POLIGAMI DAN PENDIDIKAN WANITA

Nabi Saw melakukan poligami bukan karena menuruti nafsu birahi, atau karena tidak kuat menahan libidonya yang sangat tinggi, sebab nafsu Nabi selalu terkendali dengan baik. Terbukti setiap pagi tidak pernah sarapan sampai kenyang, sebagaimana para dai dan kyai masa kini yang gendut-gendut, karena jarang tirakat alias banyak makan. Dan, ternyata beliau Saw rajin beribadah sunnah, seperti; puasa senin kamis, dawud, puasa mutih (al-Biied), puasa muharram, rajab, sya’ban, dan syawwal. Ketika malam tiba, Nabi Saw juga tidak pernah meninggalkan sholat malam, hingga dalam sebuah riwayat dikatakan, bahwa kaki beliau pernah bengkak, karena  rajinnya ibadah sunnah setiap malam. Inilah yang membedakan Nabi Saw dangan para pelaku poligami modern, yang sering meng-atasnamakan Nabi Saw.

Jika ingin meniru Nabi Saw, kenapa tidak memilih puasa, atau sholat malamnya? Bukankah sholat malam, puasa sunnah juga merupakan ibadah yang sangat mulia? Kenapa mesti poligami, dan ternyata melukai hati pasangan setianya yang sekian tahun menemani dalam suka maupun duka?. Jadi, sangat tidak ber-etika, ketika menikah lagi, dengan alasan ingin meniru Nabi Saw, sementara masih banyak ibadah lainnya, seperti sedekah, mengentaskan kemiskinan, sholat tahajut, puasa yang kadang belum sempurna. Pada dasarnya, alasan yang paling pantas untuk dikemukakan ialah” Ya Allah…Saya jatuh cinta lagi kepada wanita itu…? Tidak mungkin aku bisa mendekati dan berdampingan dengan wanita mempesona itu, kecuali setelah aku menikahinya….?

Pendidikan Wanita.

Nabi Saw melakukan poligami karena memiliki tujuan mulia, yaitu meningkatkan Pendidikan Wanita. Sebagaimana beliau menikahi Aiysah ra. Pendidikan adalah karakteristik umat Islam, ini berdasarkan wahyu pertama yang mengisaratkan kepada kita untuk ”membaca” yang artinya kita dituntut belajar[1],hingga mengetahui tuhan sang pencipta alam semesta. Tuhan juga pencipata manusia, dengan mengetahui tuhan maka akan muncul rasa rendah diri bahwa manusia adalah mahluk yang hina, tercipta dari al-Alaq (sperma) yang tiada berguna menjadi mansusia yang sempurna[2].

Di dalam kewajiban belajar mengajar (menuntut ilmu), Nabi tidak membedakan hak dan kewajiban antara laki-laki dan wanita, semua mempunyai kewajiban yang sama.  Aiysah binti Abi Bakar, dialah wanita yang cerdas, menjadi guru kaum laki-laki dan wanita saat itu. Kecerdasan Aisyah membuat generasi semakin pandai nan cerdas saat itu. Rupaya, kecerdasan itu menjadi pilihan dasar Nabi Saw, kenapa beliau Saw menikahinya.

Bisa dikatakan bahwa, tujuan utama poligami Nabi dengan Aisyah r.a adalah melahirkan para pendidik sejati spesialis kaum wanita. Dia adalah satu-satunya wanita (pendidik) yang mampu menjelaskan persoalan kewanitaan, seperti; hukum yang terkait dengan rumah tangga, kewanitaan, haid, nifas, melahirkan, gender, emansipsi wanita, serta pendidikan yang terkait dengan anak dan balita.

Kaum hawa adalah tiang negara sekaligus separuh dari masyarakat. Kaum wanita juga mempunyai beban yang berat seperti halnya kaum lelaki. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan wanita, perlu pendidik khusus agar mereka terarah serta mudah berinteraksi dan berkomunikasi sesama wanita tanpa perasaan malu. Secara umum, saat itu wanita memiliki rasa malu yang lebih dari pada kaum lelaki.

Mereka kadang merasa risih jika menanyakan hukum seputar kewanitaan secara langsung kepada baginda Nabi Saw. Aiysah binti Abi Bakar satu-satunya wanita yang sekaligus perantara otentik dari Nabi yang mampu jelentrehne (menjelaskan secara gamblang) urusan wanita. Aiysah r.a sosok figur yang di didik secara langsung oleh Rosulullah Saw seputar urusan kewanitaan.

Di dalam sebuah literatur, diteangakan bahwa Nabi adalah lelaki yang sangat pemalu[3]. Suatu ketika,  jubah Nabi tersingkap dan terlihat bagian dari kakinya, tiba-tiba wajah Nabi terlihat pucat, keringat dingin membasahinya karena merasa malu. Padahal orang disekitar Nabi adalah kaum pria, apalagi jika ada seorang wanita diantara mereka?

Sifat pemalu Nabi diterangkan di dalam sebuh hadis shohih yang diriwayatkan imam muslim, sebagai berikut:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أشد حياء من العذراء في خدرها وكان إذا كره شيئا عرفناه في وجهه ( رواه مسلم رقم : 2320)

Rosulullah adalah sangat pemalu terhadap perawan disaat menemuinya, raut mukanya kelihat ketika ia tidak menyukai sesuatu[4].

