POLIGAMI AA’ Gym : Sunnah atau Musibah…?

Dalam sebuah berita, AA Gym diberitakan telah bercerai dengan istri pertamanya Teh Ninih. Berita ini membuat kaum wanita meradang, karena AA’ Gym yang dianggab pandai memanaj hatinya, ternyata sekarang mendapatkan cobaan yang lumayan berat, yaitu harus berpisah dengan istri pertamanya. Kaum wanita juga semakin tidak percaya lagi dengan sosok AA’ Gym yang mengembar-gemborkan (MQ Manajemen Qolbu).

Menurut kaum wanita, perceraian itu tidak seharusnya terjadi jika AA’ Gym tidak melakukan poligami. Sebab, menurut mereka poligami yang dilukukan itu nyata-nyata melukai hati Teh Ninih yang sekian tahun menemani sang suami dalam suka dan duka. Seorang wanita mengambarkan:’’ coba lihat perjuangan Teh Ninih, melahirkan putra-putrinya, mendidik, serta membesarkan bersama sang suami’’. Setelah Teh Ninih, terlihat agak tua, ternyata datang seorang wanita yang cantik, menarik, ditenggah-tenggah keluarga. Sebagai seorang lelaki, AA’-pun berniat menduakan istrinya.

Sebagai seorang Agamawan yang sekaligus manusia biasa, ternyata AA’ Gym juga tidak kuat menahan diri. Dengan alasan sunnah Nabi, maka AA’ Gym memberanikan diri menikahi wanita itu alias (ber-poligami). Sebagai wanita sholihah, Teh Ninih tidak mungkin menolak, sebab penolakan itu akan menjadikan Teh Ninih tidak sholihah lagi. Dengan berat hati, Teh Ninih memberikan ijin sang suami menikah lagi, sebab menikah lagi itu hukumnya sunnah. Memang, menurut ulama’ fikih, melaksankan sunnah itu memperoleh pahala, karena ini bagian dari ajaran Nabi Saw.Yang menjadi pertanyaan, apalah poligami yang melulaki istrinya itu termasuk sunnah Nabi?

Benar…!Poligami itu hukumnya sunnah, dengan catatan memiliki tujuan mulia. Seperti, mengetaskan kemiskinan, cari saja janda-janda tua yang memiliki anak, sebagaimana Nabi Saw menikahi Saudah binti Zam’ah. Atau, menikahi seorang wanita karena ingin mengembangkan dakwa islam. Seperti Nabi menikahi istri-istrinya yang memiliki tujuan politis, pendidikan, dan lain-lain. Poligami yang demikian ini bisa dikatakan mengikuti sunnnah Nabi Saw. Jika menikah karena kecantikan, nafsu birahi yang tak terkendali, boleh-boleh saja, asalkan tidak melukai istri yang pertama. Sebab, pada hakekatnya, lelaki memang kadang tidak kuat menahwan libidonya. Kendati demikian, tidak salah jika sang istri menolak dipoligami. Dan, lantas mengatakan bahwa wanita yang tidak dipoligami wanita tidak sholihah…!

Menyoal percereaian AA’ Gym. Memang, bercerai itu boleh, tetapi paling dibenci oleh Allah Swt. Keputusan perceraian AA’ Gym, mungkin sangat berat dan bukan menjadi cita-cita keduanya. Namun, apa boleh buat, ini harus terjadi. Banyak yang mengatakan bahwa perceraian dua insan itu karena hadirnya wanita ke-dua (poligami). Dan, kabar ini memang tidak dibantah, sebab hura hara perceraian itu terjadi, setelah AA’ menikah lagi dengan Teh Rini.

Sebagai seorang wanita, Teh Ninih tergolong perkasa, bagaimana tidak…!  Selama bertahun tahun membangun pesantren, pengajian, usaha (bisnis), dengan sang suami. Suka duka dilalui bersama. Seringkali, AA’ Gym membanggakan istrinya yang setia menemani dalam suka maupun duka. Namun, setelah popularitas telah diraih, financial bergelimang, mobil, rumah sudah cukup. Ternyata, sang suami ingin berbagi cinta dengan wanita yang selama ini dekat dengan dirinya.

Ini sangat menyakitkan bagi Teh Ninih. Dari pada sakit hati, bercerai lebih baik, karena Allah juga membolehkan. Wanita seperti Teh Ninih, merupakan wannita sejati. Dia berani mengambil keputusan, walaupun sangat menyakitkan hatinya. Dia ingin berbahagia dengan anak-anaknya yang setia mendampingi hidupnya, walaupun tanpa suami. Sebab, cinta sang suami ternyata sudah tidak untuknya lagi. Teh Ninih lebih bagahia bersama putra-putrinya di dalam mengarungi sisa-sisa hidupnya. Sisa hidupnya lebih berarti mendekatkan diri kepada-Nya, dengan mencurahkan hati dan fikiranya untuk mereka. Teh Ninih seperti Umu Hanik, yang membaktikan diri buat masa depan anak-anak. Lebih baik berpisah, dari pada ngenes dipoligami sang suami.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Wanita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s