Ketika Pejabat Terperdaya Nafsunya

Dunia serta keindahannya benar-benar membuat manusia ingin abadi menikmatinya. Keindahan itu membuat manusia lupa dan terbuai dengan pesonanya. Pernak pernik dunia itu membuat manusia lupa akan sang pencipta. Q.S Ali Imran (3:14) menjelaskan dengan gamblang seputar kesenangan dan keindahan dunia, sebagaimana firman-Nya yang artinya:’’ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Dalam dunia modern, seringkali seorang wakil rakyat mengatakan bahwa dirinya masuk kancah politik praktis ingin membela kepentingan rakyat kecil dan tidak berdaya. Tetapi, nyatanya mereka justru mengumpulkan harta benda. Mobil mewah, rumah megah, perabotan rumah serba wah, aksesioris serba indah. Mereka lupa, bahwa itu semua merupakan keringkat rakyat yang melarat. Tetapi, bukanya mereka waspada dan semakin ingat kepada tuhan. Malah, mereka semakin menjadi dan menuntut agar gaji semakin dinaikan lagi. Protes keras dilontarkan, ketika pemerintah mengatakan:’’ sudah tujuh tahun gaji presiden tidak naik’’. benarkah protes itu mencerminkan suara rakyat, atau justru karena rasa benci dan iri?

Tidak sedikit dari para pejabat, mulai tingkat eksekutif hingga legislative berlomba-lomba mengumpulkan harta semasa menjadi pejabat. Korupsi, selingkuh, koleksi emas permata, koleksi keris, koleksi kuda, koleksi benda-benda antik, serta koleksi wanita (poligami) menjadi sebuah fenomena para pejabat negeri ini. Sementara, jeritan rakyat yang tinggal di kolong jembatan, serta rakyat lemah tergolek dirumah sakit  tidak pernah mereka fikirkan. Seandainya koleksi-koleksi mereka digunakan utuk kepentingan rakyat jelata, itu merupakan perjuangan yang tidak ternilai harganya. Dari pada mereka berkoar-koar didepan media masa dengan menjelek-jelekan orang lain, sementara dirinya mengumpulkan harta benda. Bukankah ini merupakan sebuah omdo (Omong doing Belaka?)

Kecintaan terhadap dunia telah menutup mata dan hatinya. Jabatan hanyalah sebuah alat untuk pencitraan diri, mengumpulan gaji, bahkan ada yang korupsi, hanyalah untuk hidup lebih layak di masa mendatang. Manusia mengira, bahwa harta benda itulah yang bisa membuat bahagia dan abadi. Tetapi, jutsru harta itu juga yang mengiring mereka menujua prodeo. Sebagaimana drama masuknya para elit politik PDIP dan Golkar, dan PPP. Nikmat memang kenikmatan harta itu, hingga berjujung pada jeruji besi.

Seorang ulama besar, penulis kitab al-Hikam mengatakan:’’ keinginanmu terhadap kekalnya sesuatu (harta, wanita, jabatan, kendaraan) selaian Allah menjadi bukti bahwa engkau belum bertemu dengan-Nya. Kerisauanmu lantaran kehilangan sesuatu selain Allah menjadi bukti bahwa engkau belum sampai kepada-Nya. Manusia telah terperdaya, dan terpesona dunia dan keindahanya. Jika mereka mengatakan cinta kepada-Nya, cinta itu palsu. Jika mereka mengatakan mengabi kepada Negara, pengabdian itu hanyalah omong kosong belaka.

Menjadi pejabat Negara kok masih menajakan nasfu birahi, nafsu perut, nasfu politiknya. Nafsu-nafsu itulah yang menjadikan mata tertutup, sehingga tidak bisa melihat kebenaran. Telingga juga tertutup, sehingga tidak bisa mendengar jeritan rakyat jelata yang sakit, dan sulit mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hatinya juga mati, sehingga tidak mampu merasakan apa yang dirasakan orang melarat. Bagaiamana mungkin, mereka mengatakan study banding dengan milyaran rupiah, dengan mengatasnamakan rakyat, sementara rakyatnya menjerit kekurangan pangan?

 

Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di pesan sahabat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s