AY AH : Engkau Memang Perkasa

Ebid G.A.D seorang musisi yang mengalunkan sebuah lagi tengtang AYAH. Ketika mendengar lagu itu, terasa berdebar jantungku, karena mengingatkan perjuangan seorang ayah yang tidak pernah kenal lelah di dalam membersarkan putra-putri.  Menarik memang untuk dienungi bersama. Apalagi ketika seorang ayah telah tiada, semakin terasa akan kehadiranya.

Ayah…sekarang engkau sudah tidak perkasa lagi. Kulitmu yang keriput menandakan usiamu semakin senja, manum semangatmu tetap menyala-nyala. Gigi-gigimu juga tidak ada lagi, bukan berarti engkau tidak bisa mengigit lagi. Rambutmu telah memutih, seputih hatimu di dalam memberikan pendidikan dan keteladan kepada anak-anaknya. 85 tahun sudah usiamu kini. Tetapi, engkau tidak pernah berhenti mengaji kitab suci setiap pagi dan petang.

Lisanmu tidak pernah berhenti mengalunkan ayat-ayat suci al-Qur’an setiap waktu. Seusai sholat subuh berjama’ah, surat al-Wakiah, al-Mulk, Yasin selalu menghiasi rumah. Sejak aku masih kecil, hingga sekarang tradisi membaca al-Qur’an tetap berjalan, walaupun ayah sedang tidak enak badan, engkau tidak memperdulikan diri, engkau tetap istikomah mengalunkan ayat-ayat tuhan. Ayah, engkau sosok yang perkasa, walaupun kadang mengeluh sakit karena usia sudah senja.

Ayah…engkau pernah bilang kepada anak-anakmu….!Anak-ku, jangan engkau pernah berniat menjadi pejabat, atau mengajar-ngejar pangkat dan dunia, atau mengejar-ngejar wanita, sedangkan engkau sedang menuntut ilmu. Sebab, jika engkau menjadi lelaki ber-ilmu, secara otomatis semua akan mengikutmu’’. Saya ingat petuah-petuah itu. Walaupun engkau bukan sarjana, tetapi kalimat demi kalimat yang keluar dari lisan itu bagaikan mutiara yang sangat berniala harganya.  Ayah….engkau seperti professor,padahal engkau tidak pernah sekolah, apalagi kuliah.

Ayah….kalimat itu benar-benar melekat erat dan benak dan hatiku. Sejak aku menuntut ilmu di musolla dekat rumah. Engkau tak henti-henti membangunkanku setiap pagi. Engkau tidak ingin putramu mengarungi dunia ini tanpa ilmu agama. Aku-pun merasakan, betapa penting nasehatmu.

Ketika lampu-lampu mulai dinyalakan, kaki melangkah menuju Musollah untuk belajar ilmu agama. Setelah sholat isa’, kamipun meneruskan ngaji tambahan. Ketika kegiatan ngaji rampung, aku juga teruskan tidur di musolla hingga suara ayang jagi berbunyi, yang menandakan subuh sudah tiba. Sejanjutnya, kami sholat berjama’ah dan meneruskan ngaji bersama kyai. Tidak terasa, bertahun-tahun  sudah aku lakukan, hingga aku merampungkan sekolah formal (Aliyah).

Setelah merampungkan Aliyah, aku mencoba mendaftarkan diriku kuliah di Luar Negeri. Ternyata, engkau tidak menghalang-halangiku, motifasi do’amu, seperti Nabi Ibrahim memberikan motifasi doa kepada putranya Ismail. Sungguh suatu anugerah yang tak terhingga, pada tahun 1997, aku menginjakkan kaki di kota suci Makkah dalam rangka menuntut ilmu. Padahal, tidak pernah ada sedikitpun dalam benakku, bisa menjadi mahasiswa Umm al-Qura Makkah. 7 tahun lamanya aku disana, dan berdo’a kepada-Nya agar bisa menghajikan Ayahku dan Ibu yang perkasa.

