Isarah Ilmiyah Q.S al-Baqarah (2:260)

Q.S al-Mumtahanah: (60:4) yang artinya:’’ sungguh, pada diri Nabi ibrahim terdapat suri tauladan yang indah bagi kalian semuanya.’’ Nabi Ibrahim memiliki karakteristik unik, menarik untuk dikaji bersama semua umat manusia. Bagi para pendidik, peneliti, akademisi, kehidupan Nabi Ibrahim yang diceritakan dalam al-Qur’an dengan beragam redaksi. Seputar pendidikan anak misalnya, Allah Swt menjelaskan betapa pentingya makanan ruhani seorang anak. Dalam do’anya, Nabi Ibrahim memohon kepada-Nya, agar dirinya dan keturunanya senantiasa mejalankan perintah sholat. Ini merupan teladan bagi para orangtua, agar memperhatikan pendidikan ruhani, dengan cara memberikan dorongan do’a setiap saat dan waktu, dimana saja berada.

Ketika Nabi Ibrahim resah dan gelisah atas keyakinan terhadap tuhan. Maka, Nabi Ibrahmi-pun berdoa kepada Allah supaya diperlihatkan kepadanya bagaimana cara menghidupkan orang mati, maka Allah berfirman kepadanya, “Hai Ibrahim apakah engkau belum percaya kepada kekuasaan-Ku?”. Seolah-olah Allah Swt meragukan keyakinan Nabi Ibrahim yang juga kekasih-Nya (Kholilullah). Suatu hal yang tidak mungkin, seorang Nabi (utusan-Nya) ragu dengan kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Denfan rendah hati, sebagai seorang hamba, Nabi Ibrahim menjawab:’’Maha Suci, Tuhanku! Permohonanku ini supaya lebih mendekatkan diriku kepada-Mu, semoga doaku ini dikabulkan.” Allah Swt mengabulkan doa Nabi Ibrahim, bagaimana Allah memperlihatkan dan cara menghidupkan sesuatu yang sudah mati. Hal ini dapat dilihat dalam Surat Al-Baqarah ayat (2: 260).  Kandungan dari ayat ini ialah, mendiskusikan sesuatu kepada tuhan, agar keimanan dan ketaqwaan seorang hamba semakin kokoh nan kuat. Nabi Ibrahim ingin memberikan pelajaran kepada keturunan dan orang-orang yang berpegang teguh pada ajaran islam (hanif), agar semua masalah ditanyakan langsung kepada-Nya.

Sebuah pernyataan tegas dari Allah Swt kepada Nabi Ibrahmi ketika meminta bukti. Dalam sebuah firman yang artinya, Ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Hai Tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau dapat menghidupkan orang mati!” Allah berfirman, “Tiadakah engkau percaya kepadaku?” Sahut Ibrahim, “Ya, aku percaya kepada Tuhanku, tetapi hal ini buat meneguhkan hatiku.” Pertanyaannya ialah, apakah keyakinan seorang Nabi itu kurang teguh? Sehingga harus bertanya demikian?

Ternyata, tuhan menjawab apa yang menjadi permintaan hambanya. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim dalam sebuah firman yang artinya:’’Ambillah empat ekor burung, hampirkan kepadamu (dan potong-potonglah ia), kemudian masing-masing di letakkan diatas bukit sebagian (dari burung yang telah di potong-potong itu), setelah itu panggillah burung-burung itu, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan segera. Ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Bijaksana.”

Allah Swt memperlihatkan kekuasaannya kepada Nabi Ibrahim sehingga keempat burung yang sudah disembelih dan dihancurkan tulang-tulangnya itu dan diaduk jadi satu, sehingga sulit ditentukan satu persatunya nama-nama dan bagian-bagian anggota burung itu.

Potongan-potongan selanjutnya dibagi-bagi menjadi beberapa tumpukan yang diletakkan di atas bukit-bukit yang saling berjauhan. Namun setelah dipanggil nama-nama burung itu satu persatu, maka berlari-larilah daging, tulang, bulu-bulunya dari bukit yang satu ke  bukit yang lain untuk menjadi burung utuh kembali sebagaimana semula. Dan burung itu terbang menuju ke arah Nabi Ibrahim.

Jika kita renungi bersama, Q.S al-Baqarah (2:260) merupakan isarah ilmiyah, bahwa manusia ditangtang tuhan agar supaya menggunakan intelektualnya sebaik-baiknya. Pesan yang tersirat ialah, untuk membuktikan kebenaran pernyataan tuhan (isarah ilmiyah) dalam al-Qur’an diperlukan penelitian eksperimen. Nabi Ibrahmi ahirnya membuktikannya, daging-daging yang sudah bercampu menjadi satu, ahirnya kembali pada tempatnya masing-masing.

Dalam banyak hal, Nabi Saw seringkali memberikan isarah dalam sebuah pernyataanya. Sholat misalnya, Nabi Saw pernah menuturkan:’’barang siapa yang melaksanakan sholat berjam’ah empatpuluh kali berjama’h, dan setiap jam’ah mendapatkan takbiratul ihram, maka ia akan mendapatkan dua perkara (1) bebas dari sifat nifak (munafik) (2) bebas dari sengatan api neraka.

Untuk membuktikan, maka manusia perlu mencoba sholat berjam’ah selama empatpuluh hari berjam’ah. Jika dilakukan dengan baik, sesuai dengan tuntunan Nabi Saw, bukan hanya terbebas dari sifat munafik dan siksaan api neraka. Tetapi, rahasia sholat empatpuluh hari berjam’ah itu mampu memberikan ketentraman hati, fikiran, kecerdasan intelektual dan spiritual. Bahkan, sholat yang benar secara gerakan-gerakan juga mampu menyembuhkan beragam penyakit, seperti darah tinggi, kanker. Bahkan, dalam sebuah penelitian, sholat yang benar sesuai dengan tuntunan Nabi Saw, bisa meningkatkan sesualitas kaum lelaki. Wallau a’lam

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Cerita Pendek Banget. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s