MANFAAT KURMA AJWAH

Di dalam sebuah penelitiannya, Prof. Prefesor Gregory Cochran dan Henry Harpending yang diterbitkan pada 2005, menemukan bahwa orang Yahudi ternyata suka mengkonsumsi Kurma di campur dengan susu. Menurutnya, kurma yang dicampur dengan susu itu bisa membuat anak menjadi cerdas. Secara geogrfis, letak Israil memang mudah sekali untuk mendapatkan kurma. Sebab, kurma itu hanya bisa tumbuh dan berbuah pada tempat yang kering. Jadi, kemungkinan kecil sekali pohon kurma bisa tumbuh dan berbuah di Indonesia.

Makkah dan Madinah adalah tempat ritual haji. Dan, setiap jama’ah haji di kota suci Makkah sudah tentu mendapatkan kurma. Tetapi, tidak semua jama’ah haji suka menyukainya. Sebab, mereka tidak tahu jenis-jenis kurma, apalagi manfaatnya bagi kesehatan. Kurma itu bermacam-macam, seperti ; Balach, sukkari, rabi’ ajuwa, dan rutab. Kurma yang selalu digunakan itu berbuka puasa ialah ‘’rutao dan ajwua’’. Rutab ialah kurma yang basah, rasanya enak dan lezat sekali. Kurma itu menjadi makanan pokok sejak dulu, hingga sekarang bagi orang-orang Arab pada umumnya. Rutab itu terasa lezat nan nikmat ketika digunakan berbuka puasa.

Disamping mencerdaskan, ada salah satu kurma yang memiliki ke-istimewaan. Kurma itu bernama ‘’Ajwah’’ atau Ajwua’’. Kurma ini menjadi buah kesukaan Nabi Saw, sebab kurma ini bisa menjadi penangkal racun dan ilmu hitam (sihir), seperti; santet, pelet, gunan, gendam dll. Oleh karena itu, para Guide Haji, selalu mengajak jama’ah haji ke pasar kurma. Merekapun menjelaskan seputar khasiat kurma Ajawah, walupaun belum pernah membuktikannya. Dan yang paling ironis, Guide itu tidak tahu asal usul kenapa dinakam kurma AJWAH, serta dalilnya.

Ajwah itu berasal dari berasal dari nama seorang anak kecil ‘’AJWAH”. Ajwah adalah nama seorang putri dari Salman Al-Farisi, seorang sahabat Nabi yang berasal dari Persia. Kecintaan Salman kepada Nabi Saw membua loyalitas kepada islam begitu tinggi. Puncaknya, Salman mewakafkan sebidang kebun kurmanya untuk biaya perjuangan islam. Untuk mengenang jasa-jasanya itulah, ahirnya Nabi Saw memberi nama kurma tersebut dengan ‘’AJWAH”. Dan, Nabi Saw menjadikan kurma ini sebagai pembuka makan ketika sedang berpuasa.

Menurut medis, kurma Ajwah itu ternyata memiliki kandungan protein 1.8-4.0 %, serta serat 2.0 – 4.0, dan gula sebanyak 50-70 glukosa. Wajar, jika Nabi Saw menganjurkan dan mencontohkan mengkosumsi kurma Ajwah setiap berbuka puasa. Dan, cukup dengan kurma  dan air zam-zam penduduk Makkah dan Madinah tergolong  sehat wal afyat. Kurma termasuk jenis dari buah-buahan yang kaya akan protein, serat gula, vitamin A dan C, serta mineral, seperti: zat besi, kalsium, sodium dan potassium . Terkait dengan khasiat kurma Ajawah, Nabi Saw menuturkan:’’

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرُّهُ فِى ذَلِكَ الْيَوْمِ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ » . أطرافه 5768 ، 5769 ، 5779 – تحفة 3895(

Artinya:’’Barang siapa yang makan pagi dengan tujuh butir kurma Ajwah, maka tak akan mencelakainya racun dan sihir dihari itu”. (Riwayat Shahih Al-Bukhari).

Di dalam sebuah pernyataan, ada seseorang yang membenci islam menanggapi hadis ini dengan mengatakan”Wahai orang islam, coba kalian makan kurma itu, lantas minum DDT (racun). Jika tidak mati, maka Nabi kalian benar. Jika kalian mati, maka Nabi kalian berbohong.  Sebenarnya, pernyataan ini tidak perlu muncul, sebab jelas-jelas akan menimbulkan dampak yang kurang bagus. Tetapi, apa boleh buat. Realitasnya memang masih ada kebencian-kebencian itu. Dan, tentunya ini tidak perlu dibalas dengan kebencian.

Nilai keberkahan kurma ‘’AJWAH’’ ini karena Nabi sendiri yang menanamnya. Sebab, semua yang yang terucap, serta yang diperbuat Nabi Saw merupakan wahyu ilahai. Nabi Saw menganjurkan memakan kurma Ajwah 7 butir setiap pagi. Barangkali, kandungan tujuh butir Kurma Ajwah itu mampu menetralisir jenis-jenis racun yang masuk dalam tubu. Dan, sihir yang lancarkan seseorang dengan senggaja, juga tidak bisa mengenai orang yang memakan kurma setiap pagi. Menurut sebuah cerita, pohon kurma Ajwah ini masih  di dapat di Madinah hingga sekarang. Jadi sudah lebih dari 14 abad atau 1429 tahun sejak pertama kali di tanam oleh Rasulullah Saw, jumlahnya hanya sekitar seratusan pohon. Wallau a’lam

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s