Pendidikan Anak : Antara Kasih Sayang dan Hukuman.

Orangtua mesti memberikan kasih sayang dengan sepenuh hati. Ciptakan suasana harmonis, ceria, dan penuh dengan canda tawa di dalam rumah tangga. Perlu digaris bawahi, kasih sayang adalah hak setiap anak, jangan sampai usia yang sangat dini, tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup. Sebab, kekurangan perhatian dan kasih sayang, akan berdampak kurang baik terhadap pertumbuhan anak. Orang tua mesti memberikan kasih sayang secara utuh kepada anak-anaknya, jangan sampai anak merasa tidak diperhatikan, sehingga mereka mencari perhatian orang lain.
Di era Modern ini, seringkali orangtua lebih mementingkan pekerjaan dari pada memberikan kasiah sayangnya. Dengan dalih, bahwa dirinya keluar pagi, hingga keluar kota demi mencarikan nafkah anak-anaknya. Padahal, jika mereka tahu, pelakan ibu, senyuman, serta belaian jari jemarinya setiap hari sangat dirindukan oleh seorang anak. Adakalanya, seorang Ibu pergi jauh, mengikuti suami, padahal dia memiliki buah hati. Wahai ibu….,dengarkan keluhan anak-anak-mu. Tidakkah engkau merasakan betapa sejuknya pelukanmu…tetapi, kenapa cinta dan kasih sayangmu kadang menjauhkan dirimu dari buah hatimu.
Walaupun orangtua benar-benar sayang terhadap putra-putrinya, orang tua tidak membiarkan anak-anakanya melakukan pelanggaran-pelanggaran. Sesekali orangtua tegas, dan memberikan hukuman. Misalkan, menjewer anak yang tidak menurut, atau mencubitnya. Tujuanya yaitu agar supaya tidak mengulangi lagi perbuatan yang kurang baik. Nabi s.a.w menganjurkan anak untuk sholat pada usia tujuh tahun, jika tidak maka ada “punishment” berupa pukulan ringan pada anak tersebut.
Hukuman itu mesti dibarengi dengan cinta. Jangan sampai seorang Ibu suka memukul, membentak, tetapi kemudian marah. Setelah dihukum, berikan kasih sayang. Tanyakan kepada anak-anakmu, kenapa melakukan ini dan itu….pertanyaan dari hati itu akan membuat anak terasa damai. Ternyata, orangtuaku benar-benar memperhatikan diriku. Namun, jika orangtua jarang disamping anak-anaknya, maka sang anak tidak bisa mencurahkan isi hatinya, bahkan sang anak-pun kadang menjadi orang yang terasa jauh dari ibundanya sendiri. Ini jangan sampai terjadi. Wallau a’lam

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s