akan tetapi, belum sempat melakukan, beliau sudah wafat. Menurut Imam al-Nawawi, Imam al-Syafii, Ahmad, Ishak, disunnahkan berpuasa pada tanggal Sembilan dan sepuluh, sebagaimana keterangan hadis diatas.[6] Pada tanggal sepuluh, berarti sunnah fi’liyah, dan pada tanggal Sembilan termasuk sunnah kauliyah (niat).

Pada bulan Muharram, tepatnya pada tanggal 10 Al-Sysura’ terjadi seribu satu kisah menarik. Kisah dan kejadian-kejadian itu diceritakan dalam literature hadis Nabi Saw. Dan, par ulama’ juga ikut serta menganalisa kerjadian-kejadian tersebut. Seperti diturunkanya Adam dari langit, serta taubatnya (kembalinya) Nabi Adam a.s.[7]Umar bin Abd.Aziz pernah memberikan wejangan kepada masyarakatnya agar senantiasa berdo’a kepada Allah Swt, seperti do’anya Nabi Adam (Q.S al-A’rof, 23), juga do’anya Nabi Nuh, (Q.S Hud, 48), do’a Nabi Musa (Q.S al-Qosos, 16), do’a Dzun al-Nuun (Q.S al-Anbiya’, 87).[8] Betapa sakralnya bulan muharram ini, sehingga bulan ini disebut juga dengan bulan sakral (bulan haram). Menghidupkan bulan ini, merupakan sebuah perbuatan mulia, sekaligus meneladani Nabi Saw.


Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di pesan sahabat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s