IBU : Hari Ini adalah Milikmu

Keberhasilan seseorang dalam akademis, ekonomi, tidak terlepas dari jari jemari ibu yang ihlas membelai, memeluk, mendekap anak ketika masih balita. Ketika malam tiba, kadang seorang ibu ihlas bangun malam, menyusui, kadang me-mipiskan, walaupun harus bersuah payah. Belum lagi, anak ngompol, berak ditempat tidur. Semua dilakukan dengan ihlas, dan tidak ada sedikitpun dalam benaknya ingin minta dibalas kebaikan itu dikemudian hari. Tidak ada pengorbanan yang lebih besar dari seorang ibu terhadap anaknya.

 

Ketika buah hati berkembang, seorang ibu setiap hari rela menyediakan sarapan. Kadang, Ibu harus lari kesana kemari, untuk menyuapi anaknya, karena kuatir anaknya sakit. Ketika sang anak badannya panas, sang ibu meneteskan air mata. Tanganya mendekap sang anak erat-erat, karena rasa cinta dan sayang, serta was-was terhadap anaknya. Setelah dibawa ekedokte, barulah ibu bernafas lega. Semua itu ibu yang melakukannya tanpa keluh kesaj. Semua dilakukan dengan perasaan bangga, senang, dan ihlas. Berbeda dengan kaum lelaki, yang kadang menangnya sendiri, tega melihat istrinya bersusah payah mendidik anaknya.

Ketika seorang anak memasuki bangku sekolah. Seorang Ibu lebih susah lagi. Memandikan, menyiapkan makan dan minum serta perbekalan untuk sekolah. Belum lagi, jika seorang ayah jauh. Sehingga sang Ibu harus menunggu dan menjemput putrinya setiap saat. Setelah senja tiba, kadang sang suami datang dengan payah. Ibu-pun harus mempersiapkan diri menyambut sang suami, walaupun dirinya sendiri juga sangat lelah, karena seharian bersama dengan buah hatinya. Belum hinga lelahnya, kadang  sang Istri harus mempersiapkan dirinya untuk menjamu istrinya diperaduan malam. Sungguh besar perjuangan seorang wanita.

 

Ibu….hari ini adalah milikmu…tidak cukup dengan ucapan terima kasih atas kebaikanmu. Engkau sekarang perlu memperoleh perhatian yang cukup besar, sebagaimana engkau membesarkan diriku. Jika tuhan memulykanmu dengan meletakkan dirimu sebagai seorang wakil tuhan di muka bumi. Maka, sungguh celaka bagi seorang anak yang hanya mengcapkan terima kasih kepada Ibunya. Jika Nabi Saw memberikan rekomendasi surga ditelapak kakinya, maka sangat tidak pantas bagi seorang anak yang hanya mengharapap sesuatu dari ibunya, tetapi dia tidak pernah berbuat bagi ibunya.

 

Ibu…sudah waktunya engkau menikmati jerih payahmu yang selama ini engkau berikan kepada kami. Kami semua ingin memberikan yang terbaik buat engkau wahai Ibu. Kami ingin mengantarmu menemui tuhan melalui celah-celah rumah Allah. Biar tuhan tahu, bahwa kami ingin dan bernita berbuat baik semata-mata karena Allah Swt. Ya Allah…..!catalah…, janglah engkau pisahkan kami sebelum Ibu hadir di Makkah dengan berdo’a: Ya Allah…..jadikanlah anak-anakku dan keturunakn senantiasa menjalankan perintah-MU dan menjauhi larangan-MU, dan jadikanlah Anak-anaknya orang yang palin setia kepada Nabi Saw dan menjunjung nilai-nilai Ajaran agama’’.

 

 

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Anak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s