ETIKA AL-QUR’AN DALAM DUNIA BERITA

 

Di dalam sebuah penejelasan ilmu balaghoh, terdapat sebuah istilah ’’Khobar’’ yang artinya berita. Makna’’ Berita (al-Khobar) disini ialah sebuah berita atau informasi yang masih belum jelas (ambigu). Sebuah berita beredar di masyarakat, memiliki dua kemungkinan, mungkin benar, dan mungkin juga salah. Dalam ilmu hadis, sebuah berita itu bisa dikatakan benar dan dipercaya, jika yang membawa itu memiliki kekuatan hafalan (dobit), al-Adl (adil).  Jadi, kualitas sebuah berita itu tidak terlepas dari pembawa berita itu sendiri. Ada kalanya sebuah berita yang beredar itu sesuai dengan realitas, atau jutsru sebaliknya. Semuanya itu disebut dengan informasi (berita).

Jika seorang wartawan (media), memiliki sifat-sifat mulia, seperti; Jujur, adil, tidak memihak, amanah. Selanjutnya, media itu memberitakan sebuah insiden (kejadian), maka kualitas berita bisa dikatakan valid (terpercaya). Tetapi, jika sebuah media (wartawan) memberitakan sebuah kejadian atau perkara, tetapi media itu sering bohong, tidak jujur dan memihak, maka kualitas berita (informasi) itu kurang Valid. Bisa jadi, berita itu tidak bisa dijadikan rujukan, walaupun informasinya benar adanya.

Di dalam kaidah al-Qur’an, Allah Swt menginformasikan seputar etika sebuah pemberitaan. Q.S Al-Hujurat (49:6) yang artinya:’’ Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Ayat ini turun kepada Walid Ibn Uqbah. Suatu ketika, Nabi Saw memerintahkan Walid untuk mengambil kewajiban zakatnya kelompok Bani Mustolik. Kebetulan, Walid dan Bani Mustolik pernah terjadi gesekan sebelumnya. Sebelum sampai pada tujuanya. Walid kembali kepada Nabi, dan menginformasikan bahwa Bani Mustolik tidak mau membayat kewajiban zakat mereka (Tafsir al-Hujurat dalam Kitab Zadu al-Masir (49:6).

Terkait dengan duni maya, dimana setiap orang berkicau dalam jejaring social, seperti: Facebook, twiter. Begitujuga media-media lain dalam dunia internet. Ternyata, sangat sulit memilih informasi yang dipercaya. Bahkan, sumbernya juga tidak bisa dilacak. Baru-baru ini, Wikileaks benar-benar menghebohkan dunia. Seolah-olah, Wikileaks benar-benar menguasai rahasia dunia. Berita-berita rahasia diinformasikan dengan begitu mudah.

Jika kemabali pada etika sebuah berita dalam kacamata islam. Berita-berita yang tersebar, bisa dipercaya bisa juga sebagai propaganda. Sebab, yang sumber beritanya juga tidak terpercaya. Dan, al-Qur’an menginformasikan kepada semua manusia, jika ada seseorang datang dengan membwa sebuah informasi, maka klarifikasilah sebelumnya. Sebab, jika ditelan mentah-mentah, seringkali berita itu hanyalah sebuah fitnah belaka yang menjadi sampah. Media terpecaya, akan selalu menjauhi informasi-informasi yang tidak disertai dengan data dan fakta. Dan, media itu benar-benar menjaga nilai-nilai serta kode etik yang telah disepakati bersama.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s