Indahnya Kemesraan Nabi Saw

Nabi Saw. tidak hanya memberikan teladan terhadap ibadah mahdoh (murni) seperti; shalat, zakat, puasa dan haji. Akan tetapi, nilai-nilai keteladanan meliputi semua aspek kehidupan. Mulai kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat bahkan bernegara (pemimpin). Menngingkat pentingnya semua aspek kehidupan Nabi Saw.. Dalam hal ini, penulis ingin menyampaikan bagaimana baginda Nabi Saw. mengatur keluarganya serta menkondisikan keluarganya selalu harmonis, romantis, serta mesra, dan bagaimana mengatasi problematika yang sedang terjadi di dalam keluarga. Nabi sangat cerdas di dalam beriterasksi dengan istri-istrinya dikala suka atau duka, bahkan dibeberapa literatur hadis, Nabi Saw. memberikan contoh bagaimana bermesraan dengan istri-istrinya.

Sebagai orang Arab, yang sejak kelahirnaya memang berkembang pesat sastra dan tata cara Arab. Sudah barang tentu Nabi yang snagat cerdas akalnya, jernih hati dan jiwanya memahami betul bahasa Arab. Orang Arab paling suka mengungkap perasaan suka, duka, cinta dan asmara dengan menggunakan syair. Nabi Saw. menyukai syair-syair yang tidak ghozal (kosro).

Kendati demikian, perkembangan sastra begitu sempurna hingga mencapai puncaknya. Tal satupun bahasa mampu menandingi sastra Arab kala itu. Hingga kemudian di turunkan Al-Quran sebagai wahyu kepada Nabi. Al-Qur’alah yang mampu menandingi kehebatan penyair-penyair Arab Jahiliah kala itu.

Banyak ungkpan-ungkapan mesra nan indah yang di lantunkan lewat sebuah syair pada masa Jahiliah terhadap kekasihnya. Lihat saja seorang syair ketika mengungkap rasa cinta kepada kekasihnya;’’

Cukuplah hati ini menjadi saksi untuk mencintaimu : Karena hati lebih dipercaya untuk menjadi saksi’’

Dalam syair lain, seorang laki-laki mengungkap perasaan hatinya kepada kekasihnya yang bernama Laila;’’

Aku berjalan mengelilingi dinding rumah Laila; Lantas aku menciumi, dan mencium dinding rumahnya;

 

Yang membuat aku tergila-gila, bukanlah rumhanya tetapi penghuni rumah yang membuatku mabuk kepayang.

Di atas adalah penggalan-penggalan syair oang-orang Arab yang terkait dengan asmara dan cinta. Nabi Saw. faham sekali bagaiamana orang Arab mengungkpkan rasa cinta, asmara, dan mesra kepada kekasuhnya. Memang, pada dasarnya, orang Arab itu sangat romantis, jika memuji kekasih hatinya. Dan wanita adalah kaum yang paling suka dipuja lewat sentuhan bahasa. Wajar sekali jika Nabi mengajari para pengikut setia agar supaya bersikap lembut dan manis kepada istrinya. Nabi sendiri sangat lembut nan mesra kepada istri-istrinya, baik ketika menyapa, memanggil, atau mengaulinya.

Kemesraan Nabi Saw Bersama Aiysah ra

Walaupun usia Rasulullah Saw. sudah senja (lansia), beliau tetap merasakan pentingnya bermesraan dengan istri. Karena Nabi Saw. sangat memahami karakter wanita yang selalu membutuhkan cinta, belaian serta kasih sayang seorang suami. Sehingga beliau pun mempraktekkannya untuk menghiasi hari-harinya dengan penuh kemesraan dengan istri-istrinya. Ini tecermin dalam keterangan hadis-hadis, yang banyak diriwayatkan oleh Aisyah r.a.

Kebanyakan pasangan, jika usia sudah lansia, kadang tidak romantis nan harmonis, apalagi bermesraan seperti waktu muda, atau dikala waktu kemantin baru. Memanggilnya saja, juga tidak lagi seindah dahulu ketika masih baru bertemu. Ini disebabkan karena masing-masing sudah tidak lagi bernafsu, karena umurnya sudah tua renta, organ-organ tubuhnya juga sudah tidak berdaya. Yang dulunya kuat, cerdas, gagah perkasa, namun ketika usia lansia semua menjadi sirna, bahkan hanya menjadi sebuah cerita.

Tetapi, tidak dengan Nabi Saw.. Beliau tetap memelihara cinta serta kasih sayang kepada pasanganya, baik lewat ungkapan, ucapan, serta prilaku sehari-hari. Setiap menjelang tidur, Nabi Saw. selalu sekamar dengan istri-istrinya. Dalam hal ini, sang istri Aisyah r.a menuturkan:

حدثنا أبو الوليد قال حدثنا شعبة عن أبي بكر بن حفص عن عروة عن عائشة قالت كنت أغتسل أنا والنبي صلى الله عليه وسلم من إناء واحد من جنابة: ( رواه البخاري رقم 260 )

Diriwayatkan dari Abu al- Walid, ia mengatakan; telah menceritakan kepadaku: su’bah yang didapatkan dari Abi Bakar bin Hafs, diriwayatkan dari Aisah R.A, beliau mengatakan; Sya waktu itu sedang mandi, saya dan Nabi bersama-sama mengambil air dari satu bejana ketika sedang Jinabat.

Dalam redaksi lain, telah diceritakan pula dari Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah Saw. dan ‘Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Karena saya haidh, wahai Rasulullah.’ Sabdanya, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau.” (HR Sa’id bin Manshur).

Apa yang diceritakan Aiysah r.a di dalam hadis di atas adalah pelajaran berharga bagi kaum lelaki. Usia boleh bertambah, tetapi kasih sayang dan kemesraan mesti dijaga dengan sebaik-baiknya. Baik di dalam mengungkapan kata-kata, prilaku sehari-hari, bahkan ketika ditempat tidur juga mesti bersama-sama. Bukan untuk memenuhi kebutuhan biologis, tetapi membuktikan cinta sejati yang tidak pernah berubah sepanjang hidupnya, yang berakhir sampai ajal menjeputnya.

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Wanita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s