Ketika Sepak Bola Menjadi Kendaraan Politik?

Bergulirnya LPI yang ditayangkan Indonesiar dan Metro TV membuat masyarakat merasa aneh. Sebab, Metro TV secara tiba-tiba menyiarkan laga Persebaya VS Bandung FC. Permainan itu sangat luar biasa jumlah penontonya, walaupun kualitas permainan jauh dari professional. Apalagi, penampilan wasitnya yang masih terkesan belajar menjadi wasit. Permainan tadi malam tidak lebih baik dari divisi utama ISL, walaupun finansialya lebih baik dari pada LPI. Yang jelas, permainan yang ditayangkan stasion telivisi Indosiar dan Metro TV benar-benar memberikan hiburan rakyat yang menyenangkan. Di sisi lain, sebagian masyarakat mengkhawatirkan penayangan LPI di dua TV swasta ini ada unsure politis di dalamnya.

Fenomena sepakbola Indonesia memang benar-benar mengkhawatirkan. PSSI, sebagai induk sepakbola Indonesia sudah tidak digubris lagi, karena sang ketua Nurdin Kholid belum mengundurkan diri. Walaupun banyak suara-suara lantang yang terang-terangan tidak suka Nurdin Kholid. Tetapi, ternyata suara-suara itu tidak membuat Nurdin Kholid berubah fikiran, walaupun Kang Nurdin pernah mengatakan akan mundur jika Indonesia gagal meraih juara. Saya yakin, Nurdin tidak lupa, hanya saja proses turunnya Nurdin juga harus melalui proses, bukan tiba-tiba turun begitu saja.

Partai politik…..! katanya teman-temanku, politik itu artinya;’’ polisi di itik-itik (geli). Saya hanya bisa menjawab’’ Lebay….! Apa jadinya, jika politisi membuat konsorsiuam sepakbola? Wow….atau menjadikan sepakbola menjadi kendaraan politik elit politik? LPI (Liga Primer Indonesia), memang bukan partai politi, tetapi jika Liga Primer Indonesia ini mampu dikelola dengan baik. Apalagi, jumlah peserta semakin banyak, yang otomastis supporternya semakin banyak pula. Menurut analisa saya, ini sangat menguntungkan.

Ada 19-20 peserta LPI (Liga Primer Indonesia) yang menyebar di seluruh tanah Air. Jika masing-masing memaliki pendukung 10-20 ribu. Dan, masing-masing memiliki hak suara. Jika setiap orang memililih salah satu kandidar walikota, bupati, gubernur, yang selanjutnya presiden. Tidak menutup kemungkinan, kelak sang pencetus itu dengan mudah menuju kursi RI 1. Sebab, jika di pandang dari sudut pandang politik, semua itu bisa terjadi. LPI menjadi salah satu investasi social untuk meyakinkan masyarakat yang sedang demam sepakbola. Lihat saja, para pengemar sepakbola, bukan hanya dari kalangan lelaki, tetapi Ibu-ibu juga ikut serta, karena karisma Irfan Bachdim yang menarik itu sedang naik daun.

Pertarungan politik dengan mengendarai sepak bola mulai kentara, ketika dua stasion telivis (Indonesiar dan Metro TV). Metro TV merupakan salah satu layar kaya milik pengusaha kelas elit (Surya Paloh) yang juga penggagas Nasdem (Nasioal Demokrat). Sedangkan Indonesiar, sahamnya juga milik orang hebat dan kuat secara financial. Dan, TV One yang getol menyiarkan perkembangan Timnas, tidak lain karena milik keluarga Bakri, begitu juga ANTV yang notabena menyiarkan ISL. Weleh…weleh….weleh…..!Muatan politiknya begitu kental dalam sepak bola Negeri ini.

Lantas bagaimana jalan keluarnya…..!? sulit dan sulit….!teman-temanku bilang, madesu (masa depan suram). Mau membela PSSI, ternyata Nurdin Kholid bersikukuh dengan pendirianya. Sementara, masyarakat sepakbola semakin tidak suka, dengan alasan:’’ mantan narapidana…., tidak propesional, gagal terus, dan yang paling menarik, karena dia orang Golkar.

Masyarakat binggung, mau membela LPI, ternyata juga tidak kalah jeleknya. Bagaimana tidak, orang-orang asing, seperti; Luciano Leandro juga ikut serta mejelak-jelakkan PSSI, padahal dia orang asing. Berani sekali dia http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2011/01/11/001100/1543634/76/luciano-leandro-bicara-soal-lpi-pssi). Di sisi lain, LPI juga tidak ada kelanjutannya. Apa artinya menand di LPI, jika tidak bisa masuk timnas, serta tampil di ajang internasioal?

Seperti buah simalakama. Berdirinya LPI tidak lepas dari intrik-intrik politik di dalamnya.  Sebab, pemain-pemainnya memang pencinta sepakbola, tapi jangan lupa, mereka juga bagian dari partai politik tertentu. Dan, esensi dari sebuah politik ialah bagaimana meraih sebuah kekuasaan. Sepak bola, sekarang seolah-olah menjadi kendaraan baru itu mencapai sebuah kekuasaan.

Di sisi lain, tidak menutup kemungkinan jika kelak, ada penyelanggaraan Voli Tandingan, Bulu Tangkis tandingan, Pencak Silat tandingan. Jika LPI bisa, kenapa yang tidak bisa? Yang penting memiliki dana, dan ada badan yang mengesahkanya. Tetapi, semoga olahraga di Indonesia tidak menjadi kendaraan politik partai tertentu. Ini sangat membahayakan atlet, masyarakat, dan masa depan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Wallahu a’lam

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s