Jangan Lupa Minta Do’a Ibu

Do’a adalah ibadah yang sangat agung. Do’a juga menjadi senjata pamungkas orang-orang mukmin sejati. Tidak satupun dari seorang Nabi, kecuali mereka senantiasa berdo’a kepada-Nya, siang maupun malam. Sahabat Nabi, serta para ulama’ juga tak henti-henti bermunjat kepada Allah Swt. Yang membedakan antara orang awam dengan ulama’ ialah, bahwa para ulama’ itu senantiasa bedo’a untuk kepentingan ahiratnya. Sementara, sebagian orang awam ketika berdo’a lebih terfokus pada urusan duniawi saja.

Sesungguhnya, do’a tidak tidak boleh dipanjatkan kecuali kepada Allah Swt. Hal ini dijelaskan oleh Allah Swt:’’ berdo’alah kepadaku, niscaya aku kabulkan’’. Nabi Saw menuturkan:’’jika kalian meminta (berdo’a), maka mintalah kepada-Nya, jika kalian memohon pertolongan, maka memohonlah kepada-Nya. Dan, Allah Swt termasuk memiliki sifat ’’al-Somad’’ yang artinya tempat bergantung. Jadi, tidak ada tempat untuk mencurahkan semua masalah, kecuali kepada Allah Swt. Hanya saja, sebuah permintaan itu harus benar-benar khusu’, merasa butuh, sungguh-sungguh, serta harus dalam keadaan suci dari hadas kecil dan besar. Terahir, manusia harus pasrah atas ketentuan Allah Swt.

Pada hakikatnya, doa itu menunjukkan ketergantungan seorang hamba kepada penciptanya Allah Swt, karena manusia tidak bisa terlepas dari-Nya. Mengakui atas ketidak berdayaan dan keterbatasan dirinya. Dan, hanya kepada-Nya, tempat menyembah dan meminta pertolongan. Semua yang dilakukan manusia pada hakekatnya adalah di bawah kekuasanya yang mutlak tanpa batas, ruang dan waktu. Do’a juga merupakan tanda pengabdian diri secara totalitas kepada Allah, oleh karena itu di dalam redaksi sering kali kita temukan” Allahumma, Ilahi, Ya Robbi, ). Yang artinya suatu permohonan dari seorang hamba kepada penciptanya. Dengan do’a manusia mengakui akan dirinya atas ketidak berdayaan, dan hanyalah Allah semata yang pantas untuk dipintai.

Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk berdo’a (meminta) urusan dunia dan akhirat. Allah suka dipuji, karena dialah yang berhak dengan puji-pujian. Nama-nama Allah yang jumlahnya 99 (asmaul al-Husna), diperbolehkan untuk dijadikan do’a sebagaimana perintah-Nya. Nabi Muhammad adalah Nabi Swt yang mengakui akan ketidak berdayaan sebagai seorang manusia biasa, beliau sering meneteskan air mata ketika menyebut keagungan nama-Nya. Oleh sebab itu Rasulullah Saw menuturkan: ”Doa itu adalah pokonya ibadah.’’ (HR. Tirmidzi). Manakala bermunajat, berdo’a kepada Allah Swt, tangan Nabi Saw diangkat tinggi sebagai bukti bahwa beliau sangat butuh pertolongan Allah-Nya.

Beliau sangat menyukai kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat dengan makna dan juga menyukai ucapan-ucapan do’a.  Di antara doa Rasulullah S.w adalah: ”Ya Allah, tolonglah daku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Elokkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Elokkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim).

Di antara doa beliau adalah ”Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Ya Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku melakukan kejahatan terhadap diriku atau yang aku tujukan kepada seorang muslim lain.’’ (HR. Abu Daud).

Demikian pula doa berikut ini: “Ya Allah, cukupilah aku dengan rizki-Mu yang halal (supaya aku terhindar) dari yang haram, per-kayalah aku dengan karunia-Mu (supaya aku tidak meminta) kepada selain-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)

Di antara permohonan beliau kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Ya Allah, ampunilah dosaku, curahkanlah rahmat-Mu kepadaku dan temukanlah aku dengan teman yang tinggi derajatnya.” (Muttafaq ‘alaih).

Sebenarnya, tanpa berdo’a Nabi Saw sudah bisa berbuat, karena Nabi mendapat jaminan surga serta bersiah dari segala dosa-dosa. Kenapa mesti berdo’a dan menangis memohon kepada-Nya setiap saat. Nabi tak henti-heti berdso’a siang dan malam, pagi dan sore, ketika sedang suka atau duka. Semua do’a yang panjatkan Nabi hanyalah sebuah cotoh, bahwa seorang Nabi saja senantiasa berdoa’a bagaimana dengan kita, tentunya lebih rajin memohon kepada-Nya.

Disamping berdo’a dengan khusu’, serta dengan cucuran air mata. Tentunya, lebih afdal ketika berdo’a (bermunjat) setelah menunaikan sholat malam. Sebab, ditenggah keheningan malam itu, manusia bisa ber-interaksi dengan Allah Swt dengan tenang. Bagi, orang yang masih memiliki orangtua (ayah dan Ibu). Sesungguhnya, do’a Ibu merupakan cerminan sura tuhan. Oleh karena itu, Nabi Saw menuturkan;’’ ridho Allah terletak pada ridho-Nya’’. Jangan lupa, setiap urusan atau masalah yang akan dihadapi juga meminta do’a restu orangtua, khususnya Ibunda. Beruntung sekali, bagi siapa saja yang masih memiliki ibunda. Wallau ’alam


Tentang Abdul Adzim

Abdul Adzim Irsad, telah menyelesaikan pendidikan sarjana bahasa Arab di Umm Al-Qura University Makkah, sekarang sedang menempuh program S3, jurusan pendidikan bahasa Arab di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan Anak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s