Siti Aiysah r.a yang sekaligus spesialis guru bagi kaum wanita menceritakan. Ada seorang wanita Ansor bertanya  kepada Nabi seputar toharah (cara bersuci) dari haid, maka Nabi mengajarinya bagaimana cara mandi (bersuci) lalu Nabi Saw mengatakan kepadanya,” Ambilah kapas (sepotong kapas), bersihkan dengan kapas itu….!?Wanita itu bertanya lagi, “bagaimana caranya aku membersihkan dengan kapas itu?Nabi menjawab” bersihkan denganya (kapas), wanita itu bertanya lagi,Bagaimana cara membersihkan dengan kapas itu wahai Rosulullah..!? Nabi berkata kepadanya” Subhanawallah (Maha suci Allah), bersucilah dengan kapas itu…maka Aiysah ra, berkata:“aku merebut kapas itu dari tanganya (wanita ansor), lalu aku katakan kepadanya” letakan kapas ini pada itu dan itu….dan lihatlah bekas darahnya, dan jelaslah bagian tempat yang di maksudkan….!?

Umi Sulaim (istri Abi Tolhah) juga meriwayatkan dari kitab Bukhori Muslim, telah  diceritakan bahwa:“umi Sulaim datang ke Rosulullalh Saw dan berkata kepadanya “Ya Rosulullah….!? Sesungguhnya Allah itu tidak malu pada suatu kebenaran (menjelaskan kebenaran). Apakah kewajiban mandi bagi seorang wanita tatkala ia bermimpi? maka Nabi menjawab:Iya, kalau wanita melihat air[5],” Penjelasan Nabi terhadap dua pertanyaan dua wanita terkesan kurang mengena, sehingga sang wanita mengulangi pertanyaanya, itu-pun masih belum jelas, sehingga Aiysah r.a langsung turun tangan untuk jelentehne cara bersuci yang benar.

Dari redaksi hadis di atas, dapat kita ambil hikmahnya bahwa kehadiran siti Aiysah sebagai pendamping Nabi Saw memberikan kontribusi besar terhdap penjelasan seputar hukum-hukum islam. Khususnya terkait dengan urusan kaum wanita. Apalagi wanita pada waktu itu masih relatif rendah tingkat pendidikanya, ini tercermin pada kedua wanita di atas. Hadirnya Siti Aiysah r.a, menjadikan wanita lebih leluasa mempertanyakan urusannya, dengan demikian lahirnya wanita-wanita cerdas di bawah bimbingan istri Nabi Saw.

Andaikata, tokoh ulama’ (Kyai dan Ustad) atau masyarakat, pejabat dan pengusaha menikah dengan tujuan mulia. Mereka memilih wanita yang cerdas serta mampu memberikan konribusi besar terhadap perkembangan islam dikemudian hari. Beberapa daerah konflik, seperti Ambon, Irian jaya, serta daerah ketinggalan lainya adalah medan bagi mereka di dalam mempraktekan pologami yang sesuai dengan semangat pendidikan agama dan dakwah. Wanita muslimah dari daerah konflik dan ketinggalan itu kelak akan mampu mewarnainya dengan nilai-nilai agama.

Jadi, terasa aneh jika praktek poligami dengan mengatasnamakan sunnah nabi, tetapi tidak ada nilai sedikitpun yang diajarkan Nabi. Apalagi wanita yang dipilih adalah lebih cantik, menarik, muda, sebagaimana AA’ Gym menikahi Teh Rini. Pada awalnya, Teh Ninih tidak masalah, tetapi lama-kelamaan, perasaan cemburu akan selalu menghantuinya, yang ahirnya tidak kuat menahan gejolak jiwa. Apalagi, sudah bertahun-tahun mengharungi bahtera rumah tangga yang penuh dengan suka dan duka. Sungguh berat menerima ini, karea lelaki yang selama ini mendapinginya, ternyata harus berbagi cinta dengan wanita (istri keduanya). Mestinya, sunnah Nabi itu membawa berkah bukan membawa kesengsaraan. Tentunya, ajaran Nabi seputar poligami tidak demikian, sebagaiman Nabi contohkan menikahi Aisyah.

 


[1] . Belajar wajib hukumnya bagi setiap orang islam, baik laki-laki atau wanita. Bahkan Nabi mengisaratkan didalam sebuah hadisnya bahwa belajar itu tidak ada batasan waktu, dimulai sejak lahir sampai meningalkan dunia fana’.

[2] . Segumpal darah yang menempel pada rahim seorang wanita, sebelum menjadi al-alak disebut dengan nutfah (sperma).

[3].Al Maliki, Sayyed Muhammad, Muhammad al-Insan al- Kamil, hal 142 – Cetakan ke 10, Matoliu al-Rosid- al-Madinah Al Munawarrah.

[4] .Muslim bin Hajjaj, Al Naisaburi, Shohih Muslim, 4/1809 – Dar Ihya’ Al Turost Al Arabi, Beirut.

[5] . Al Bukhori, Muhammad bin Ismail, al-Jami’ Al Shohih Al Mukhtasor, no hadis  130, 1/60-Dar Ibnu Katsir, al- Yamamah-Beirut -1407 – 1987

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Wanita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s