Nasib Anak Pasca Perceraian Ibunya

Janda ialah seorang wanita yang telah bercerai dengan suaminya. Dan, perceraian itu bisa karena ditinggal mati suaminya, atau karena berbedaan pandangan dan filsafat hidup. Ada juga perceraian itu karena masing-masing sudah bosan, atau selingkuh, atau sang suami poligami (menikah) lagi, seperti perceraian A A’ Gym dengan Teh Ninih. Yang menarik ialah, pernikahan seorang Janda yang telah dilukai oleh mantan suaminya. Perceraian ini memang tidak sehat, walaupun dibolehkan agama. Nabi Saw menuturkan bahwa perkara yang halal, tetapi paling tidak disukai Allah Swt adalah ‘’talak’’ (cerai).
Seorang wanita seringkali menjadi korban kelaki yang tidak bertanggung jawab, walaupun realitas dilapangan juga banyak wanita yang gemar berselingkuh, yang ahirnya diceraikan sang suami. Yang jelas, sebagian besar wanita yang bercerai mata (talak pati), justru lebih sukses mengantarkan putra-putrinya meraih kesuksesan duniawi (finasial). Bahkan, tidak sedikit yang berhasil dalam urusan akademis dan intelektual.
Sebaliknya, jika seorang lelaki ditinggal mati istrinya. Ternyata, jarang sekali yang kuat menahan nafsu birahinya. Belum genap setahun, ternyata sudah banyak wanita yang mendekatinya. Kadang, dalam waktu tiga bulan, ternyata sudah berani menikah lagi. Mucul guyonan, mata kanan mengeluarkan air mata, sedangkan yang kiri melirik-lirik mencari lagi. Begitulah guyonan para penceramah ketika mengkritik pada duda-dura keren (duren).
Pasca Perceraian
Semua wanita bisa memiliki anak, tetapi tidak semua wanita bisa menjadi ibu. Setiap, wanita yang telah melahirkan, maka ia berhak dipanggil dengan sebutan’’ Ibu’’ Mama dan lain sebagainya. Dari sekian banyak ibu, ternyata tidak semua mampu menjadi pendidik dan mitra untuk anak-anaknya. Buktinya, banyak anak-anak yang tidak memperoleh kasih sayang Ibunya. Apalagi perceraian itu karena emosional. Maka, yang terjadi ialah, anak-anak menjadi korban kebringasan orangtuanya. Memang, secara materi anak-anak tercukupi, tetapi secara ruhani, mereka haus.
Anak seringkali ditinggalkan Ibu atau ayahnya dengan alasan bekerja untuk mencukupi kebutuhan dapur. Padahal pendidikan mental, ruhani, serta spritualnya jauh lebih penting dari pada pendidikan fisiknya. Wajar, jika kenakalan anak tidak terkendali. Dan, suatu saat anak akan membalas apa yang telah dilakukan oleh orangtuanya. Jangan mengharap, kelak anaknya menjadi anak-anak sholih, sebab jiwa mereka kering kerontang. Apalagi, sang Ibu tidak maksimal di dalam memberikan bekal ruhani terhadap anak-anaknya.
Karena anak tidak memiliki figur, maka kelak ia akan menjadi sosok yang sangat menakutkan. Orangtua, khususnya Ibu, tidak akan bisa membentuk kepribadianya. Apalagi, sang Ibu telah menikah dengan pria lain, yang notabena lebih memperhatikan suami barunya dari pada pendidikan ruhaninya. Ini akan menjadi musibah pendidikan anak dikemudian hari. Wajar, jika Nabi menuturkan:’’ anak itu terlahir dalam keadaan suci, kedua orangtuanya yang mampu menjadikan yahudi atau nasrani.’’ Jadi, jika bapak ibunya sudah sibuk dengan pasangan masing-masing, jangan mengharapkan anak menjadi generasi terbaik dikemudian hari. Inilah realitas yang terjadi dilapangan yang tidak ter-elakkan lagi. Wallau a’lam

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s