Selama di Makkah, tidak pernah terfikit sedikitpun dalam hati, untuk menjadi seorang pejabat, atau pingin jadi konglomerat. Ini semua karena kuatnya petuah Ayah yang melekat dalam hati dan fikiranku. Tetapi aku tidak pernah putus asa di dalam belajarku. Aku terus berusaha, dan bersuha, walaupun terkadang terlintas dalam benakku, bahwa aku tidak pernah memiliki cita-cita. Benar memang, karena mutiara itu, sehingga aku terus membersihkan hatiku dari keinginan-keinginan itu.

Ayah…kini aku telah memasuki programa Doctor (S3), tetapi engkau tetap tidak akan mengerti apa itu s3. Sebab, bagimu yang terpenting ialah menutut ilmu itu dimulai sejak lahir hingga tua renta. Engaku luar bisa, tidak pernah bangga dengan anaknya, tetapi engkau tidak pernah berhenti bermunjat kepada tuhan setiap keheningan malam. Rupaya, Ayah tahu bahwa bekal yang terpenting bagi anak bukanlah materi, tetapi motifasi doa (kekuatan spiritual).

Ayah aku sungguh bangga dengan dirimu. Walapun putra, cucu,  sekolah tinggi, tetapi engkau tidak pernah bangga terhadap diriku dan mereka. Dan aku sangat suka itu. Sebab, saat ini banyak orangtua yang bangga dengan putra-putrinya, walaupun mereka tidak pantas dibanggakan.

Ayah…aku ingin sekali mengatarmu bertamu ke kota suci Makkah untuk menunaikan kewajiban tuhan. Ayah, sejak kaki-ku menginjakkan kaki di tanah suci, aku telah berjanji kepada-Nya;’’ Ya Allah….panggilah kedua orangtuaku untuk hadir di Makkah. Setiap kali aku thowaf dan berdo’a, nama Ayah dan Ibu tidak pernah terlupakan. 12 tahun sudah berjalan, do’a terus menerus kupanjatkan kehadirat tuhan. Aku-pun berjanji kepada diriku sendiri, tidak akan pergi ke kota suci Makkah, sebelum mampu meng-hajikan ayah ibu.

Ayah,,,,pintu rumah Allah mulai sedikit terbuka. Engkau sudah terdaftar untuk menunaikan ibadah haji tahun depan.  Ayah….! nanti kita juga berkunjung dan bertamu kepada baginda Nabi Saw dengan mengatakan kepada beliau Saw:’’ Wahai Rosulullah, aku datang bersama kedua orangtuaku dari tempat jauh…, terimalah kami sebagai umatmu, walaupun aku belum pantas menjadi pengikut setiamu wahai Nabi Saw. Wahai Nabi, betapa sejuknya ketika aku membanyangkan dirimu. Seandainya enkau tampakkan wajahmu, betapa tentram jiwaku, dan sejuknya bola mataku. Wahai Nabi….aku hanya ingin diakui menjadi bagian dari pengikutmu..

Ayah….!kini engkau sedang sakit dan berbaring lemas…tapi, aku yakin semangatmu tetap perkasa untuk menyabut panggilan Allah Swt melalui lisan Nabi Ibrahim as. Ayah….seandainya Nabi bisa berbicara, beliau Saw sudah siap menyambutmu. Do’a dan sholawatmu setiap malam, telah sampai ditanah suci Madinah. Ayah….dengarlah panggilan Nabi Ibrahim itu. Semoga, Allah memberikan kekuatan, kesabaran, sehingga bisa melaksanakan kewajiban rukun Iman yang ke-Lima. Sakit hanyalah bagian dari rencana tuhan atas hambanya menuju puncak ketaqwaan. Ya Allah…!Usia itu memang sudah senja, tetapi berilah kesempatan untuk memeluk rumah-MU di bawah Naungan-MU..!

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s